RSS
Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Ketika Kekurangan Menjadi Keistimewaan


Sebut saja namanya Ani -bukan nama sebenarnya-. Saya mengenal Ani sekitar setahun yang lalu, ketika sedang menjemput adik saya di asrama. Kesan pertama bertemu Ani saya langsung terkesima. Ya, terkesima. Karena sembari saya menunggu adik saya bersiap-siap, Ani berinisiatif untuk ngobrol dengan saya. Bukan hanya obrolan basa basi, tapi dia betul-betul aktif memperdalam pertanyaan-pertanyaannya, dan juga memberi jawaban panjang lebar atas pertanyaan saya. 



Lalu apa yang spesial dengan itu? Well, itu sangat spesial bagi saya, karena Ani adalah penyandang tuna rungu. Ya, asrama yang saya maksud di sini adalah asrama di sebuah Sekolah Luar Biasa di Sleman. Seorang penyandang tuna rungu bisa bercakap-cakap dua arah adalah suatu capaian yang luar biasa. Iya, bercakap-cakap dengan berbicara, bukan dengan bahasa isyarat.



Bagi orang-orang dengan pendengaran yang normal, bercakap-cakap mungkin sudah menjadi hal biasa. Bahkan tidak semua orang dengan pendengaran normal memiliki skill komunikasi dua arah yang baik. Tapi bagi seorang penyandang tuna rungu, untuk bisa bercakap-cakap sungguh membutuhkan usaha yang luar biasa. Mungkin itulah kenapa orang awam sering menyebut penderita tuna rungu dengan 'bisu'. Bisu di sini adalah tidak bisa berbicara yang disebabkan karena tidak bisa mendengar. Sebetulnya sebutan itu juga kurang tepat, karena penderita tuna rungu ini justru cukup sering 'bersuara' dan tidak jarang suara-suara ini sangat melengking. Ketika sejak lahir kita tidak pernah mendengar suara, kita tidak tau konsep 'suara', dan bagaimana mengontrol suara yang kita keluarkan. 

Jadi bisa kita bayangkan seperti apa perjuangan seorang Ani hingga dia memiliki kemampuan seperti itu. Selama bertahun-tahun dia harus belajar membaca gerak bibir dan belajar mengeluarkan 'suara' dengan benar. Mungkin itu juga alasan mengapa jika kita perhatikan, penderita tuna rungu sangatlah ekspresif ketika berbicara. Tidak hanya artikulasi bibir yang sangat jelas, namun juga diekspresikan dengan gerakan tubuh. Dan poin paling pentingnya adalah mereka selalu fokus dengan lawan bicara.



Setelah pertemuan pertama dengan Ani tadi, beberapa minggu kemudian saya lagi-lagi terkesima. Ketika itu saya sedang mengantarkan adik saya kembali ke asrama. Ketika berjalan ke arah kendaraan, saya melihat seorang ibu sedang duduk sendirian, dan otomatis saya berikan sapaan sekilas. Ternyata saya jadi tertahan cukup lama, karena setelah saya sapa, beliau mengajak saya berkenalan dan mulai bercerita. Awalnya saya merasa annoyed, karena saya tidak jadi segera pulang. Namun kemudian saya sadar, mungkin ibu ini butuh tempat untuk sharing. Jadi akhirnya saya dengarkan cerita beliau dengan fokus. Ternyata beliau adalah ibu dari Ani. Beliau menceritakan bagaimana Ani sedari masih kecil. 

Ketika sadar anaknya tidak bisa mendengar, beliau sempat sangat syok. Ada masa-masa dimana beliau 'menyembunyikan' Ani dari masyarakat, karena malu. Namun untungnya beliau tidak mau berlama-lama mengasihani diri sendiri. Beliau ingin Ani bisa tetap mengasah potensi-potensi yang dimilikinya. Itulah kenapa beliau menyekolahkan Ani di sebuah SLB swasta milik yayasan sebuah agama. Sekolah itu memang terkenal dengan kualitas pengajaran dan prestasi murid-muridnya yang patut diajari jempol. Hanya satu hal yang tidak Ani dapatkan di sana, yaitu pelajaran agama Islam.

Suatu hari ketika sedang di rumah, beliau menyuruh Ani untuk sholat. Saat itu Ani menolak, tidak mau sholat. Dan ibunya pun semakin marah dan kemarahannya dilontarkan ke Ani. Dengan nada marah juga Ani menjawab ke ibunya 
'Ibu ga punya hak maksa aku sholat, karena ibu yang nyekolahkan aku di sekolah ******* dan ga pernah ada yang ngajari aku sholat di sana'

Deg! Saat itu si ibu langsung tertegun. Iya, selama ini beliau hanya peduli supaya anaknya bisa berprestasi.... Tapi demi prestasi itu, beliau tidak mempedulikan segi agama. Saat itu beliau terbayang, di akhirat nanti bagaimana beliau harus mempertanggungjawabkan amanah anak ini di hadapan Allah.... Saat itu juga beliau langsung sadar kalau ilmu agama jauh lebih penting dari prestasi apapun. Maka akhirnya Ani dipindahkan ke sekolah umum yang memberikan pelajaran agama Islam di sekolah. Ani jadi mulai sholat dan menutup aurat sejak dipindah ke sekolah berarasrama yang baru. 

Saat itu, sang ibu berpesan kepada Ani 'Kamu kan tau bagaimana sulitnya jadi orang tuna rungu. Bahkan ibu pun ga bisa selalu paham maksud & perasaanmu. Makanya ibu pingin kamu membantu anak-anak tuna rungu lainnya, karena pasti kamu bisa lebih memahami mereka dibandingkan orang-orang yang bukan tuna rungu. Ibu pingin kamu bisa bermanfaat bagi orang lain. Buktikan kalau dengan keterbatasan ini justru membuat kamu istimewa, karena kamu bisa memahami hal yang ga dipahami orang lain, dan bisa membantu orang-orang yang punya permasalahan seperti permasalahanmu dulu'

Dari situlah kemudian Ani menjadi sosok yang luar biasa, yang membuat saya terkesima. Ia menjadi sosok 'kakak' di asrama.  Benar apa yang dikatakan ibunya, bahkan sampai saat ini saya belum benar-benar bisa memahami adik saya. Sering kali saya tidak tau apa yang dimaksud adik saya. Dan Ani justru lebih bisa memahami adik saya dan memberi bantuan konkret. Dia lah yang sangat membantu adik saya ketika masih masa beradaptasi. Dengan telaten dia menghibur ketika adik saya menangis karena rindu keluarga.... Ia juga yang dengan sabar menemani adik saya setiap waktu makan, agar adik saya tidak kesepian. Ia yang membimbing bagaimana supaya bisa hidup mandiri ketika terpisah dengan orang tua. Dan semua itu tidak hanya dilakukan untuk adik saya, namun juga untuk penghuni asrama lainnya, terutama yang memiliki permasalahan adaptasi dan komunikasi. Ani ingin dirinya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menjadi amal jariyah bagi orang tuanya.

Kalau Ani yang berkebutuhan khusus saja bisa dengan konkret menebar manfaat untuk orang lain, lantas bagaimana dengan kita?
Dan satu hal pelajaran yang saya ambil ; di balik sosok Ani yang hebat, ada sosok seorang ibu yang sangat luar biasa dalam mendukung anaknya hingga sang anak bisa mengapakkan sayap dengan lebar.

Wejangan Kelulusan dari Bapak



Saya yakin ada banyak orang-orang di sekitar saya yang peduli dengan kelulusan saya.

Dari hasil pengamatan saya, orang-orang yang memberikan perhatian pada skripsi saya bisa dikategorikan sebagai berikut: 
  1.  Orang yang menanyakan progress saya sambil lalu...
  2. Mereka yang serius menayakan progress tapi sadar tidak bisa memberi bantuan secara konkret.
  3. Orang yang tidak menanyakan secara detail tapi selalu memberikan semangat positif.
  4. Orang yang menanyakan secara detail dan menawarkan bantuan secara konkret.
  5. Orang yang tidak banyak bertanya tapi selalu konkret dalam membantu.
  6. Orang yang tidak bertanya dan tidak membantu tapi langsung menghakimi.

