RSS
Showing posts with label Celotehku. Show all posts
Showing posts with label Celotehku. Show all posts

Ini Binatang Peliharaanku (dulu), Apa Binatang Peliharaanmu (dulu)?

Saya yakin, sebagian besar orang pernah punya binatang peliharaan, tak terkecuali saya. Sepertinya sejak saya bisa berjalan, saya sudah punya binatang peliharaan :D Memelihara binatang-binatang yang mainstream untuk dipelihara itu jelas iya saya alami. Sebut saja ayam, burung, kucing, ikan.... Itu semua pernah saya pelihara. 'Memelihara' di sini maksudnya betul-betul bertanggung jawab atas kehidupan si binatang lho ya, bukan cuma bagian main-mainnya. Jadi dari saya masih unyu-unyu, udah biasa dengan yang namanya ngasi makan ayam/kucing/burung, juga bersihin kandang mereka.

Itu tadi yang mainstream... Sekarang saya mau ngeshare binatang-binatang lain yang pernah saya pelihara.


  1. Jangkrik


 Sepertinya jangkrik memang bukan binatang yang jarang dipelihara. Tapi biasanya yang      memelihara adalah anak laki-laki... Jarang ada anak perempuan yang memelihara jangkrik. Well, saya mengenal jangkrik dari kakak ke 2 saya. Di antara 4 bersaudara, memang dia yang paling tertarik dengan dunia perbinatangan. Jangkrik-jangkrik yang saya punya, sebagian saya beli darinya, dan sebagian menangkap di halaman rumah. Kandang jangkrik yang terbuat dari bambu itu juga saya beli dari kakak saya yang satu ini. Dan koleksi jangkrik (beserta kandangnya) ini saya taruh di dalam kotak sepatu, dan saya letakkan di bawah tempat tidur. Kenapa di bawah tempat tidur? Supaya jangkriknya rajin berbunyi, karena konon katanya jangkrik suka tempat gelap :D
     

     2. Jangkrik Upo




 Selain jangkrik yang biasa, dulu saya juga pernah memelihara jangkrik upo. Entah versi dalam Bahasa Indonesianya apa, yang jelas ukuran jangkrik ini memang kecil, hampir seperti upo (nasi). Untuk jangkrik upo ini, kakak saya menjualnya ke saya dengan harga yang lebih murah daripada jangkrik yang bukan upo. Tapi karena ukurannya yang kecil, agak susah untuk membuat jangkrik ini bisa bertahan di kandang bambu tadi... Jadi akhirnya jangkrik-jangkrik ini saya lepas lagi :3  


     3. Orong-orong





Well, saya mengenal orong-orong masih dari orang yang sama, kakak ke dua saya. Saat itu dia mempromosikannya sebagai 'jangkrik jenis baru'. Dan dengan lugunya, saya yang baru kelas 1 SD percaya itu -_- Jadilah saya beli 'jangkrik jenis baru' ini dari kakak saya tadi, dan saya taruh di kandang jangkrik. Setelah beberapa hari dipelihara, 'jangkrik jenis baru' ini masih tidak bersuara juga. Akhirnya saya tanyakan ke ibu, dan dari situ saya jadi sadar kalau saya jadi korban penipuan -_-. Aaaaaaakkkk..... kakak saya yang 1 itu memang paling hobby ngerjain saya, dibanding dengan kakak-kakak yang lain >.< Akhirnya 'jangkrik jenis baru' yang sudah saya beli dengan menguras uang saku ini saya lepas lagi ke kebun.


     4. Semut Rangrang



Semut rangrang atau ibu saya menyebutnya 'angkrang' ini bukanlah binatang yang asing bagi warga Indonesia, karena biasa dijumpai di pohon-pohon. Dulu saya sering terkesima setiap kali mengamati angkrang ini..... Pernah saya mencoba memeliharanya. Jadi saya tangkap 2 angkrang -waktu itu saya mikirnya supaya bisa dikembangbiakkan, saya harus memelihara sepasang(padahal juga ga tau gimana bedakan jenis kelaminnya)-, dan saya masukkan ke kotak bekas korek api. Saya letakkan daun sebagai makanan. Sehari kemudian, 2 angkrang itu terlihat lemas... Beberapa hari kemudian, keduanya tewas T_T Setelah itu, saya berhenti memelihara angkrang di dalam kotak korek api. Tapi saya tetap tertarik dengan koloni angkrang ini. Waktu itu saya merasa ga adil, kenapa ada pohon yang terlalu banyak angkrangnya, dan ada pohon lain yang tidak berpenghuni. Jadilah saya membuat project 'migrasi angkrang'. Saya tangkap beberapa angkrang dari pohon yang banyak angkrangnya, dan saya pindahkan mereka ke pohon-pohon lain yang masih belum berpenghuni. Setiap hari 'daerah transmigrasi' ini saya amati. Ada pohon yang sukses jadi daerah transmigrasi, tapi ada juga pohon yang gagal, bisa dilihat dari lenyapnya angkrang-angkrang yang saya letakkan di sana.


