RSS
Showing posts with label Indahnya Membina. Show all posts
Showing posts with label Indahnya Membina. Show all posts

Aku Tahu Ini Cinta



Aku tahu ini cinta. Mungkin bukan cinta yang pertama, karena aku pun tak yakin kapan pertama kali  aku menyadari rasa cinta kepada orang lain. Mungkin juga ini bukan cinta satu-satunya, karena dalam satu waktu aku tidak hanya mencintai satu orang. Dan sangat mungkin ini bukan cinta pada pandangan pertama, karena entah kapan dimulainya, semakin hari perasaan ini semakin kuat.


Siapakah orang yang kucintai ini? Yang kucintai adalah kuncup-kuncup bunga, yang semakin hari kelopaknya mekar semakin lebar dan indah. Dan siapakah yang kumaksud dengan kuncup-kuncup bunga? Sebagian orang mungkin menyebutnya dengan mentee, atau binaan, atau mutarobbi, atau sebutan lainnya lagi. Tapi bagiku adik-adik ini adalah kuncup bunga. Istilah kuncup bunga mungkin tidak benar-benar asli ideku. Aku menirunya dari murobbiyahku yang pertama di kampus ini. Ketika beliau pergi ke luar kota untuk melanjutkan ke fase kehidupan yang berikutnya, beliau mengirimi masing-masing dari kami surat cinta. Dalam surat cinta itu beliau menyebut kami sebagai kuncup-kuncup bunga yang kini telah mekar, dan memiliki panggilan istimewa untuk masing-masing dari kami. Untukku, aku mendapatkan sebutkan ‘cheerful girl’.  Sungguh surat cinta itu sangat berkesan bagiku.

Dan sekarang sepertinya aku mulai paham bagaimana perasaan beliau saat itu. Bagiku mereka adalah kuncup-kuncup bunga yang menanti waktu yang sempurna untuk mekar, dan aku mencintai mereka semua. Bagaimana aku tahu bahwa ini cinta? Ya, aku yakin ini cinta. Karena setiap kali mengingat mereka, hatiku akan bergetar dan aku akan tersenyum. Bahkan sekarang, ketika aku menuliskan ini, aku tersenyum mengingat mereka satu per satu.

Pernah dulu aku mengirim sms untuk adik-adikku yang kuakhiri dengan kalimat ana uhibbuki fillah. Sebagian besar dari mereka menjawab ana uhibbuki fillah atau luv u too ‘coz Allah. Namun ada satu orang yang jawabannya sangat berbeda. Dia membalas “memang atas dasar apa mba bilang cinta? Maaf, sekarang sangat banyak orang-orang yang mengumbar kata cinta tapi hanya di mulut”. Deg... Untuk sepersekian detik aku lumayan kaget dengan pertanyaan sekaligus pernyataan itu.. dan kemudian aku berpikir, apa bukti bahwa aku mencintai mereka? Akhirnya aku menemukan jawabannya, yaitu tiap kali aku mengingat mereka, hatiku akan bergetar dan secara otomatis aku akan tersenyum. Tidak jarang aku senyum-senyum sendiri ketika membaca sms, dan biasanya orang yang sedang ada di dekatku akan bertanya “hayooo.... baca sms dari siapa??”. Mungkin (cuma mungkin lho..).  mereka berpikir itu sms dari lawan jenis. Tapi bukan, sms yang sering membuatku senyum-senyum sendiri ketika membacanya adalah sms yang dikirimkan oleh adik-adikku. Tanda-tanda lain bahwa rasa ini memang cinta adalah aku akan sangat merindukan mereka ketika lama tak bersua. Rasanya ingin segera bertemu mereka. Entah itu bertemu ketika pertemuan resmi (baca: halaqoh) ataupun ketika bertemu secara kultural. Hatiku juga akan berbunga-bunga ketika menerima hadiah-hadiah dari mereka, karena itu tanda kasih mereka. Dan yang paling membuatku yakin bahwa aku mencintai mereka adalah aku merasa sangat sangat berat ketika tiba waktunya untuk berpisah dengan mereka. Kalau bisa memilih, aku akan memilih untuk terus membersamai mereka, karena hati ini terasa sakit ketika memikirkan akan berpisah dengan mereka. Tapi tentu saja apa yang kuinginkan belum tentu menjadi yang terbaik untuk mereka, dan aku harus berlapang dada untuk berpisah dengan mereka. Itu tadi beberapa tanda yang menurutku merupakan tanda-tanda cinta, sehingga aku yakin bahwa yang kurasakan adalah benar-benar cinta, bukan sekedar ucapan di lisan. Tentu saja ada tanda-tanda lainnya, tapi sepertinya tidak perlu kuceritakan di sini.