    Jadi merasa termasuk yang manakah kamu? Hahaha...




Oke, jadi saya memang lumayan lama mengalami stuck di bab empat, bingung apa yang harus dituliskan karena output data saya aneh dan saya jadi semakin bingung dalam membaca data itu.
Sebenarnya bisa saja kalau saya memakai cara praktis dengan menggunakan jasa profesional terkait spss untuk mengulang olah data saya. Tapi yeah, jiwa idealis saya ternyata menolaknya. Dalam hati saya berpikir, apa gunanya saya menghabiskan waktu sangat lama untuk mengerjakan skripsi ini jika pada akhirnya saya tetap tidak paham dengan apa yang saya kerjakan. Sudah nggarapnya lama ya at least paham lah dengan apa yang dikerjakan so I won't be a total looser  ^^' 

Nah, dari situ saya bertanya dan minta bantuan sana-sini. Mulai dari minta bantuan adik binaan (dan beliau sudah lulus :D ), dan ketika si adik binaan ini bingung, beliau minta tolong temannya yang dianggap ahli soal statistik/spss ini untuk membantu saya. Subhanallah, walaupun baru pertama kali kenal dengan kawannya itu, beliau dengan sabar dan baik hati membantu tanpa menanyakan kenapa saya yang kakak tingkatnya ini masih berkutat dengan skripsi. Ga cuma itu, dia juga menawarkan nomer kontaknya pada saya supaya saya bisa menghubungi beliau sewaktu-waktu jika butuh bantuan tanpa perlu perantara adik binaan saya tadi. Selain belajar ke beliau (yang sefakultas dengan saya), saya juga bertekad untuk mempelajari statistik dan spss langsung dari anak statistik. Maka bergurulah saya pada seorang mahasiswi statistik yang sangat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena beliau sendiri masih berkutat dengan skripsinya, tapi selalu mempunyai waktu untuk dengan sabar mengajarkan ilmu-ilmunya pada saya. Dari situ kami mengulang lagi pengolahan data saya dan alhamdulillah kali ini hasilnya tidak ganjil lagi dan saya paham dengan apa makna dibalik angka-angka itu.

Beberapa paragraf di atas tadi adalah prolog dari isi judul saya :D Jadi, malam ini saya kembali berguru ke tempat anak statistik tadi karena ketika seharian nggarap di perpus tadi ada beberapa hal yang membuat saya bingung dan perlu penjelasan. Di tengah sesi pelajaran statistika dan spss ini, tiba-tiba handphone saya berdering, dan yang menelpon adalah bapak saya. Agak kaget, karena selama ini bapak saya jarang menelpon saya. Biasanya ibu yang menelpon dan setelah ngobrol dengan ibu, telpon dioper ke bapak.  

Kurang lebih begini cuplikan pembicaraan kami tadi di telpon :

Saya : assalamu'alaykum bapak..
Bapak : wa'alaykumsalam... Alhamdulillah bisa denger suara nduk'e, ditelpon sering susah (karena saya seringnya berada di area susah sinyal).
Saya  : hehehehehe (ketawa sambil ngerasa bersalah karena kayaknya kok durhaka banget jadi anak sampai orang tuanya kesulitan menghubungi)
Bapak : Lagi dimana? Di kos? Atau lagi ngisi liqo? Atau dimana?
Saya : lagi belajar di kos temen pak..
Bapak : belajar apa?
Saya : belajar statistik
Bapak : lho, kok belajar statistik?
Saya : iya, kan skripsi Nunung pakai satatistik..
Bapak : Oalah.... Soal skripsi, kemarin memperpanjangnya 1 semester bukan?
Saya : iya..
Bapak : deadline 1 semesternya itu kapan?
Saya : 31 Januari
Bapak : kira-kira bisa ga selesai sesuai deadline itu?
Saya : insyaa Allaah..... bantu do'a ya pak...
Bapak : Bapak insyaa Allaah mendo'akan terus tanpa perlu diminta...   Selama ini kan Nunung udah dapet banyak banget nikmat dari Allah, yang ga terhitung jumlahnya... Bisa jadi lulus agak lebih lama dari yang lain ini bentuk ujian Allah untuk Nunung..... Jadi yang sabar ya nduk, jangan lupa sama nikmat Allah yang banyak itu. Tiap orang punya ujiannya masing-masing.
Saya : *mata berkaca-kaca*
Bapak : Lagian Nunung di situ kan ga cuma untuk belajar psikologi..... Tapi juga belajar ilmu kehidupan.... Dan yang paling utama ya belajar agama... Ilmu agama itu yang paling penting dan harus diutamakan... Insyaa Allah banyak yang bisa Nunung pelajari selain ilmu di perkuliahan..
Saya : *mulai mbrebes*
Bapak : jadi jalani aja semuanya dengan sabar & tawakal... Bapak bantu dengan do'a... 
Saya ; insyaa Allaah pak..
Bapak : udah dulu ya, Nunung lanjutkan aja belajarnya.....Assalamu'alaykum..
Saya : wa'alaykumsalam...

Masya Allah.... Setelah mendengar wejangan bapak tadi, rasanya bener-bener adeeeeemmmm banget.  Saya yakin banyak orang yang juga perhatian pada saya... Tapi sangat sedikit yang asertif dalam menunjukkan perhatiannya... Bapak sudah mengenal saya sejak dilahirkan, jadi memang tidak heran kalau bapak tau bagaimana cara memotivasi saya tanpa menghakimi.. 

Sejak awal kuliah, berkali-kali orang tua  saya menegaskan kalau mereka menyekolahkan saya supaya saya memperoleh ilmu, bukan supaya saya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Karena kewajiban orang tua adalah memberi bekal ilmu pada anak-anaknya supaya kelak bisa memberi manfaat pada banyak orang. Insyaa Allaah orang tua saya tidak pernah silau dengan gelar ataupun jabatan, karena semua itu hanya bersifat fana. 
Maka mari luruskan niat, karena apa kamu menyelesaikan kuliahmu?

Bener kata bapak, selama ini sungguh banyak nikmat yang sudah saya dapatkan. Dan bagi saya, salah satu nikmat terbesar saya adalah memiliki orang tua yang luar biasa. Dengan orang tua yang sangat luar biasa seperti ini, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Semoga Allah senantiasa memberi nikmat sehat, iman, dan taqwa untuk bapak ibu..


Tulisan ini saya persembahkan untuk orang-orang luar biasa di sekeliling saya, yang selalu menjadi supporter saya entah bagaimana pun bentuk supportnya... Semoga Allah membalas kebaikan kalian :) dan untuk kawan-kawan yang juga sedang berjuang :)


Sleman, 8 Desember 2014






The Special One







Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menulis tentangnya.. Tepatnya sejak awal saya diamanahi untuk mendampinginya. Saya ingin membuat catatan rutin perkembangannya, namun ternyata niat itu tak terlaksanakan... Jadilah sekarang saya tuliskan versi ringkasannya.


Namanya adalah Ghina. Dia adalah sepupu saya dari pihak ibu. Sebagai anak tunggal, bisa dibilang sejak lahir dia tidak pernah terpisah dari orang tuanya. Lantas di mana spesial-nya? Dia spesial karena dia memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dari orang kebanyakan :)  Ya, dia tuli sejak kecil. Sayangnya kondisi ini tidak terdeteksi sejak dini sehingga bisa diberi penanganan yang khusus. Kombinasi antara dia yang tidak bergaul dengan orang lain selain orang tuanya dan teman-temannya di sekolah yang mayoritas adalah anak autis, jadilah pada usia 12 tahun dia masih memiliki kesulitan dalam mengekspresikan maksudnya. Dia tidak bisa berbicara, dan juga tidak bisa bahasa isyarat (yang resmi diajarkan di SLB B). Mungkin itu juga alasan kenapa dia hanya mau berinteraksi dengan orang tuanya.