      5. Cacing Tanah






Dulu di perpustakaan SD saya membaca buku tentang budidaya cacing tanah... Karena tertarik, saya mencoba membudidayakan cacing tanah, meniru petunjuk di buku yang saya baca. Yah, namanya bocah, saya mempraktikannya ya sebatas hasil pemahaman saya (yang ternyata agak sesat^^'). Jadi saya mencari ember bekas yang sudah tidak terpakai, lalu saya isi dengan tanah. Saya campur dengan pupuk kandang dan kompos, dan dicampur air supaya lembab. Lalu saya berburu cacing tanah di kebun, dan berhasil mendapatkan beberapa. Nah, entah bagaimana ceritanya, waktu itu saya memahaminya cacing tanah berkembang biak dengan membelah diri. Jadilah itu semua cacing tanah hasil tangkapan masing-masing saya potong jadi 2, lalu saya masukkan ke dalam media yang sudah saya buat. Tiap hari media itu saya cek dan saya tambahkan air kalau terlihat agak kering... Seminggu kemudian, saya berpikir seharusnya cacing-cacing saya tadi sudah gemuk-gemuk. Maka saya keluarkanlah seluruh isi ember itu, untuk memanen cacing-cacing saya. Tapi ternyata bukannya menemukan cacing yang gemuk-gemuk, saya cuma menemukan tanah. Tidak ada cacing sama sekali. Cacing-cacing saya tewaaaaasssss T_T


     6. Bekicot mini




Saya sudah berusaha googling, tapi tidak bisa menemukan gambar bekicot yang saya maksud. Jadi gambar ini saja yang saya upload. Pada suatu hari, saya menjelajah di taman milik teman sekolah saya. Di situ saya melihat beberapa bekicot cantik. Ukurannya kecil-kecil, lebih kecil dari jangkrik upo, dan warnanya krem kekuningan. Tidak jelek seperti bekicot di rumah saya yang besar-besar dan berwarna coklat tua dan sering dibunuh oleh ibu saya. Karena suka, maka saya tangkap beberapa bekicot cantik ini untuk saya bawa pulang, dan saya lepas di taman rumah saya, supaya bekicot di taman rumah saya tidak cuma yang coklat buruk rupa itu.  Beberapa hari kemudian, aksi saya ini diketahui oleh ibu saya, dan saya dimarahi karena menyebar hama di tanaman ibu saya. Kata ibu, bekicot kecil-kecil seperti itu justru sulit dibasmi. Tapi akhirnya punah juga T_T Padahal kan cantiiiiiikkkkkk....


     7. Kodok




Ingeeeetttt banget dulu saya pernah melihara beberapa kodok. Jadi saya berburu beberapa kodok yang potensial untuk 'digemukkan', Waktu itu saya pernah denger, kalau ayam potong ditaruh di kandang yang sempit supaya ga banyak gerak jadi cepet gemuk. Nah, prinsip itu saya terapkan pada si kodok. Mereka saya pelihara di dalam lubang batako. Satu lubang untuk satu kodok, trus lubangnya saya tutup pakai batu supaya si kodok ga bisa kabur. Lagi-lagi, pas ketahuan ibu, saya disuruh melepas kodok-kodok ini. Kata ibu, kasian kodoknya tersiksa saya kurung kayak gitu :3 #okebaiklah

    8. Berudu




Khusus binatang yang satu ini, saya pelihara bukan di rumah, tapi di sekolah. Soalnya waktu itu kami belum punya kolam sendiri. Jadi karena kesibukan orang-orang yang mengantar jemput saya ke sekolah, datang paling awal sebelum yang lain datang dan pulang paling akhir setelah sekolah sepi itu sudah jadi hal biasa. Well, untungnya halaman sekolah saya luas.... Jadi saya bisa mengisi waktu dengan berpetualang menjelajah kebun sekolah. Salah satu hobby saya saat itu adalah duduk di pinggir kolam sambil memperhatikan para penghuni kolam. Saya tau kapan teratainya mekar, berapa jumlah ikan dewasa, dan juga tau kalau ada ikan yang mati. Nah, pas sedang bertapa di tepi kolam itu saya melihat sesuatu yang mirip bubur sagu mutiara... Bulet-bulet berlendir dan warnanya agak pink. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah telur kodok. Setiap hari saya mengecek telur-telur ini, hingga akhirnya menetas jadi berudu. Berudu-berudu ini setiap hari saya jenguk... Jadi saya update dengan pertumbuhan mereka.... Pernah juga sebagian berudu saya pindah ke kolam lain yang tidak ada berudunya. Seperti kasus angkrang yang saya sebut sebelumnya, saya ingin membantu pemerataan jumlah penduduk berudu di tiap-tiap kolam..



Nah, itulah binatang-binatang yang pernah saya pelihara. Kalau dipikir-pikir, karena saat itu saya jarang berinteraksi dengan sesama manusia (waktu kecil saya sama sekali ga punya teman bermain, karena di sekitar tempat tinggal ga ada anak perempuan yang sebaya :3, saya jadi bisa lebih peka dengan keberadaan makhluk-makhluk lainnya....   Karena ga cuma binatang peliharaan, saat itu saya juga rajin bercocok tanam, melengkapi taman bunga ibu. -Mungkin topik bercocok tanam ini akan saya jadikan bahan tulisan di lain waktu-. Yang jelas, saya ingin anak-anak saya nanti juga berkesempatan untuk meng-explore alam sekitarnya.... Bukan jadi gadget-addict :v

-Cerita tambahan, dulu saya sempat pengen memelihara anak kambing di rumah. Setiap kali jogging di pantai, saya agak iri dengan orang-orang yang jogging bersama anjing-anjing mereka. Berhubung saya tidah bisa memelihara anjing, saya pikir anak kabing bisa dijadikan teman jogging yang kece, dengan diberi kalung dan tali dan jogging bersama saya. Yah, tapi permintaan ini ditertawakan oleh bapak ibu saya @_@-









*semua foto diambil dari mbah google

Wejangan Kelulusan dari Bapak



Saya yakin ada banyak orang-orang di sekitar saya yang peduli dengan kelulusan saya.