Lalu, bagaimana cara aku memperlakukan kuncup-kuncup bunga yang sangat kucintai ini? Pertama kali aku merasakan pengalaman membina adalah hampir empat tahun yang lalu. Ketika itu aku diamanahi untuk menjadi pemandu kelompok mentoring fakultas, yang pesertanya adalah adik-adik yang angkatannya satu tingkat di bawahku. Kombinasi kelompok ini sangat unik. Ada beberapa anak yang sudah memakai jilbab, walaupun masih minimalis. Ada pula yang memakai cadar(walaupun ketika di kampus cadarnya dilepas), dan ada beberapa yang belum berjilbab. Pada awalnya aku sempat bingung bagaimana harus memperlakukan mereka. Untungnya saat itu diadakan training untuk para pemandu. Ada satu analogi menarik yang disampaikan oleh sang trainer, yang masih sangat kuingat sampai sekarang, yaitu seperti ini: 
“Bayangkan di sini ada teko, air, gelas, sendok, teh, gula. Kira-kira sebagai pemandu kalian memposisikan diri sebagai apa?” 
Jawaban yang muncul sangat beragam. Kemudian sang trainer memberi penjelasan. Ketika kita menempatkan diri sebagai teko, lama kelamaan teko ini akan kosong karena isinya terus menerus dituang ke gelas. Ketika menjadi air, seolah-olah kita menganggap binaan kita sebagai gelas yang benar-benar kosong, dan itu tidak mungkin. Bila kita menempatkan diri sebagai gelas, lama-lama gelas ini akan luber bila terlalu banyak isinya. Paling tepat adalah ketika kita menempatkan diri sebagai sendok. Anggaplah teko, gelas, air, gula, dan teh itu adalah potensi yang sudah ada dalam diri adik-adik kita, dan di sinilah peran kita sebagai sendok, yaitu untuk meracik segala potensi tadi menjadi kombinasi yang luar biasa.

Analogi itulah yang hingga kini kutanamkan secara kuat dalam benakku. Aku ibarat sendok. Jadi bagaimanapun potensi yang dimiliki adikku, aku tidak boleh merasa rendah diri. Bukan berarti dengan begitu aku tidak perlu menambah kafaahku. Aku harus terus menerus menambah kafaahku, namun aku tidak akan membiarkan kelemahan-kelemahan yang kumiliki membuatku menjadi minder dan tidak layak untuk memandu adik-adikku. Hingga saat ini, kuncup-kuncup yang kucintai sangatlah beragam dan semua memiliki potensi yang luar biasa. Beberapa dari mereka ada yang sudah bertahun-tahun mondok sebelum kuliah. Sebagian besar dari mereka saat ini menjadi santri di beberapa pondok muslimah. Tidak sedikit dari adik-adikku yang memiliki hafalan al qur’an jauh lebih banyak daripada aku. Tidak sedikit pula dari mereka yang memiliki IPK cumlaude dengan segudang prestasi akademik. Dan banyak dari mereka yang memegang posisi penting di organisasi kemahasiswaan, serta masih banyak lagi kelebihan-kelebihan mereka.  Itu membuatku makin sadar kalau aku jauh dari sempurna. Tapi adik-adikku pun bukan orang yang sempurna. Aku tidak perlu menampakkan diri sebagai sosok yang sempurna. Ketika adik-adikku menanyakan tentang suatu hal dan aku tidak mengetahui jawabannya, aku akan dengan jujur mengatakan bahwa aku belum mengetahui jawabannya, dan akan segera mencari tahu. Ketika aku dimintai tolong untuk melakukan sesuatu yang aku tidak bisa, aku akan menjawab jujur bahwa aku tidak memiliki skill itu. Justru dengan ketidaksempurnaan inilah kami sama-sama berproses untuk selalu memperbaiki diri. Karena ketidaksempurnaan ini juga kami butuh untuk saling melengkapi, hingga bisa menjadi kaleidoskop warna yang indah.