Singkat kata, orang tuanya sadar bahwa kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Ghina tidak akan pernah bisa mandiri bila dia tidak pernah bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Belum lagi kebiasaan tantrumnya bila punya keinginan yang tidak dipenuhi. Maka dari itu walaupun tidak tega, orang tua Ghina memutuskan untuk menyekolahkan Ghina di sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, yaitu SLB (B). Upaya yang mereka lakukan sungguh tidak setengah-setengah. Satu semester sebelum kelulusan SD Ghina sudah diajak terbang ke Pulau Jawa untuk mensurvei sekolah yang kira-kira cocok untuknya. Akhirnya mereka memutuskan Ghina bersekolah di SLB di Sleman, DIY.

Itulah awal mulanya saya diamanahi untuk menjadi wali Ghina di daerah rantauan ini. Tentu saja di awal saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tidak pernah memiliki adik, jadi tidak tau bagaimana cara memperlakukan seorang adik. Saya juga tidak mempunyai saudara perempuan, jadi saya juga bingung bagaimana cara memperlakukan saudara perempuan. Kecanggungan itu disempurnakan dengan saya tidak tau bagaimana cara berkomunikasi dengan anak tuna rungu yang cukup sulit untuk diajak fokus pada lawan bicara.  

Masa-masa awal perkenalan kami sungguh lumayan sulit. Ghina sulit untuk saya ajak kontak mata dan hanya diam tanpa ekspresi. Itulah saat dimana saya ingin mulai menulis 'Jurnal Perkembangan Ghina'. Saat itu saya bertekad untuk membangun trust Ghina kepada saya... Agar dia tidak lagi diam tanpa ekspresi.

Itu kisah setahun yang lalu. Alhamdulillah sekarang hubungan kami sudah mengalami banyak kemajuan. Ghina juga sudah mengalami banyak kemajuan. Satu poin penting dalam menangani anak berkebutuhan khusus, kita tidak bisa menyamakan parameter perkembangan setiap anak. Hal-hal yang biasa saja bagi orang lain, bisa jadi sangat luar biasa bagi anak berkebutuhan khusus.

Ghina yang sekarang sudah bisa saya paksa untuk fokus melihat mata saya ketika saya ajak berkomunikasi. Oke, dia memang masih belum bisa bahasa isyarat ataupun membaca gerak bibir. Dia juga belum terlalu paham arti kata-kata dalam bentuk tulis. Tapi well, dengan kontak mata ini at least kami cukup bisa menyampaikan maksud kami satu sama lain, dengan dibantu bahasa isyarat acak-acakan ala Tarzan :D Ghina yang sekarang juga sudah cukup bisa dikendalikan emosinya, tidak gampang tantrum bila keinginannya tidak terpenuhi saat itu juga. Dia juga sudah bisa mencuci baju sendiri :D Dan yang paling membuat saya bahagia adalah dia sudah mau mengekspresikan afeksinya pada saya, entah itu dengan memeluk atau bercanda. Bagi orang lain mungkin itu tidak dianggap sebagai capaian yang luar biasa. tapi bagi saya itu sudah one step ahead dari Ghina yang pertama kali saya kenal.

Banyak pengalaman-pengalaman unik yang saya alami bersamanya. Tantangan yang paling terasa adalah ketika saya harus mengantarkannya pulang ke Samarinda ketika liburan kenaikan kelas beberapa bulan yang lalu. Pertama-tama saya harus berjuang untuk memahamkan dia bahwa kami akan melakukan perjalanan pulang ke rumahnya. Saya bahkan sudah menyiapkan surat pengantar dari pihak sekolah yang menjelaskan bahwa dia anak berkebutuhan khusus. Saya khawatir petugas di bandara mencurigai saya sebagai penculik anak di bawah umur. Karena Ghina belum memiliki KTP dan dia tidak akan bisa menjawab jika ada petugas yang menanyainya. So, lebih baik bersiap dengan kemungkinan terburuk :D Ketika di ruang tunggu bandara pun saya harus berkali-kali meminta maaf dan memberi penjelasan pada orang-orang yang berniat baik dengan mengajak ngobrol Ghina dan kebingungan ketika orang yang diajak bicara hanya menatap diam tanpa ekspresi. Dan ketika saya jelaskan bahwa Ghina tuna rungu, kebanyakan dari mereka langsung jadi awkward, bingung bagaimana harus memperlakukan Ghina. Yah, begitulah potret masyarakat kita,masih canggung dan bingung dalam berinteraksi dengan orang-orang berkebutuhan khusus.

Sekarang saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengenal seorang Ghina. Dia membuat saya bisa lebih mempersiapkan mental jika kelak saya menjadi orang tua. Oke, saya yakin semua orang berharap memiliki keturunan yang semua inderanya bisa berfungsi dengan normal. Tapi di sisi lain kita juga harus siap dengan seperti apapun anak yang diamanahkan Allah pada kita. Bisa jadi kita diamanahi seorang anak yang berkebutuhan khusus. Banyak orang tua yang tidak mau menerima kenyataan bahwa anaknya berkebutuhan khusus, dan itu hanya akan memperlambat perkembangan anak mereka. Ada juga yang menyembunyikan anak mereka di rumah karena dianggap sebagai aib. Padahal semua anak pastilah ciptaan sempurna dari Allah :) Tugas sebagai orang tua adalah menjaga amanah ini sebaik-baiknya, sesuai dengan kebutuhan mereka :)

Memilih Pemimpin yang Memenuhi Kriteria Seorang Pemimpin



Sumber gambar :  http://aengaeng2.blogspot.com/




Dulu, saya pernah mendengar percakapan sepasang suami istri yang menurut saya lucu tapi memang membuat saya berpikir.
*kata2nya saya ga inget secara detail, tapi kalau ditulis dengan bahasa saya kurang lebih begini :
--------------------------------------------------------------------------
Istri : "Bi.... liat tuh, rumahnya bu Dulah (bukan nama sebenernya) bersih terus, soalnya pak Dulah (bukan nama sebenernya juga) rajin banget bersih-bersih rumah sampai sebersih2nya.... Ada yang kotor dikit langsung dibersihin.... Coba abi juga kayak gitu.."

Suami : (dengan nada ringan dan ekspresi jail) "Oh, emang ummi mau punya suami kayak pak Dulah? Yang kerjaannya bersih-bersiiiiihhh mulu, dan manut dengan instruksi istrinya..."

Istri : (sambil senyum2)" iiiiihhhh.... ya gamau laaaahhh...."

Suami : "hehehe... makanya disyukuri punya suami kayak abi ini"
---------------------------------------------------------------------------
 Itu tadi sepenggal obrolan mereka yang membuat saya mikir 'iya ya, betul. Rajin bersih2 rumah itu kebiasaan yang baik, tapi untuk jadi kepala rumah tangga ya ga cukup dengan rajin bersih2.... Masih ada banyak kriteria yang lebih prioritas dari itu...'

Bagai orang yang bekerja di jasa cleaning service, skill bersih2 itu memang jadi prioritas.. Tapi belum tentu itu jadi skill prioritas untuk job yang lain.
Untuk menjadi pilot, dibutuhkan skill yang mendukung pekerjaan pilot..
Untuk menjadi sekretaris, dibutuhkan skill yang menunjang job sekretaris...
Seseorang dengan kualifikasi skill seorang pilot, tidak akan pas bila mendaftar kerja sebagai sekretaris. 
Okelah, itu tadi contoh ekstrem, tapi logika sederhananya seperti itu.

Nah, lantas bagaimana dengan PRESIDEN? Logikanya tetaplah sama : Carilah orang yang memenuhi kriteria untuk menjadi seorang presiden.

Jika bingung ketika dihadapkan pada pilihan yang menurut kita sama-sama baik, pilihlah kebaikan/kelebihan yang sekiranya sesuai dengan peran presiden.