Dari hasil pengamatan saya, orang-orang yang memberikan perhatian pada skripsi saya bisa dikategorikan sebagai berikut: 
  1.  Orang yang menanyakan progress saya sambil lalu...
  2. Mereka yang serius menayakan progress tapi sadar tidak bisa memberi bantuan secara konkret.
  3. Orang yang tidak menanyakan secara detail tapi selalu memberikan semangat positif.
  4. Orang yang menanyakan secara detail dan menawarkan bantuan secara konkret.
  5. Orang yang tidak banyak bertanya tapi selalu konkret dalam membantu.
  6. Orang yang tidak bertanya dan tidak membantu tapi langsung menghakimi.

    Jadi merasa termasuk yang manakah kamu? Hahaha...




Oke, jadi saya memang lumayan lama mengalami stuck di bab empat, bingung apa yang harus dituliskan karena output data saya aneh dan saya jadi semakin bingung dalam membaca data itu.
Sebenarnya bisa saja kalau saya memakai cara praktis dengan menggunakan jasa profesional terkait spss untuk mengulang olah data saya. Tapi yeah, jiwa idealis saya ternyata menolaknya. Dalam hati saya berpikir, apa gunanya saya menghabiskan waktu sangat lama untuk mengerjakan skripsi ini jika pada akhirnya saya tetap tidak paham dengan apa yang saya kerjakan. Sudah nggarapnya lama ya at least paham lah dengan apa yang dikerjakan so I won't be a total looser  ^^' 

Nah, dari situ saya bertanya dan minta bantuan sana-sini. Mulai dari minta bantuan adik binaan (dan beliau sudah lulus :D ), dan ketika si adik binaan ini bingung, beliau minta tolong temannya yang dianggap ahli soal statistik/spss ini untuk membantu saya. Subhanallah, walaupun baru pertama kali kenal dengan kawannya itu, beliau dengan sabar dan baik hati membantu tanpa menanyakan kenapa saya yang kakak tingkatnya ini masih berkutat dengan skripsi. Ga cuma itu, dia juga menawarkan nomer kontaknya pada saya supaya saya bisa menghubungi beliau sewaktu-waktu jika butuh bantuan tanpa perlu perantara adik binaan saya tadi. Selain belajar ke beliau (yang sefakultas dengan saya), saya juga bertekad untuk mempelajari statistik dan spss langsung dari anak statistik. Maka bergurulah saya pada seorang mahasiswi statistik yang sangat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena beliau sendiri masih berkutat dengan skripsinya, tapi selalu mempunyai waktu untuk dengan sabar mengajarkan ilmu-ilmunya pada saya. Dari situ kami mengulang lagi pengolahan data saya dan alhamdulillah kali ini hasilnya tidak ganjil lagi dan saya paham dengan apa makna dibalik angka-angka itu.

Beberapa paragraf di atas tadi adalah prolog dari isi judul saya :D Jadi, malam ini saya kembali berguru ke tempat anak statistik tadi karena ketika seharian nggarap di perpus tadi ada beberapa hal yang membuat saya bingung dan perlu penjelasan. Di tengah sesi pelajaran statistika dan spss ini, tiba-tiba handphone saya berdering, dan yang menelpon adalah bapak saya. Agak kaget, karena selama ini bapak saya jarang menelpon saya. Biasanya ibu yang menelpon dan setelah ngobrol dengan ibu, telpon dioper ke bapak.  

Kurang lebih begini cuplikan pembicaraan kami tadi di telpon :

Saya : assalamu'alaykum bapak..
Bapak : wa'alaykumsalam... Alhamdulillah bisa denger suara nduk'e, ditelpon sering susah (karena saya seringnya berada di area susah sinyal).
Saya  : hehehehehe (ketawa sambil ngerasa bersalah karena kayaknya kok durhaka banget jadi anak sampai orang tuanya kesulitan menghubungi)
Bapak : Lagi dimana? Di kos? Atau lagi ngisi liqo? Atau dimana?
Saya : lagi belajar di kos temen pak..
Bapak : belajar apa?
Saya : belajar statistik
Bapak : lho, kok belajar statistik?
Saya : iya, kan skripsi Nunung pakai satatistik..
Bapak : Oalah.... Soal skripsi, kemarin memperpanjangnya 1 semester bukan?
Saya : iya..
Bapak : deadline 1 semesternya itu kapan?
Saya : 31 Januari
Bapak : kira-kira bisa ga selesai sesuai deadline itu?
Saya : insyaa Allaah..... bantu do'a ya pak...
Bapak : Bapak insyaa Allaah mendo'akan terus tanpa perlu diminta...   Selama ini kan Nunung udah dapet banyak banget nikmat dari Allah, yang ga terhitung jumlahnya... Bisa jadi lulus agak lebih lama dari yang lain ini bentuk ujian Allah untuk Nunung..... Jadi yang sabar ya nduk, jangan lupa sama nikmat Allah yang banyak itu. Tiap orang punya ujiannya masing-masing.
Saya : *mata berkaca-kaca*
Bapak : Lagian Nunung di situ kan ga cuma untuk belajar psikologi..... Tapi juga belajar ilmu kehidupan.... Dan yang paling utama ya belajar agama... Ilmu agama itu yang paling penting dan harus diutamakan... Insyaa Allah banyak yang bisa Nunung pelajari selain ilmu di perkuliahan..
Saya : *mulai mbrebes*
Bapak : jadi jalani aja semuanya dengan sabar & tawakal... Bapak bantu dengan do'a... 
Saya ; insyaa Allaah pak..
Bapak : udah dulu ya, Nunung lanjutkan aja belajarnya.....Assalamu'alaykum..
Saya : wa'alaykumsalam...

