RSS

Hutang yang Tak Akan Pernah Lunas Terbayar



Bulan lalu aku pulang ke kampung halaman... Yang rencana awal cuma 3 hari, molor jadi 3 pekan di rumah gara-gara sakit. Selama 3 pekan itu aku lebih banyak bedrest dan bahkan banyak tetangga yang tidak tahu kalau aku ada di rumah.

Ketika  terkapar itu, air mataku sering tak terbendung... Aku menangis bukan karena rasa sakit... Bukan pula kerena kesusahan... Air mata itu mengalir karena perlakuan orang tuaku.. 

Di pagi hari orang tuaku akan mengecek ke kamar tidurku, untuk memeriksa apakah panasku masih tinggi... Selain untuk mengecek, orang tuaku datang untuk membangunkanku supaya makan.. Bapak dan ibu akan berupaya membuatkan makanan yang kusuka... Ketika tubuhku menolak makanan itu, aku dibuatkan bubur yang lebih mudah dicerna... Kadang aku juga dibangunkan untuk meminum jamu yang dibuatkan oleh bapak.. Dan ketika meminum jamu itu lagi-lagi air mataku tak terbendung... Mungkin bapak mengira aku menangis karena rasa jamu yang pahit sehingga bapak bilang "ditambah lagi aja madunya biar ga pahit". Padahal aku menangis karena malu, karena ketika orang tuaku sakit, aku tidak pernah berbuat sejauh ini..

Sungguh tak terhitung hal-hal yang dilakukan dan diberikan oleh orang tuaku selama kurun waktu 3 pekan itu... Mulai dari merawatku, menyediakan segala kebutuhanku, dan tidak pernah berhenti menanyakan aku ingin apa... Padahal sekarang aku sudah bukan anak kecil lagi, dan mereka sudah tidak muda lagi... Meskipun begitu tanpa ragu-ragu mereka akan berusaha memenuhi segala kebutuhanku tanpa diminta. 

Ketika aku berpamitan untuk kembali ke tanah rantauan, bapak ibu memeluk dan menciumku sembari meminta maaf kalau selama aku di rumah tidak bisa memenuhi semua pengharapanku dan minta maaf atas segala kekurangan&kekhilafan sebagai orang tua. Untunglah ketika berpamitan itu hari sudah larut dan penerangan sangat minim, karena saat mendengar permintaan maaf orang tuaku itu aku sama sekali tidak bisa menahan air mata dan aku tidak ingin mereka melihatku menangis... Karena aku tau, mereka akan jauh lebih sedih ketika mengetahui anaknya menangis.. Bapak ibuku yang sudah berbuat banyak untukku, masih meminta maaf karena merasa masih ada kekurangan.... Sedangkan aku yang belum berbuat apa-apa untuk mereka ini, rasanya masih sangat berat untuk meminta maaf. Karena kalau harus jujur, banyak sekali kekuranganku sebagai anak...

Penggalan cerita di atas hanyalah 3 pekan. Dalam 3 pekan itu mereka sudah memberikan banyak hal yang tidak sanggup aku balas..... Apalagi kalau aku menghitung apa yang sudah mereka berikan seumur hidupku... Jangankan membalas mereka, menghitung pemberian mereka pun aku tidak mungkin bisa, karena banyaknya tak terhingga... Dan ketika aku mengingat-ingat  lagi apa saja yang sudah kulakukan untuk orang tuaku, sungguh belum ada apa-apanya. Jadi sepertinya aku tidak akan pernah bisa menyaingi pemberian mereka...  Salah satu  hal yang sangat kukagumi dari orang tuaku adalah mereka selalu 'memberi' ke anak-anak mereka tanpa menuntut balasan apapun. Tidak pernah mereka meminta ini itu atau menuntut supaya kami melakukan ini itu. Keinginan mereka hanya 1, yaitu ingin kami menjadi anak yang sholih dan sholihah dan bermanfaat bagi orang lain.


Ketika aku mengingat kematian dan sadar bahwa Allah bisa mengambil nyawa kami kapan saja, aku merasa tidak akan pernah bisa 'melunasi' pemberian orang tuaku ketika ajal tiba. Entah akan lebih dulu ajal orang tuaku, atau lebih dulu ajalku. Jadi janganlah kita pernah menunda untuk berbakti pada orang tua, selagi belum terlambat. 

Semoga kami(aku dan saudara-saudaraku) bisa menjadi anak-anak yang sholih-sholihah, agar harapan&do'a bapak ibu bisa terwujud. Aaamiin...



“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”.
—(QS. An-Nisa’:36)
Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".”
—(QS. Al Isra’:23-24)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.”
—(QS. Luqman: 14)

“Katakan: Marilah kubacakan apa yang telah diharamkan kepada kalian oleh Rabb kalian yaitu janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tua.”
—(Al-An’am: 151)


2 comments:

Muhammad Iqbal Muharram Ruhyanto said...

#speechless

kisah orang tua, kumpulan narasi epic..

tabik, untuk para orang tua

Nurul said...

pas saya di rumah, saya yang speechless :')

Post a Comment