Memang, kriteria ideal ini bisa jadi subjektif untuk masing-masing orang. Tapi marilah kita mencoba untuk berpikir tidak hanya sesuai subjektif kita, tapi juga memikirkan dari perspektif bangsa dan negara Indonesia. Pikirkanlah, seperti apa kriteria ideal seorang presiden(yang tentu saja berkaitan dengan jobdes sebagai presiden), dan pilihlah calon yang paling mendekati kriteria tersebut...

Jangan sampai logikanya terbalik --> Sudah kekeuh ada calon yang diunggulkan, lalu jobdes presidennya menyesuaikan dengan skill calon tadi.

Mari (mencoba) jadi pemilih yang cerdas :)

------------------------------------------------------------------------------
Ilustrasi tambahan --> kalau cuma mau nyari presiden yang baik menurut subjektif saya sih saya bakal milih pakde yang rumahnya di depan kos saya. Udah orangnya rajin ke masjid untuk sholat 5 waktu, selalu ramah nyapa tiap kali saya lewat, suka bagi2 sirsak kalau lagi panen sirsak, dan tiap pagi rajin nyapu sampai depan kos saya :3 Tapi berhubung kelebihan2 tadi pasnya emang jadi kriteria tetangga, bukan presiden, makanya saya ga minta pakde untuk nyalon jadi presiden Indonesia, cukup jadi tetangga saya aja *yaeyalah :D

#JanganLupaNyoblosTanggal9Juli2014






Sleman, 5 Juli 2014

Wasiatku



Bismillah...

Nama saya Nurul Hidayati. Ketika wasiat ini dibuat status saya adalah belum pernah menikah, belum memiliki keturunan langsung, dengan anggota keluarga inti yang masih hidup adalah bapak ibu serta tiga orang kakak laki-laki, dan memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah meninggal, serta belum menunaikan ibadah Haji. Saat ini saya sedang merantau di Yogyakarta, dan orang tua(wali) saya tinggal di Bali.

Wasiat ini saya buat dan saya publish di sini adalah agar nanti ketika saya meninggal tidak terjadi banyak perdebatan di antara orang-orang yang ada di sekitar saya, dan hal-hal yang saya harapkan untuk terpenuhi setelah saya meninggal bisa segera ditunaikan.

Bila di kemudian hari ada perubahan kondisi, insya Allah perubahannya akan saya sampaikan.

Berikut wasiat yang saya harap bisa ditunaikan ketika saya meninggal:

  1. Segera mandikan dan jaga aurat jenazah saya.
  2. Bila lokasi saya meninggal terbilang jauh dari tempat tinggal keluarga saya, segera hubungi keluarga saya. Kontak mereka ada di ponsel saya. Berikut keluarga yang saya cantumkan di ponsel saya. Bapak: Abah Papi. Ibu: Mami. Kakak 1: Yudha. Kakak 2: Wahyu. Kakak 3: Heru.
  3. Aturlah proses pemakaman agar semudah dan sesegera mungkin. Saya tidak memiliki pesan spesifik terkait lokasi pemakaman. Bila memungkinkan, makamkanlah saya di daerah tempat saya menghembuskan nafas terakhir agar prosesnya tidak memakan waktu yang lama. Tidak perlu juga menanti agar anggota keluarga sudah hadir dengan lengkap(alhamdulillah ini sudah menjadi kesepakatan di keluarga kami).
  4. Jangan berlebihan dalam meratapi kematian saya.
  5. Tidak usah memasang batu nisan atau segala bentuk bangunan lainnya di atas makam saya.
  6. Terkait harta yang ditinggalkan, gunakan itu untuk segera melunasi segala bentuk utang yang saya miliki jika memang saya memiliki utang, lalu tunaikan zakat dari segala bentuk harta yang saya miliki jika memang sudah mencapai nishob. Kemudian sisihkan juga sebagian untuk melunasi kekurangan biaya ibadah haji. Setelah hal-hal yang saya sebutkan tadi tertunaikan, bagikanlah harta saya sebagaimana hukum waris dalam Islam.
  7. Gantikan saya dalam menunaikan ibadah haji (insya Allah jadwal berangkat adalah tahun 1443 H). Terkait siapa yang akan mewakilkan, silahkan nanti disyurokan di antara keluarga saya.
  8. Sebisa mungkin tolong ditutupi aib-aib yang saya miliki, jika memang ada yang mengetahui aib-aib saya.
  9. Do'akan saya tanpa harus mengadakan acara khusus untuk mendo'akan.
  10. Segala hal yang belum saya sebutkan di sini bila memungkinkan silahkan disyurokan dengan melibatkan wali saya.

Sleman, 16 April 2013/1434H 

Sepandai-pandai Tupai Melompat Pasti Pernah Jatuh Juga, Begitu Juga Dengan Pengendara Motor


Kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti pernah jatuh juga. Saya belum pernah melihat tupai melompat di alam liar, cuma pernah melihat tupai di dalam kandang dan tupai di film kartun (itu loohhh... film Chipmunks *ga penting). Intinya adalah, karena saya belum bisa membuktikan kalau pepatah itu salah maka untuk saat ini saya anggap itu benar.

Nah, saya rasa pepatah tentang tupai tadi cocok diterapkan ke pengendara sepeda motor. ‘Sepandai-pandai orang mengendarai motor, pasti pernah jatuh juga’. Kenapa saya menerapkannya hanya ke pengendara motor? Karena keyword-nya adalah ‘jatuh’ :D Kalau kendaraan darat yang rodanya lebih dua judulnya kan bukan jatuh, tapi tabrakan (kecuali kalau jatuh ke jurang ikut dihitung). Selain itu saya cukup sering menemui pengendara mobil yang sama sekali belum pernah tabrakan (alhamdulillah saya juga ga pernah ^^). Trus kalau kendaraan untuk perairan, judulnya juga bukan jatuh, tapi kelelep atau tenggelam. Sedangkan kendaraan udara, judulnya memang ‘jatuh’. Tapi sepertinya ‘supir’ kendaraan udara yang pernah menjatuhkan kendaraan dari udara persentasenya sangat kecil. Ya horor juga kalau misal semua pilot pasti pernah menjatuhkan pesawat @_@.

Haiissshhh..... panjang bener sih prolognya(self talk). Jadi intinya itulah kenapa saya menganalogikan pengendara motor sebagaimana tupai versi pepatah.

Dan daripada saya nggosipin orang lain, seperti biasa tulisan saya ini akan based on my true story ^^

Pertama kali saya belajar mengendarai motor adalah ketika kelas 1 SMP. Waktu itu saya belajar bukan dengan sukarela tapi DIPAKSA oleh bapak saya. Alasan bapak saya memaksa adalah supaya saya tidak terus-terusan manja minta diantar kesana kemari. Maka jadilah saya mengawali pelajaran mengendarai motor dengan mengendarai si Vega yang merupakan motor ibu saya saat itu. Dan ayo tebak dimana saya belajar mengendarai motor? ;)

Jalan depan rumah? Bukan!
Lapangan kampung? Bukan!
Jalan raya? Bukan!

Dan jawabannya adalah...... Tadaaaaaaa....... di lapangan tembak Sekolah Kepolisian Negara ^_____^

Hehehehehe.. Setelah beberapa sesi pelajaran mengendarai motor dari sang tutor (bapak saya), akhirnya saya kembali mengalami paksaan. Kali ini adalah paksaan untuk pergi dengan mengendarai motor sendiri tanpa didampingi siapapun. Awalnya saya menolak, tapi paksaan tadi betul-betul tidak bisa ditawar dan saya pun berpikir pasti akan ada hikmah dari semua paksaan itu (fyi, pas masih kecil saya ga doyan sayur trus dipaksa makan sayur sama bapak saya dan akhirnya sampai sekarang suka sayur). Akhirnya saya bersedia sesekali pergi les dengan mengendarai motor sendiri ;)

Oke... sekarang kita mulai masuk ke bahasan yang agak nyambung dengan judul, yaitu sepandai-pandai orang mengendarai motor pasti pernah jatuh juga. Berikut ini adalah pengalaman kecelakaan motor saya yang berhasil saya ingat. Maksud kecelakaan motor di sini adalah ketika motor mengalami kecelakaan dan saya terlibat di dalamnya entah sebagai pengendara ataupun penumpang.