Hal ini membuatku mengingat sosok ibuku. Setiap kali kami bercakap-cakap, sering kali di akhir pembicaraan ibuku menutupnya dengan meminta maaf bila mungkin ada salah.. Meminta maaf karena belum bisa memenuhi kebutuhanku... Meminta maaf karena tidak bisa menjadi ibu yang sempurna.. dan permintaan maaf ibuku selalu membuatku meneteskan air mata. Justru permintaan maaf atas segala kekurangan itulah yang membuat beliau menjadi sosok yang sempurna di mataku. Dan begitu pula aku memperlakukan adik-adikku. Aku memang bukan sosok yang sempurna dan memiliki banyak keterbatasan, tapi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kuncup-kuncup yang sangat kucintai ini. Bukan berarti aku ingin dipandang sempurna seperti aku memandang ibuku. Bukan itu... Satu hal yang sangat kutekankan dan aku berusaha agar mereka tidak pernah meragukannya, yaitu bahwa aku mencintai mereka karena Allah. Dengan rasa cinta inilah aku berusaha untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Sebagaimana aku yang tidak pernah meragukan rasa cinta orang tuaku kepadaku, dan dengan pengetahuan itulah aku yakin bahwa mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. 




Sleman, 31 Juli 2012, 21.50 WIB.
Untuk kuncup-kuncup bungaku, aku yakin pada waktunya kalian akan mekar dengan indah dan menebarkan keharuman ke sekeliling kalian. I’ll wait and see.  Ana uhibbukum fillah...




Menggunakan Analogi Membungkus Kado dalam Menghadapi Manusia

Belakangan ini saya memiliki satu hobi baru, yaitu wrapping atau membungkus kado ^,^ Mungkin bagi sebagian orang membungkus kado terkesan sebagai sesuatu yang remeh. Namun bagi saya hobi baru saya ini merupakan sesuatu yang penting. Ada dua alasan utama kenapa saya menganggap ini adalah hal yang luar biasa.

  1. Sampai beberapa bulan yang lalu saya paling anti dengan yang namanya wrapping, karena hasil wrapping saya sampai saat itu biasanya benar-benar parah.
  2. Saya menganggap unsur kemasan hadiah itu sangat penting, karena menunjukkan kesungguhan si pemberi hadiah.
Beberapa bulan yang lalu seorang kawan saya, sebut saja Jabal, mengenalkan saya pada jasa wrapper profesional. Saya sangat suka mengamati mbak-mbak yang profesional ini dalam membungkus kado, karena barang yang awalnya biasa-biasa aja dengan bentuk yang tidak jelas, setelah dibungkus bisa menjadi sangat cantik. dan tentu saja 'kecantikan' ini berbanding lurus dengan harga. Untuk membungkus sebuah kado, minimal menghabiskan di Rp.12.000,- Seringnya saya harus membayar Rp.20.000,- bahkan lebih, tergantung habisnya bahan yang digunakan.