Masya Allah.... Setelah mendengar wejangan bapak tadi, rasanya bener-bener adeeeeemmmm banget.  Saya yakin banyak orang yang juga perhatian pada saya... Tapi sangat sedikit yang asertif dalam menunjukkan perhatiannya... Bapak sudah mengenal saya sejak dilahirkan, jadi memang tidak heran kalau bapak tau bagaimana cara memotivasi saya tanpa menghakimi.. 

Sejak awal kuliah, berkali-kali orang tua  saya menegaskan kalau mereka menyekolahkan saya supaya saya memperoleh ilmu, bukan supaya saya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Karena kewajiban orang tua adalah memberi bekal ilmu pada anak-anaknya supaya kelak bisa memberi manfaat pada banyak orang. Insyaa Allaah orang tua saya tidak pernah silau dengan gelar ataupun jabatan, karena semua itu hanya bersifat fana. 
Maka mari luruskan niat, karena apa kamu menyelesaikan kuliahmu?

Bener kata bapak, selama ini sungguh banyak nikmat yang sudah saya dapatkan. Dan bagi saya, salah satu nikmat terbesar saya adalah memiliki orang tua yang luar biasa. Dengan orang tua yang sangat luar biasa seperti ini, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Semoga Allah senantiasa memberi nikmat sehat, iman, dan taqwa untuk bapak ibu..


Tulisan ini saya persembahkan untuk orang-orang luar biasa di sekeliling saya, yang selalu menjadi supporter saya entah bagaimana pun bentuk supportnya... Semoga Allah membalas kebaikan kalian :) dan untuk kawan-kawan yang juga sedang berjuang :)


Sleman, 8 Desember 2014






Memilih Pemimpin yang Memenuhi Kriteria Seorang Pemimpin



Sumber gambar :  http://aengaeng2.blogspot.com/




Dulu, saya pernah mendengar percakapan sepasang suami istri yang menurut saya lucu tapi memang membuat saya berpikir.
*kata2nya saya ga inget secara detail, tapi kalau ditulis dengan bahasa saya kurang lebih begini :
--------------------------------------------------------------------------
Istri : "Bi.... liat tuh, rumahnya bu Dulah (bukan nama sebenernya) bersih terus, soalnya pak Dulah (bukan nama sebenernya juga) rajin banget bersih-bersih rumah sampai sebersih2nya.... Ada yang kotor dikit langsung dibersihin.... Coba abi juga kayak gitu.."

Suami : (dengan nada ringan dan ekspresi jail) "Oh, emang ummi mau punya suami kayak pak Dulah? Yang kerjaannya bersih-bersiiiiihhh mulu, dan manut dengan instruksi istrinya..."

Istri : (sambil senyum2)" iiiiihhhh.... ya gamau laaaahhh...."

Suami : "hehehe... makanya disyukuri punya suami kayak abi ini"
---------------------------------------------------------------------------
 Itu tadi sepenggal obrolan mereka yang membuat saya mikir 'iya ya, betul. Rajin bersih2 rumah itu kebiasaan yang baik, tapi untuk jadi kepala rumah tangga ya ga cukup dengan rajin bersih2.... Masih ada banyak kriteria yang lebih prioritas dari itu...'

Bagai orang yang bekerja di jasa cleaning service, skill bersih2 itu memang jadi prioritas.. Tapi belum tentu itu jadi skill prioritas untuk job yang lain.
Untuk menjadi pilot, dibutuhkan skill yang mendukung pekerjaan pilot..
Untuk menjadi sekretaris, dibutuhkan skill yang menunjang job sekretaris...
Seseorang dengan kualifikasi skill seorang pilot, tidak akan pas bila mendaftar kerja sebagai sekretaris. 
Okelah, itu tadi contoh ekstrem, tapi logika sederhananya seperti itu.

Nah, lantas bagaimana dengan PRESIDEN? Logikanya tetaplah sama : Carilah orang yang memenuhi kriteria untuk menjadi seorang presiden.

Jika bingung ketika dihadapkan pada pilihan yang menurut kita sama-sama baik, pilihlah kebaikan/kelebihan yang sekiranya sesuai dengan peran presiden.

Memang, kriteria ideal ini bisa jadi subjektif untuk masing-masing orang. Tapi marilah kita mencoba untuk berpikir tidak hanya sesuai subjektif kita, tapi juga memikirkan dari perspektif bangsa dan negara Indonesia. Pikirkanlah, seperti apa kriteria ideal seorang presiden(yang tentu saja berkaitan dengan jobdes sebagai presiden), dan pilihlah calon yang paling mendekati kriteria tersebut...