  1. Kecelakaan motor yang pertama saya alami terjadi sebelum saya masuk TK. Saat itu saya dan kakak saya sedang dibonceng bapak dengan mengendarai motor Honda GL. Saya duduk di depan(di tangki) dan kakak saya duduk di belakang. Entah bagaimana detail kejadiannya, tiba-tiba kami bertabrakan dengan pengendara motor lain.Jalan penuh ceceran darah dan anak yang dibonceng si pengendara lain itu harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya kritis. Lalu bagaimana kabar bapak, saya, dan kakak? Bapak saya langsung ikut mengantar ke rumah sakit sedangkan saya dan kakak dititipkan ke pemilik toko yang berada di pinggir lokasi kejadian (pemilik toko ini adalah kenalan bapak saya). Kakak saya hanya mengalami beberapa luka gores dan alhamdulillah saya tidak terluka.
  2. Kali ke dua saya mengalami kecelakaan adalah ketika saya kelas 3 SMP. Cerita tentang kejadian ini diawali dengan saya yang pergi les biologi dengan mengenakan kaos kelas saya yang masih gress dan kinclong. Ketika les, teman-teman saya pada mengagumi kaos saya yang masih kinclong, karena kebanyakan kaos kelas mereka sudah bulukan. Dan waktu itu saya jadi besar kepala cuma gara-gara punya kaos kelas yang masih terlihat brandnew dan paling kinclong dibandingkan dengan milik yang lain. Dan apa yang terjadi? Sepulang les, saya yang belum terlalu mahir mengendarai motor itu tiba-tiba diserempet pengendara motor lain yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya jatuh terseret di jalanan aspal rusak yang becek karena baru tersiram hujan. Bagaimana kondisi saya? Kaos kelas saya rusak karena terkena noda lumpur yang walaupun dicuci berkali-kali tetap tidak bisa kembali seperti sedia kala dan menjadi kaos kelas yang terlihat paling usang dibandingkan dengan milik yang lain. Selain itu saya banyak mendapatkan lecet, wajah penuh lebam dan darah karena ada kulit yang sedikit robek. Itu kasus tabrak lari, dan akhirnya ada seorang bapak yang menawarkan mengantar saya pulang.
  3. Kecelakaan ke tiga saya terjadi ketika saya kelas 1 SMA. Waktu itu teman sekolah sekaligus teman les matematika saya yang bernama Tari baru saja dibelikan motor. Supra X yang sangat cling. Maka jadilah kami berdua mencoba jalan-jalan dengan mengendarai motor ini. Kami berboncengan dengan saya yang menjadi pengendara. Di suatu tikungan, saya ingin menyalip bemo(angkot) dari kiri dan akhirnya terserempet badan bemo dan kami jatuh ke trotoar. Itu kali pertama motor itu memperoleh goresan dan pelakunya adalah saya. 
  4.  Pengalaman ke empat terjadi ketika kelas 2 SMA. Kali ini cerita ‘jatuh’nya agak berbeda dari kisah-kisah sebelumnya. Karena yang jatuh di sini hanya motor saya dan saya tidak ikut jatuh. Lho, kok bisa???? Hehehehe.... begini ceritanya... Alkisah ketika itu saya baru saja dibelikan motor. Sebenarnya saya minta dibelikan Jupiter Z. Tapi ketika pulang sekolah tiba-tiba di garasi rumah sudah ada motor baru, namun bukan Jupiter Z melainkan Karisma berwarna silver. Waktu itu saya kecewa dan menyampaikan ketidaksukaan saya. Macam-macam lah alasannya.. mulai dari bodynya yang tinggi, berat, susah dikendalikan, bla bla bla.... pokoknya waktu itu saya benar-benar tidak bersyukur. Untung orang tua saya penyabar, jadi tidak keluar kata-kata seperti “dasar anak ga tau diuntung!!” ^^’ Saya manyun selama berhari-hari hingga pada suatu hari saya mendatangi sekolah tempat ibu mengajar(SLB B Singaraja) dan memarkir si Karisma di pinggir selokan/got deppan sekolah. Turun dari motor baru saya menyadari kalau struktur tanah tempat saya memarkirkan motor itu miring dan membuat motor menjadi tidak seimbang. Saya refleks menangkap motor saya yang hampir jatuh dan saya pegang di bagian sisi stang. Namun apa mau dikata, posisi saya dan motor saat itu benar-benar tidak mendukung. Kalau saya ngotot terus memegang motor saya, bisa-bisa saya ikut jatuh ke selokan. Akhirnya dengan sedih saya lepaskan pegangan saya ke stang si Karisma dan akhirnya si Karisma nyemplung ke selokan (_ _’)
  5. Sejak kasus motor saya nyemplung selokan itu, saya jadi lebih bersyukur dan berhenti manyun dan berhenti membenci si motor. Untuk memperkuat rasa cinta saya ke si Karisma, saya mengajukan proposal penggantian velg menjadi velg racing ke bapak saya dan alhamdulillah di-acc. Jadilah si Karisma DK 2288 VP(sekarang jadi DK 2202 UL) makin cantik dengan velg racing barunya yang berwarna putih. Beberapa hari setelah berganti racing saya mengendarai si Karisma ke acara pengajian PII. Teman-teman pengajian langsung pada mengomentari dan memuji velg baru saya dan saya pun jadi bangga dan makin memamerkannya. Dan sepertinya lagi-lagi Allah menegur saya secara langsung. Sepulang dari pengajian itu saya mengalami kecelakaan. Saat itu saya tidak mengenakan helm. Karena pergi pengajian, maka saya mengenakan jilbab, dan karena mengenakan jilbab, maka saya tidak memakai helm karena di daerah saya orang yang mengenakan jilbab tidak dikenai kewajiban mengenakan helm(sampai sekarang pun akan sangat jarang dijumpai muslimah berjilbab yang memakai helm ketika mengendarai motor). Dengan kondisi tidak berhelm itu saya mengendarai motor dengan kecepatan agak tinggi (sekitar 70km/jam) dan tiba-tiba di depan saya ada motor yang dengan mendadak belok tanpa menyalakan lampu reting(kalaupun menyalakan, baru dinyalakan bersamaan ketika belok). Tak terhindarkan lagi, walaupun sudah berusaha mengerem saya tetap menabrak motor itu. Sepertinya saya mengalami benturan keras di kepala terbukti dengan saya yang sempat tidak sadarkan diri. Selain tida sadarkan diri dan luka di sekujur badan, ayo tebak apa lagi yang terjadi? Sepertinya pembaca sudah bisa menebak ;) Yap, velg racing yang masih baru dan saya banggakan dan saya pamerkan kemana-mana itu patah. Padahal usianya belum genap seminggu (T________T). Betul-betul teguran dari Allah. Saat itu saya sempat trauma dan tidak mau mengendarai motor selama berminggu-minggu.
  6. Kecelakaan saya yang ke enam dan semoga saja juga yang terakhir baru saya alami belum lama ini. Tepatnya tanggal 7 Maret 2013. Kali ini saya dibonceng oleh sahabat saya. Terjadi ketika kami pulang dari suatu acara. Sesaat sebelum kejadian, kawan saya ini minta tolong saya untuk mengsms seseorang. Maka saya melepas sarung tangan dan mengambil ponsel. Ketika saya mengangkat kepala lagi untuk mengatakan sesuatu, pemandangan yang saya lihat saat itu motor yang kami naiki terhimpit bis di sebelah kanan dan di depan ada mobil yang sepersekian detik lagi akan kami tabrak kecuali kalau tiba-tiba motor yang kami naiki bisa mengeluarkan sayap. Ternyata motor itu memang tidak memiliki sayap, karena kami tetap menabrak mobil tadi dan tiba-tiba saya dalam posisi tereletak di aspal. Tidak lama kemudian kami diangkut ke UGD terdekat. Oh, kenapa saya menggunakan diksi ‘diangkut’, bukan ‘dibawa’??? Karena kami betul-betul ‘diangkut’ dengan mobil pick-up polisi yang sirinenya berbunyi dengan lantang. Kalau misal kami diangkut dengan ambulans, saya tidak akan memakai diksi ‘diangkut’, tapi ‘dibawa’. Setalah selesai mendapatkan pertolongan pertama di UGD barulah saya mendapat cerita lengkap kronologis kejadian kecelakaan kami dari saksi mata yang mengendarai motor di belakang kami dan tidak lain dan tidak bukan memang teman kami sendiri. Berdasarkan cerita yang saya dapatkan, setelah berhenti di lampu merah, motor kami berusaha menyalip sebuah bus(sebut saja SDR) dan kami menyalip dari kiri. Namanya juga mau nyalip, tentu saja motor tancap gas. Belum  selesai menyalip, tiba-tiba si bis kekiri dan alhasil menyenggol kami. Dan di depan kami ada mobil yang di parkir agak di badan jalan dan tidak jauh dari traffict light. Yah, sudah tidak terhindarkan lagi. Setelah tersenggol bis, kami menabrak sisi kanan mobil dan lalu terpental lagi ke badan bis. Fyi, motor yang kami naiki terlindas bis lho... O.o