Lama kelamaan, saya berpikir 'daripada uang saya habis untuk bayar jasa bungkus kado, mending saya belajar bungkus sendiri. Toh kayaknya ga susah-susah amat, asal punya peralatan yang pas'. Dari situlah tiba-tiba saya berminat untuk belajar wrapping. Akhirnya saya membeli segala perlengkapan yang dibutuhkan, seperti lem tembak, berbagai jenis kertas kado, plastik kado, kain khusus pembungkus kado, berbagai jenis pita, dan gunting dengan berbagai pola guntingan. Ternyata skill saya dalam membungkus kado bisa mengalami kemajuan, tidak separah beberapa bulan yang lalu.







Tiba-tiba tadi saya mencoba memikirkan, mengapa hasil wrapping saya yang sekarang sangat jauh lebih lumayan dari yang dulu-dulu. Barulah saya sadar kalau sekarang saya belajar menyesuaikan bahan pembungkus dengan kertas yang dibungkus. Kalau dulu sih, barang yang bentuknya kubus atau balok biasanya langsung saya bungkus. Paling pusing kalau barang yang mau dibungkus bentuknya bukan kubus atau balok, karena susah rapi kalau dibungkus. Paling-paling solusi yang waktu itu saya ambil adalah mencari kardus/kotak yang muat untuk barang tadi, baru barang itu saya bungkus. Jadilah kado saya hampir selalu berbentuk kubus atau balok =.='

Dan sekarang saya mulai mencari kombinasi pembungkus yang pas. . Misal untuk kado yang bentuknya memang sudah kubus atau balok, bisa langsung dibungkus dengan kertas kado tipis yang cantik.. Tapi jangan coba-coba menggunakan kertas kado tipis pada barang yang tidak keras, misal kain. Karena kertas kado akan gampang lecek dan sobek. Untuk kado yang jenis itu, lebih baik bila menggunakan pembungkus yang bebahan kain, jadi bentuknya bisa menyesuaikan. begitu juga dengan barang-barang lain dengan bentuk yang aneh, misal lampu teplok, lebih pas jika dibungkus dengan kain. Gambar kado berwarna biru yang paling atas itu merupakan contoh kado yang dibungkus dengan bahan kain. Sedangkan yang di bawahnya(ungu) menggunakan kertas kado yang sangat tipis. kado yang paling bawah ini menggunakan kertas kado dengan ketebalan yang sedang-sedang saja.

Balik ke judul tulisan ini, trus apa hubungan antara wrapping dengan memperlakukan manusia?? Hubungannya kuat banget lho!!! hehehehehe  Kita analogikan manusia sebagai kado yang belum dibungkus.. Potensi dan karakter manusia kan bermacam-macam dan tidak ada yang sama persis. maka dari itu kita juga tidak bisa memperlakukan semua orang dengan sama rata. Misal kita menggunakan konteks Pengembangan Sumber Daya  Manusia di suatu lembaga. Tiap orang yang ada di lembaga itu memiliki keunikannya masing-masing, tinggal bagaimana orang yang ada di PSDM mengasah semua potensi tadi dengan tepat. Tidak jarang kita mendengar ada kader yang mengeluh karena ditempatkan di posisi yang tidak menjadi minat atau keahliannya. Itu ibarat kita  membungkus lampu teplok dengan memasukkan ke kardus berbentuk kubus dan kemudian membungkusnya dengan kertas kado. Lampu teplok tadi tetap bisa diakui sebagai kado, namun 'penampilannya' tidak optimal karena daya tarik aslinya tertutupi karena dipaksa untuk berbentuk kubus. Begitu juga dengan kader yang merasa 'salah tempat' tadi. Mungkin dia tetap akan bisa menjalankan jobdes walaupun tidak memiki minat dan bakat di sana. Tapi biasanya outputnya akan kurang optimal, atau bahkan minimalis, karena potensi kader tersebut ada di tempat lain.

Analogi wrapping ini tidak hanya bisa digunakan dalam konteks PSDM lembaga. Ini bisa diterapkan dalam hal pergaulan, juga dalam hal mendidik dan memperlakukan anak. Jadi, pilihlah pembungkus yang paling tepat untuk masing-masing barang, agar menjadi kado yang unik :)