Jangan sampai logikanya terbalik --> Sudah kekeuh ada calon yang diunggulkan, lalu jobdes presidennya menyesuaikan dengan skill calon tadi.

Mari (mencoba) jadi pemilih yang cerdas :)

------------------------------------------------------------------------------
Ilustrasi tambahan --> kalau cuma mau nyari presiden yang baik menurut subjektif saya sih saya bakal milih pakde yang rumahnya di depan kos saya. Udah orangnya rajin ke masjid untuk sholat 5 waktu, selalu ramah nyapa tiap kali saya lewat, suka bagi2 sirsak kalau lagi panen sirsak, dan tiap pagi rajin nyapu sampai depan kos saya :3 Tapi berhubung kelebihan2 tadi pasnya emang jadi kriteria tetangga, bukan presiden, makanya saya ga minta pakde untuk nyalon jadi presiden Indonesia, cukup jadi tetangga saya aja *yaeyalah :D

#JanganLupaNyoblosTanggal9Juli2014






Sleman, 5 Juli 2014

Dan Tentang Seseorang




Dan tentang seseorang...
Entah kapan pertama kali aku mengenalnya.. Yang jelas, aku mulai menganggapnya sebagai teman adalah ketika aku berteman dengan salah 1 orang yang tinggal serumah dengannya. Ketika itu pun sebenarnya aku tidak terlalu peduli pada sosok yang satu ini. Namun beberapa kali temanku tadi harus pergi ke luar kota dan memintaku untuk memastikan teman serumahnya baik-baik saja.. Ya... sepertinya sejak itulah aku mulai berteman dengannya..


Sebetulnya kami adalah 2 orang manusia yang bisa dibilang bertolak belakang.. Ah... tidak perlu kusebutkan kami bertolak belakang dalam hal apa saja.... Namun di sisi lain kami juga punya kesamaan, salah satunya adalah kami sama-sama tidak terlalu peduli dengan segala perbedaan tadi :D


Selain mengenalnya, aku juga mulai mengenal keluarganya... Mulai dari adiknya yang sebetulnya tidak pernah kutemui, tapi aku merasa sudah mengenalnya karena sering mendapat cerita tentangnya... Begitu juga dengan ayahnya, yang mengatakan aku mirip  L*na M*ya ^^'  Lalu ibunya, yang mengatakan aku mirip dengan putri beliau(orang yang jadi topik pembahasan di tulisan ini), sehingga lalu kalau pendapat ayah dan ibunya digabung, berarti temanku ini juga mirip L*na M*ya ^^' Belum lagi mbahnya yang tinggal di Gedongkuning, yang putra beliau sering kurepoti untuk urusan si Deka... dan mbahnya yang tinggal di dekat Tugu yang tadi berpesan pada saya untuk sering-sering menjenguk beliau, terutama ketika cucu beliau(teman saya ini) sudah tidak di Jogja lagi. Bukan cuma kenal keluarga. Dia mengenal dan berteman dengan teman-teman kosku, dan aku juga mengenal dan berteman dengan teman-teman kosnya. 



Ya... itulah indahnya ukhuwah... kami bisa (berusaha untuk) saling melengkapi satu sama lain.. Bisa mengandalkan satu sama lain... Bisa saling meminjam satu sama lain...  Bisa menjadi 'tong sampah' satu sama lain...  Saling memberi hadiah.... dan bisa tiba-tiba datang ke rumah satu sama lain tanpa pemberitahuan sebelumnya ^^ Bisa dibilang aku dan dia sudah saling tau kekurangan satu sama lain dan kami sudah sampai pada tahap berlapang dada atas kekurangan satu sama lain :D

Begitulah ukhuwah... Kami tidak mencari kesempurnaan dalam sosok seseorang, tapi kami berusaha untuk bisa saling menyempurnakan satu sama lain :)


Selamat menempuh hidup baru wahai kawanku... Selamat menjalani fase hidup selanjutnya... Semoga bisa selalu menebar manfaat dan keberkahan dimanapun kau berada :)



Allahumma innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,

qadijtama-at 'alaa mahabbatik,
wal taqat 'alaa tha'atik,
wa tawahhadat 'alaa da'watik,
wa ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa watsiqillahumma rabithataha,
wa adim wuddaha,
wahdiha subuulaha,
wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah shuduroha bi faidil imaanibik,
wa jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa ahyiha bi ma'rifatik,
wa amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka ni'mal maula wa ni'man nashiir.


Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah berkumpul karena cinta-Mu,

dan berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan bersatu dalam dakwah-Mu,
dan berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan kekalkanlah cintanya,
dan tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan indahnya takwa kepada-Mu,
dan hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,
dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Hutang yang Tak Akan Pernah Lunas Terbayar



Bulan lalu aku pulang ke kampung halaman... Yang rencana awal cuma 3 hari, molor jadi 3 pekan di rumah gara-gara sakit. Selama 3 pekan itu aku lebih banyak bedrest dan bahkan banyak tetangga yang tidak tahu kalau aku ada di rumah.

Ketika  terkapar itu, air mataku sering tak terbendung... Aku menangis bukan karena rasa sakit... Bukan pula kerena kesusahan... Air mata itu mengalir karena perlakuan orang tuaku.. 