    Itu tadi kisah-kisah saya seputar kecelakaan motor. Sebetulnya masih ada beberapa pengalaman ‘jatuh’ lain tapi tidak saya tuliskan karena kisahnya tidak terlalu signifikan/berkesan.
    Betul kan, sepandai-pandai orang mengendarai motor pasti pernah jatuh juga. Jadi jangan pernah takut jatuh, karena setelah terjatuh kita bisa lbangkit kembali ^^ Ngomong-ngomong soal bangkit, dari pertama kali saya jatuh, keluarga saya tidak mengizinkan saya untuk berlama-lama trauma mengendarai motor. Jadi setelah luka-luka saya sembuh biasanya saya langsung dipaksa untuk berani mengendarai motor lagi. Itu yang membuat saya salut dengan mereka, terutama kedua orang tua saya. Walaupun mereka menangis dan khawatir tiap kali melihat saya yang babak belur karena kecelakaan, mereka bukan melarang saya mengendarai motor, tapi justru ‘memaksa’ saya untuk segera bangkit lagi, tentu saja dengan wanti-wanti agar lebih berhati-hati.



Selayaknya kisah yang baik, seharusnya bisa diambil hikmah atau ibroh dari kisah itu. Mungkin sebagian pembaca sudah bisa menemukannya sendiri, tapi tidak ada salahnya juga saya sampaikan beberapa ibroh yang bisa saya dapat.


  1. Jangan terlalu bangga akan sesuatu, karena semuanya adalah milik Allah dan Allah bisa mengambilnya kapanpun entah dengan cara yang halus atau cara yang keras.
  2. Tidak boleh terlalu membenci seuatu, karena bisa jadi kau menyesal ketika terjadi apa-apa pada sesuatu yang kita benci tadi.
  3. Utamakan menyalip dari kanan, karena menyalip dari kiri sangatlah tidak direkomendasikan.
  4. Selalu gunakan helm yang berkualitas dan kencangkan gesper pada tali hingga berbunyi ‘klik’. Ingat, helm dipakai bukan sebagai hiasan atau ‘tameng’ jika ada polisi, tapi dipakai untuk melindungi diri kita sendiri. Tangan atau kaki putus bisa disambung kaki atau  tangan buatan. Tapi kalau kepala putus tidak bisa diganti dengan kepala buatan.
  5. Gunakan pakaian yang tertutup lengkap(sepatu, sarung tangan, masker, dll), terutama jika berkendara jarak jauh. Bila (na’udzubillah) Anda jatuh, benda-benda tadi bisa membantu melindungi Anda.
  6. Jangan suka belok mendadak dan ngereting mendadak kalau tidak ingin ditabrak kendaraan yang ngebut dari belakang.
  7. Jangan memarkir mobil di badan jalan, apalagi di dekat area traffic light, jika Anda tidak ingin mobil Anda tiba-tiba disruduk.
  8. Jangan lupa untuk selalu berdo’a sebelum memulai perjalanan, karena apapun bisa terjadi dan kita harus bertawakal pada Allah.
  9. dan lain lain (monggo dipikir sendiri)



"Abi, poligamilah!" Kapling hati ; Kalau Bisa Mensejahterakan Banyak orang, Mengapa Hanya Memilih Satu? :)


sumber gambar: google


"Kalau Bisa Mensejahterakan Banyak orang, Mengapa Hanya Memilih Satu?" 



 Statement lugas itu sontak membuat kami terdiam dan berpikir. Memikirkan apa? Poligami tentu saja, karena konteks statement di atas adalah tentang poligami. Bagi pembaca yang merasa bingung, monggo dibaca dulu Ketika Poligami Dipertentangkan atau Jemputlah Tulang Rusukmu yang Lain.

Biasanya saya mendengar statement yang serupa dengan judul di atas itu dari pihak laki-laki yang sedang berargumen tentang pro poligami, sedangkan para perempuan yang saya kenal kebanyakan berkisar antara sangat kontra (ekstremnya, bilang "kalau laki-laki boleh poligami berarti perempuan juga boleh poliandri") atau yang netral (misal dengan mengatakan "Saya tidak menentang konsep poligami, tapi saya pribadi menolak untuk dipoligami"). Nah, ajaibnya, statement "Kalau Bisa Mensejahterakan Banyak orang, Mengapa Hanya Memilih Satu?" yang saya dengar ini keluar dari mulut seorang perempuan yang sekaligus sudah menjadi istri.

Setelah kami berhasil melewati fase 'tersontak' tadi, otomatis kami langsung bertanya "Maksudnya gimana?". Perempuan tadi, mari kita sebut saja 'Ummi' bukannya memberikan penjelasan lengkap, tapi malah mengeluarkan statement lain yang berhasil membuat kami melongo, yaitu :

"Ternyata hati bisa dikapling" O_o

Oke, kami jadi terdiam lagi karena berusaha memahami statement tersebut. Tapi ternyata kapasitas nalar kami sangat terbatas, hingga akhirnya kami pun menyerah dan meminta penjelasan.

Ummi tadi menjelaskan, maksud dari 'kapling hati' ini baru benar-benar bisa dipahami seseorang yang telah memiliki anak. Jadi, menurut beliau, orang yang memiliki anak lebih dari satu akan otomatis 'mengapling' hatinya. How come?? Misal nih, seseorang memiliki 4 orang anak. Perasaan sang orang tua terhadap keempat anak tadi tidak akan pernah bisa sama persis. Begitu pula dengan perlakuan yang diberikan. Tapi apa itu berarti sang orang tua tidak adil terhadap keempat anaknya? Tidak juga kan.. Adil bukan berarti sama persis. Tiap anak memiliki keunikan dan kebutuhannya masing-masing, sehingga orang tua pun menyesuaikan dengan itu.


Sang Ummi tadi menganalogikan suami yang berpoligami seperti orang tua yang memiliki anak lebih dari satu. Ini juga salah satu argumen yang digunakan sang Ummi untuk 'memaksa' suaminya untuk menikah lagi. Jadi jangan takut nantinya tidak bisa adil, dan bila bisa mensejahterakan banyak orang, tentu pahala yang didapat bisa lebih banyak.

Bukannya gayung bersambut, suami dari Ummi tadi (kita sebut saja Abi) malah (lagi-lagi) menolak dengan menggunakan hujjah QS An Nisa ayat 3
 ”…Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat 
berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja…” 


Abi membalas argumen 'kapling hati' tadi dengan analogi 'mesin'. Apa pula itu? O_o

Jadi begini, ibarat kendaraan bermotor, tentu menggunakan mesin atau suku cadang lainnya. Kendaraan tadi akan sangat terbiasa dengan mesin  atau suku cadang yang sudah jadi bawaannya itu. Namun ketika ada mesin atau suku cadang baru, otomatis yang lama akan ditinggalkan (Semacam 'turun mesin' gitu kali ya.. -.-a). dan proses 'meninggalkan yang lama' ini walaupun berusaha dihindari akan tetap menjadi keniscayaan.. Karena si Abi tadi merasa tidak akan sanggup untuk adil, maka beliau memilih untuk menikahi satu saja.

Oh iya, ketika mendengar analogi tentang mesin tadi salah satu pendengar ada yang nyeletuk "Kata bapak saya, mesin yang paling pertama itu emang 
yang paling bagus" #eaaaaa 

Selain beberapa statement yang membuat kami melongo tadi, si Ummi juga memberikan statement lain, yang kali ini benar-benar so sweet ^____^  Jadi tuh, si Ummi pernah nanya ke si Abi

"di luar sana kan ada banyak akhwat yang cantik, tapi kenapa hanya memilih aku??"

dan si Abi pun menjawab

 "di atas langit ada langit"

Maksudnya adalah, tentu saja di luar sana ada banyak yang lebih baik dari yang kita miliki. Justru karena itulah kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki (senyum).

Sudahkah Kita menjadi 'Guru'?? -1,5 jam bersama ustadz Herry Nurdi-



Alhamdulillah, hari Sabtu tanggal 21 April kemarin  teman-teman UGM kembali berkesempatan untuk bertemu dengan ustadz Herry Nurdi (ex pimred Sabili). Setelah mengisi acara di masjid Mardliyyah di pagi hari, siang harinya beliau menyempatkan diri untuk makan siang sekaligus sharing bersama beberapa perwakilan  PKP AAI UGM dan DP DK.

Tema utama dari diskusi nini adalah tentang membina. Diawali dengan penyampaian dari ust Herry Nurdi tentang Lima Fungsi Guru, yaitu: 
  1. .  Mu’alim, yaitu orang yang mengajarkan ilmu. Perlu kita ingat lagi, ilmu yang palin berguna adalah ilmu agama.
1   2.      Mudarris, yaitu menjadikan sesuatu yang baru. Maksud beliau adalah bagaimana seorang guru bisa ‘memperbaharui’ muridnya. Misal memperbaharui dalam hal perspektif ataupun gaya hidup. Karena ketika seseorang mendapatkan ilmu, ia akan berhijrah dari orang yang tidak  tahu menjadi orang yang tahu, dan pengetahuan yang baru itulah yang perlu diamalkan dalam perbuatan.

3   3.    Muaddib, yakni bagaimana seorang guru harus bisa mengajarkan adab pada murid.  Muliakanlah muridmu, dan perbaiki adab mereka. Jangan pernah merasa murid adalah bawahan, dan jangan juga merasa lebih tahu dari murid kita.

Adab perlu diperbaiki, agar ilmu yang diperoleh mendapat keberkahan dari Allah. Dalam masalah adab ini, seorang guru harus memperbaiki adabnya sendiri dan kemudian memperbaiki adab muridnya.
4  4.   Mursyid, yaitu menjadi pembimbing. Bagaimana seorang guru harus bisa membimbing dan menjadi teladan bagi muridnya, terutama dalam hal ibadah.

5  5.   Murobbi. Penjelasan ustadz Herry Nurdi tentang makna murobbi sangatlah sederhana, namun juga sangat berat. Murobbi adalah orang yang membantu muridnya agar bisa mendekatkan diri pada Allah.



Itu tadi 5 fungsi guru yang disampaikan oleh ustadz Herry Nurdi. Selanjutnya siang itu dilanjutkan dengan diskusi santai dan sharing permasalahan yang ada seputar menjadi ‘guru’.
Beliau juga menjelaskan bahwa kerja guru itu 30% di kelas dan 70% sisanya di luar kelas untuk memperbaiki lingkungan dan masyarakat, karena pendekatan kultural harus dilakukan di luar kelas. Dari situ kita bisa menangkap bahwa porsi peran kultural jauh lebih besar daripada porsi untuk peran formal.

Ustadz Herry sangat menyarankan untuk  menjadikan Rasulullah dan para sahabat sebagai  subjek yang dijadikan contoh dalam pembelajaran. Banyak hal kekinian yang sebenarnya bisa dicari solusinya dengan kita memahami shiroh.

Terkadang sebagai guru kita dituntut untuk mengkombinasikan idealita dengan realita. Misal ketika kita menjadi guru untuk waktu yang dibatasi (co: aai yang cuma 1 semester), dan bingung dalam waktu yang singkat itu harus mengutamakan kesadaran, atau pengetahuan, atau amal. Kesadaran sangat penting, karena ketika sesorang melakukan sesuatu karena kesadaran, peluang untuk istiqomah akan lebih besar. Pengetahuan juga penting, karena kita tau pentingnya ilmu qobla amal. Amal juga tidak kalah penting, karena apa artinya ilmu ketika itu tidak diamalkan. Ketika kita dibingungkan tentangyang mana yang lebih prioritas, ustadz Herry mengatakan “yang utama adalah sentuh hatinya’. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan, ketika kita tidak bisa menyentuh hati mereka. Ingat, manusia bukan robot, dan tiap manusia memiliki keunikannya masing-masing.  Ketika seorang guru tidak memahami  kebutuhan muridnya, jangan harap target pendidikan bisa tercapai. Dalam mengajarkan sesuatu, paling efektif adalah dengan memberi contoh. Karena rasulullah memang lebih sering memberikan keteladanan daripada sekedar perkataan.  Ketika hanya berupa perkataan, bisa jadi hanya masuk telinga kiri dan keluar lagi lewat telinga satunya. Usta Herry mengisahkan salah satu kejadian dimana rasulullah mengajarkantentang larangan ghibah. Untuk maroji’ kisah ini, bisa ditanyakan langsung ke ustadz herry Nurdi ^^. Kisahnya adalah sebagai berikut: Suatu hari, ada seseorang yang menggunjing saudaranya. Dan diketahui oleh Rasulullah. Lalu Rasulullah  mengajak orang tadi untuk jalan-jalan. Di tengah jalan, mereka menemukan bangkai, dan kemudian Rasulullah  menyuruh orang tadi untuk memakan bangkai itu. Jelas saja orang tadi menolak. Setelah itu barulah raulullah menjelaskan dalil tentang larangan ghibah.“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12).


Selanjutnya, ada lagi  hal kontemporer yang menjadi tantangan pada masa kini, yaitu bagaiman orang sering kali memilih untuk belajar (hanya) dari buku atau internet. Bahkan tidak bisa dipungkiri kita sering kali mencari suatu jawaban dari mbah Gooogle. Untuk hal ini, ustadz Herry dengan sederhana menjelaskan bahwa kita bisa belajar pengetahuan dari buku dan internet, tapi kita tidak bisa belajar kebijaksanaan dari sana. Karena kebijaksanaan hanya  bisa diajarkan oleh seorang guru. Hikmah lebih penting dari ilmu, karena ada banyak orang yang memiliki ilmu tapi tidak bisa menangkap hikmah. 


Hal yang sering lupa dilakukan oleh seorang guru adalah memuji muridnya. Siang itu ustadz herry Nurdi melakukan satu eksperimen pada kami. Pertama kami diminta menyebutkan dengan cepat celaan yang sering digunakan guru pada muridnya. Setelah itu kami diminta dengan cepat menyebutkan pujian yang biasa diberikan guru. Hasil dari percobaan ini adalah ternyata jumlah celaan yang berhasil kami kumpulkan lebih banyak daripada jumlah pujian. Astaghfirullah..... perlu banyak instropeksi diri.
Salah satu kendala dalam dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana menumbuhkan motivasi guru. Untuk menjawab itu, ustadz Herry  menyebutkan 3 tipe guru: 1. Guru nyasar, yaitu orang yang menjadi guru karena tidak memiliki pilihan lain.
2. Guru bayar, yakni orang yang menjadi guru dengan motivasi untuk mendapatkan   bayaran.