Di pagi hari orang tuaku akan mengecek ke kamar tidurku, untuk memeriksa apakah panasku masih tinggi... Selain untuk mengecek, orang tuaku datang untuk membangunkanku supaya makan.. Bapak dan ibu akan berupaya membuatkan makanan yang kusuka... Ketika tubuhku menolak makanan itu, aku dibuatkan bubur yang lebih mudah dicerna... Kadang aku juga dibangunkan untuk meminum jamu yang dibuatkan oleh bapak.. Dan ketika meminum jamu itu lagi-lagi air mataku tak terbendung... Mungkin bapak mengira aku menangis karena rasa jamu yang pahit sehingga bapak bilang "ditambah lagi aja madunya biar ga pahit". Padahal aku menangis karena malu, karena ketika orang tuaku sakit, aku tidak pernah berbuat sejauh ini..

Sungguh tak terhitung hal-hal yang dilakukan dan diberikan oleh orang tuaku selama kurun waktu 3 pekan itu... Mulai dari merawatku, menyediakan segala kebutuhanku, dan tidak pernah berhenti menanyakan aku ingin apa... Padahal sekarang aku sudah bukan anak kecil lagi, dan mereka sudah tidak muda lagi... Meskipun begitu tanpa ragu-ragu mereka akan berusaha memenuhi segala kebutuhanku tanpa diminta. 

Ketika aku berpamitan untuk kembali ke tanah rantauan, bapak ibu memeluk dan menciumku sembari meminta maaf kalau selama aku di rumah tidak bisa memenuhi semua pengharapanku dan minta maaf atas segala kekurangan&kekhilafan sebagai orang tua. Untunglah ketika berpamitan itu hari sudah larut dan penerangan sangat minim, karena saat mendengar permintaan maaf orang tuaku itu aku sama sekali tidak bisa menahan air mata dan aku tidak ingin mereka melihatku menangis... Karena aku tau, mereka akan jauh lebih sedih ketika mengetahui anaknya menangis.. Bapak ibuku yang sudah berbuat banyak untukku, masih meminta maaf karena merasa masih ada kekurangan.... Sedangkan aku yang belum berbuat apa-apa untuk mereka ini, rasanya masih sangat berat untuk meminta maaf. Karena kalau harus jujur, banyak sekali kekuranganku sebagai anak...

Penggalan cerita di atas hanyalah 3 pekan. Dalam 3 pekan itu mereka sudah memberikan banyak hal yang tidak sanggup aku balas..... Apalagi kalau aku menghitung apa yang sudah mereka berikan seumur hidupku... Jangankan membalas mereka, menghitung pemberian mereka pun aku tidak mungkin bisa, karena banyaknya tak terhingga... Dan ketika aku mengingat-ingat  lagi apa saja yang sudah kulakukan untuk orang tuaku, sungguh belum ada apa-apanya. Jadi sepertinya aku tidak akan pernah bisa menyaingi pemberian mereka...  Salah satu  hal yang sangat kukagumi dari orang tuaku adalah mereka selalu 'memberi' ke anak-anak mereka tanpa menuntut balasan apapun. Tidak pernah mereka meminta ini itu atau menuntut supaya kami melakukan ini itu. Keinginan mereka hanya 1, yaitu ingin kami menjadi anak yang sholih dan sholihah dan bermanfaat bagi orang lain.


Ketika aku mengingat kematian dan sadar bahwa Allah bisa mengambil nyawa kami kapan saja, aku merasa tidak akan pernah bisa 'melunasi' pemberian orang tuaku ketika ajal tiba. Entah akan lebih dulu ajal orang tuaku, atau lebih dulu ajalku. Jadi janganlah kita pernah menunda untuk berbakti pada orang tua, selagi belum terlambat. 

Semoga kami(aku dan saudara-saudaraku) bisa menjadi anak-anak yang sholih-sholihah, agar harapan&do'a bapak ibu bisa terwujud. Aaamiin...



“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”.
—(QS. An-Nisa’:36)
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".”
—(QS. Al Isra’:23-24)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”
—(QS. Luqman: 14)

“Katakan: Marilah kubacakan apa yang telah diharamkan kepada kalian oleh Rabb kalian yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”
—(Al-An’am: 151)


Ketika Cinta Datang


Oke, daripada nanti jadi ada perbedaan persepsi terkait definisi cinta yang dimaksud di sini, saya perjelas maksud dari cinta yang akan saya bahas adalah cinta antara lawan jenis....

Kata orang, mencintai itu adalah fitrah manusia... Termasuk cinta terhadap lawan jenis... bahkan ada yang bilang kalau seorang laki-laki atau perempuan tidak pernah jatuh cinta, justru itu tidak normal..

Benarkah begitu? Lalu apakah saya tidak normal?
Jalaluddin Rumi mengatakan:
Cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin.

Bila seperti itu definisi cinta,  berarti ya, saya memang belum pernah jatuh cinta kepada lawan jenis. Ketika orang yang jatuh cinta berarti ia rela mengorbankan dan melupakan segalanya demi cinta, berarti ya, saya yakin saya belum pernah jatuh cinta.