3. Guru sadar, adalah orang yang memutuskan untuk menjadi guru karena kesadaran untuk membina.


Termasuk yang manakah kita? Salah satu dari kami menyampaikan celetukannya “yang jelas kami bukan guru bayar, karena tidak ada yang dibayar” (senyum).
yang jelas, guru itu profesi pilihan, karena tidak semua orang memiliki ‘panggilan’ untuk menjadi guru.


Pertemuan siang itu diakhiri dengan penekanan dari ustadz Herry tentang bagaimana kita harus terpercaya al amin) sebelum kita berdakwah. Muhammad mendapat julukan itu sebebelum diangkat menjadi Rasul. Kepercayaan ini sangat penting, karena ketika seseorang sudah menaruh kepercayaan, mereka akan mendengarkan apa yang kita ucapkan dan meniru apa yang kita lakukan. Ustadz Herry sempat menyampaikan tentang diplomasi media makan, dan beliau membuktikan bahwa media makan ini sangat efektif (senyum).  Dan ingat, hilangkan paradigma bahwa dakwah adalah ceramah! Jadi kita harus bisa banyak berinovasi agar orang lain bisa menangkap hilmah (senyum).



Jadi, sudahkah kita menjadi seorang 'guru'?? (senyum lagi)

Jogja, 23 April 2012
-menuangkan pikiran  ke dalam bentuk tulisan sambil menanti motor selesai diservis di sebuah bengkel-




Jilbab Pertamaku….

-repost tulisan lama-


Terinspirasi dari status FB  seorang ukhti (sebut saja Disha ^^v) yang menulis tentang jilbab…. Ketika membaca status itu, ingatanku langsung meluncur ke masa beberapa tahun yang lalu…Ketika awal-awal kuliah di jogja, banyak orang yang kaget ketika mengetahui daerah asalku. Banyak yang mengajukan pertanyaan seperti “ memang di sana banyak yang Islam??” atau “di sana banyak yang pakai jilbab ya?”. Biasanya aku tersenyum mendengar pertanyaan semacam itu.




Sejak dulu aku tau kalau jilbab itu wajib. Tapi selama masih sekolah aku memang tidak berjilbab. Ketika itu aku termasuk salah satu orang yang berpikir “apa gunanya pakai jilbab kalau perilaku belum bener”. Selain itu sistem di sekolah-sekolah negeri tidak mengizinkan muridnya untuk berjilbab. Walaupun aku sadar kalau mungkin peraturan itu bisa diperjuangkan. Tapi karena saat itu aku memang belum benar-benar sadar, jadi semua itu kujadikan pembenaran atas keputusanku untuk tidak berjilbab. Aku ingat, ketika baru masuk SMA, terdengar kabar kalau ada seorang siswi MTs yang tidak jadi masuk ke sekolahku walaupun sudah lulus ujian masuk karena tidak diizinkan berjilbab. Saat itu aku benar-benar berpikir picik “kalau pengen tetep pake jilbab ya jangan milih sekolah negeri”. Astaghfirullah..




Semua pikiran picik itu terus berlangsung hingga akhir masa SMAku. Ketika itu aku mengalami suatu pengalaman spiritual yang menjadi titik balikku. Alhamdulillah, saat itu aku bisa melihat hidayah Allah, hingga akhirnya aku berubah. Aku mulai sholat 5 waktu dan mengaji. Mungkin bagi sebagian orang itu merupakan hal yang biasa. Tapi bagiku saat itu, hal tersebut sungguh berat, karena aku tidak terbiasa. Aku berprinsip, bereskan dulu amalan-amalan wajibku. Namun ada 1 amalan wajib yang belum juga sanggup kulakukan, yaitu mengenakan jilbab. Selama sekitar 2 bulan aku terus merasa bimbang, karena belum siap menghadapi tanggapan sosial di sekitarku.




Hingga akhirnya ketika aku mulai masuk kuliah, aku belum juga merasa siap untuk berjilbab. Beberapa minggu setelah itu aku memutuskan untuk berjilbab dan mencoba berbicara dengan 3 orang sahabat baruku di kampus. Aku mengemukakan keputusanku untuk berjilbab, dan aku meminta pendapat mereka. Subhanallah… mereka sangat mendukung, dan menambah keyakinanku untuk berjilbab. Perlu digarisbawahi, 3 orang sahabatku ini beragama Hindu. Namun mereka benar-benar mendukungku ketika kujelaskan bahwa jilbab itu wajib. 




Satu hal yang agak menghambat, kami wajib mengenakan seragam ke kampus. Akan memakan waktu cukup lama untuk menjahitkan seragam baru. Akhirnya dalam semalam kakak iparku menjahitkan rok panjang yang bisa kujadikan seragam. (Thanks sist….). keesokan harinya, aku datang ke kampus dengan penampilan baru (Rok baru yang baru selesai dijahit dan jilbab pinjaman^^). Seperti dugaanku, orang-orang yang melihatku benar2 kaget (kecuali 3 sahabatku tadi, tentu saja). 


Hehe.. jelas saja mereka kaget, Karena sepanjang sejarah jurusan kami, belum pernah ada 1 pun mahasiswi yang berjilbab. Jadi aku merupakan pemandangan aneh. Tiga sahabatku tadi seolah-olah menjadi jubirku hingga akhirnya seluruh teman sekelas ikut mendukungku. Mereka merupakan teman-teman yang sangat kusayang. Mereka benar-benar selalu mendukungku dalam berbagai kesempatan. Karena kemanapun aku pergi, aku selalu menjadi sorotan, terutama bagi kakak tingkat dan juga teman kelas lain. Tidak jarang juga ada dosen yang menyindirku. Namun teman-temanku tadi selalu ada di sampingku untuk memberi dukungan T_T. Thanks guys……



Pikiranku bahwa “apa gunanya pakai jilbab kalau perilaku belum bener”  berganti menjadi  “dengan jilbab, perilaku kita pun akan turut berjilbab”. Pengen bukti??? Mending tidak usah diceritakan, soalnya agak malu-maluin ;)




Lanjut cerita di kampus…. Saat itu aku bisa mengabaikan berbagai komentar miring mengenai diriku. Hingga suatu hari, aku secara tidak langsung mengetahui ada senior yang membicarakanku dan mengatakan aku tidak mungkin bertahan dengan jilbabku, karena ketika tiba saatnya untuk magang di luar, aku diwajibkan melepas jilbabku. Tentu saja aku kaget, dan akhirnya aku bertanya langsung ke ketua jurusan, dan beliau juga mengiyakan. Beliau mengatakan “gapapa kan, lepas jilbab 1 semester saja”. Jdeeerrrrrr... Saat itu aku benar-benar syok. Masa depan terasa sangat suram, karena aku harus berhenti kuliah (tentu saja aku tidak akan memilih untuk melepas jilbab).




Aku mencoba berbicara ke beberapa pihak yang berwenang, dan hasilnya tetap nihil. Dalam keadaan kacau itu aku mengikuti tes SPMB, dan di luar dugaanku aku diterima pada pilihan pertamaku. Jelas saja aku kaget, karena aku sama sekali tidak belajar untuk persiapan tes(^^)v. Namun aku ragu untuk mengambil kesempatan itu, karena tidak ingin memberatkan orang tuaku. Aku juga merasa bila aku mengambil kesempatan tersebut, sama saja dengan aku menyerah dalam memperjuangkan jilbabku. Selain itu rasanya membuang waktu bila harus memulai lagi. Tapi orang tuaku selalu memberi dukungan dan menguatkanku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kesempatan itu. Aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa aku pergi bukan karena menyerah. Insya Allah… 




Untuk teman-teman dan keluarga yang selalu mendukungku, takkan bosan aku megucapkan terima kasih…Rasa syukur terbesarku, karena Allah selalu memberiku kekuatan…. ^^