Jadi memang benar kalau saya tidak normal? Sebagaimana perkembangan manusia, saya pun pernah mengalami masa puber. Jadi ya, tentu saja saya pernah naksir lawan jenis, karena itu bagian dari perkembangan dari fase anak-anak. Namun apakah taksir menaksir itu sudah pasti karena cinta? I don’t think so..  Karena saya merasa alasan saya naksir seseorang lebih karena rasa kagum, bukan cinta. Kenapa saya bisa yakin? Karena bila cinta adalah tentang perasaan, yang pernah saya alami adalah perasaan saya tidak pernah mengalahkan logika.
 Ingin tau buktinya?

Buktinya adalah selama fase ABG itu saya sama sekali tidak pernah pacaran. Saat itu saya memilih untuk tidak pacaran karena beberapa alasan:
  1. Keluarga tidak memperbolehkan. Dan menurut saya ini adalah alasan yang lemah, karena walaupun keluarga melarang, kalau saya mau, peluang untuk pacaran tanpa sepengetahuan mereka sangatlah besar.
  2. Karena di lingkungan saya dulu, cenderung identik dengan hubungan seksual. Walaupun masih pelajar, hal itu bukanlah hal yang tidak lazim di lingkungan saya saat itu. Jadi ketika berpacaran, ya harus siap untuk bersedia melakukan hubungan seksual. Oke, bisa jadi saya terlalu menggeneralisasi, tapi ketika kita berada di lingkungan yang mana aktivitas seksual teman sudah menjadi bahan pembicaraan yang biasa, mau tidak mau kita akan berpikir bahwa itu sudah menjadi hal yang lumrah. Walaupun saat itu pengetahuan agama saya sangat dangkal(bukan berarti saat ini sudah dalam lho ya), saya tetap meyakini bahwa hubungan seksual sebelum menikah itu adalah dosa besar. Jadi saya tidak mau coba-coba melakukan sesuatu(pacaran-red) yang saya tau arahnya akan kesana. Dan alhamdulillah teman-teman saya menghargai prinsip saya itu, dan tidak ada yang berpikir ‘kalau ga pacaran berarti ga gaul. Dan walaupun tidak banyak, saya masih memiliki komunitas teman yang memang memilih untuk tidak berpacaran, walaupun alasannya memang bukan karena ideologi agama.
  3. Karena teman laki-laki di lingkup pergaulan saya kebanyakan adalah berbeda agama dengan saya. Dan seandainya pun saya menemukan pacar yang sama-sama sepakat bahwa hubungan seksual sebelum nikah itu tidak boleh, tapi bila kami beda agama tetap tidak akan ada masa depan untuk kami. Karena dalam budaya di daerah kami, bila calon suami dan istri beda agama, si perempuan lah yang mengalah dan mengikuti agama suaminya. Dan hal itu banyak terjadi. Jadi walaupun saat itu saya sama sekali tidak bisa dibilang religius, saya tetap meyakini bahwa pantang berpindah agama. So kenapa harus pacaran dengan seseorang yang kita tahu di akhir nanti akan mengalami sad ending?!
Ketiga hal di atas inilah yang menjadi alasan saya memilih untuk tidak berpacaran. Saat itu bahkan saya belum tahu kalau dalam Islam bukan hanya melarang zina, tapi mendekati zina pun tidak boleh. Dan walaupun di Qur’an tidak ada ayat yang jelas-jelas mengatakan ‘dilarang pacaran’, sekarang akhirnya saya paham bahwa pacaran itu merupakan salah satu tahapan mendekati zina. Saya bersyukur 3 alasan saya tadi bisa membuat saya untuk istiqomah memilih untuk tidak pacaran :-). Dan saya juga bersyukur saat itu tidak pernah jatuh cinta seperti yang digambarkan Jalaluddin Rumi tadi, karena bila iya, bisa jadi ketiga alasan saya tadi hilang ditiup angin hanya karena demi ‘cinta’.

Lalu apakah saya tidak ingin jatuh cinta? Tentu saja saya ingin jatuh cinta.... dan terlintas harapan-harapan ketika nanti cinta itu datang...

Ketika cinta datang, aku tidak ingin cinta yang membutakan... Kebutaan yang membuatku melihat kebaikan sebagai keburukan dan keburukan sebagai kebaikan. Aku ingin cinta yang membuat penglihatanku semakin jernih, jernih untuk melihat cinta yang haqiqi...

Ketika cinta datang, aku ingin datangnya di waktu yang tepat, yaitu ketika sudah ada ikatan yang membuat cinta ini mendatangkan pahala, bukan justru mendatangkan dosa..

Ketika cinta datang, aku ingin cintaku padanya tidak sampai melebihi cintaku pada-Nya, dan jangan sampai cintanya padaku melebihi cintanya pada-Nya....


Bagi saudara-saudara seiman yang menanti datangnya cinta, bersabarlah menunggu... Karena yakinlah, tiap manusia sudah digoreskan nama orang yang  menjadi cinta-nya...
Dan ketika cinta itu telah datang, buatlah agar cinta itu bisa semakin mengeratkan hubungan dengan-Nya. Jadi jagalah dirimu hingga cinta itu datang :)

Sebagai penutup, saya sisipkan 1 puisi indah



Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.


Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.


Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)


Home Sweet Home (Edisi Kangen Rumah)

Sudah lima bulan aku tak pulang ke kampung halaman.... Sepertinya ini menjadi rekor terlamaku tidak pulang ke rumah. Biasanya aku pulang sebulan, dua bulan, atau tiga bulan sekali. Jadi tak heran jika sekarang aku merasa sangat rindu dengan rumah :')

Tak bisa pulang, ngeblog pun jadi. Untuk mengobati rasa kangenku pada rumah, aku akan berbagi cerita tentang kampung halamanku.

Rumahku terletak di pesisir utara pulau Bali. Jarak antara rumah dengan pantai terdekat kira-kira 10 menit dengan berjalan kaki(dengan kecepatan jalanku lho ya..). Sebagaimana tipikal pantai utara Bali, ombak di pantai ini cukup tenang...

Dari pantai ini, aku bisa menyusurinya melewati hotel dan juga area sawah, hingga sampai ke pantai tetangga. 

Dengan meyusuri tepi pantai selama 10 menit, aku akan sampai di area nelayan di pantai tetangga.

Di area pantai ini juga ada pura Penimbangan, yang berlokasi tepat di tepi pantai. 


Setelah itu aku bisa berjalan memutar menuju ke arah jalan raya, untuk kemudian pulang menuju rumah. Dari jalan raya ini, tepat sebelum berbelok ke gang rumahku, ada sebuah masjid. Nama masjid ini adalah masjid Nurul Iman atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Pemaron. Jama'ah masjid ini mencakup penduduk Muslim dari desa-desa sekitar, karena tidak semua desa memiliki masjid.

Jadi, bila ingin mencari alamat rumahku, ancer-ancer gangnya adalah di dekat masjid ini. Dengan berjalan beberapa menit, kalian akan sampai di depan rumahku :)

Bagi yang ingin bersilaturahim ke rumah kami, ayo mari... Insya Allah diterima dengan tangan terbuka :)

Better Late Than Never or Better Never Than Late??

(sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi02POV-SKobX0q4D01dhXjD-bDQ30XuVPW2MIcURAmsHgzYmMjqf3cQfG53KdWOadu0Oez0KnBPN_nM1LtQ8KfjUZeCf6cGOzPy7Y36ytoEkSnKMPhc0xdhVrUsJgrM0Pnjw-ZNTMlZP0/s1600/AM-PM.jpg)


Pernahkan kamu mengalami kebingungan antara memilih  prinsip Better Late Than Never atau Better Never Than Late?  Ngomong opo tho iki???!!! Oke, sederhananya kamu tipe orang yang punya prinsip 'gapapa telat yang penting dateng' atau 'malu kalo telat, jadi mending sekalian ga usah dateng'. 

Masih belum mudheng juga? Jadi misal begini...

*ilustrasi*



Alkisah di suatu sore Danu ketiduran dan baru bangun pukul 16.00. Padahal ia ada jadwal rapat pukul 15.30. Untuk persiapan dan perjalanan dari rumah Danu sampai lokasi rapat kira-kira memakan waktu 30 menit. Jadi, bila Danu bergegas berangkat, tetap akan terlampat 1 jam dari waktu rapat yang disepakati.

Danu memiliki 2 pilihan:
  1. Tetap berangkat rapat, dengan resiko menanggung malu dan kritikan peserta rapat yang lain karena terlambat 1 jam.
  2. Tidak jadi berangkat rapat, untuk menghindari resiko tadi.
Itu tadi pilihan yang dimiliki Danu. Kalau Kamu dihadapkan pada masalah serupa, manakah yang akan kamu pilih? *Jawab di pikiran masing-masing*

Secara umum, saya akan berusaha supaya tidak terlambat dalam menghadiri event apapun. Namun terkadang ikhtiar manusia memang ada batasnya.... Akan tetap ada kondisi dimana saya akan terlambat. Dan bila itu terjadi, saya memilih prinsip better late than never. Itupun dengan tetap berusaha mengkomunikasikan ke pihak yang terkait dengan event yang akan saya datangi, agar mereka tidak mengkhawatirkan saya.

Namun terkadang kita memang harus mengambil pilihan better never than late. Misal ketika terlambat hadir kuliah, padahal sejak awal dosen sudah menetapkan aturan mahasiswa yang terlambat tidak usah masuk kelas. Nah, bila kasusnya seperti itu, ya jangan ngotot untuk masuk kelas. Ini bagian dari menghormati kesepakatan.

Itu tadi ilustrasi bila kita mengalami dilema Better Late Than Never atau Better Never Than Late. Lalu bagaimana sikap kita bila menghadapi orang yang terlambat? Syukur kalau yang terlambat sebelumnya memang sudah izin akan terlambat(izin lho ya, bukan pemberitahuan). Tapi bagaimana kalau orang tersebut terlambat tanpa pemberitahuan sebelumnya? Apakah akan langsung kita cecar??? Atau kita beri muka masam? Atau kita diamkan? Atau ditanya baik-baik apa alasan ia terlambat?. Saya pribadi lebih cenderung untuk menanyai dulu apa alasan ia terlambat. Karena bagaimanapun, kita tetap harus memberi satu nilai positif karena ia sudah berusaha untuk tetap datang walaupun terlambat. Bisa jadi memang ada alasan kuat yang menyebabkan ia terlambat. Who knows?!  Keep husnudzon :)

Sekali lagi, penerapan Better Late Than Never atau Better Never Than Late harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Tapi pilihan utamanya tetap on time lho ya... Karena better punctual than late :)