RSS
Showing posts with label Inspirasiku. Show all posts
Showing posts with label Inspirasiku. Show all posts

Ketika Kekurangan Menjadi Keistimewaan


Sebut saja namanya Ani -bukan nama sebenarnya-. Saya mengenal Ani sekitar setahun yang lalu, ketika sedang menjemput adik saya di asrama. Kesan pertama bertemu Ani saya langsung terkesima. Ya, terkesima. Karena sembari saya menunggu adik saya bersiap-siap, Ani berinisiatif untuk ngobrol dengan saya. Bukan hanya obrolan basa basi, tapi dia betul-betul aktif memperdalam pertanyaan-pertanyaannya, dan juga memberi jawaban panjang lebar atas pertanyaan saya. 



Lalu apa yang spesial dengan itu? Well, itu sangat spesial bagi saya, karena Ani adalah penyandang tuna rungu. Ya, asrama yang saya maksud di sini adalah asrama di sebuah Sekolah Luar Biasa di Sleman. Seorang penyandang tuna rungu bisa bercakap-cakap dua arah adalah suatu capaian yang luar biasa. Iya, bercakap-cakap dengan berbicara, bukan dengan bahasa isyarat.



Bagi orang-orang dengan pendengaran yang normal, bercakap-cakap mungkin sudah menjadi hal biasa. Bahkan tidak semua orang dengan pendengaran normal memiliki skill komunikasi dua arah yang baik. Tapi bagi seorang penyandang tuna rungu, untuk bisa bercakap-cakap sungguh membutuhkan usaha yang luar biasa. Mungkin itulah kenapa orang awam sering menyebut penderita tuna rungu dengan 'bisu'. Bisu di sini adalah tidak bisa berbicara yang disebabkan karena tidak bisa mendengar. Sebetulnya sebutan itu juga kurang tepat, karena penderita tuna rungu ini justru cukup sering 'bersuara' dan tidak jarang suara-suara ini sangat melengking. Ketika sejak lahir kita tidak pernah mendengar suara, kita tidak tau konsep 'suara', dan bagaimana mengontrol suara yang kita keluarkan. 

Jadi bisa kita bayangkan seperti apa perjuangan seorang Ani hingga dia memiliki kemampuan seperti itu. Selama bertahun-tahun dia harus belajar membaca gerak bibir dan belajar mengeluarkan 'suara' dengan benar. Mungkin itu juga alasan mengapa jika kita perhatikan, penderita tuna rungu sangatlah ekspresif ketika berbicara. Tidak hanya artikulasi bibir yang sangat jelas, namun juga diekspresikan dengan gerakan tubuh. Dan poin paling pentingnya adalah mereka selalu fokus dengan lawan bicara.



Setelah pertemuan pertama dengan Ani tadi, beberapa minggu kemudian saya lagi-lagi terkesima. Ketika itu saya sedang mengantarkan adik saya kembali ke asrama. Ketika berjalan ke arah kendaraan, saya melihat seorang ibu sedang duduk sendirian, dan otomatis saya berikan sapaan sekilas. Ternyata saya jadi tertahan cukup lama, karena setelah saya sapa, beliau mengajak saya berkenalan dan mulai bercerita. Awalnya saya merasa annoyed, karena saya tidak jadi segera pulang. Namun kemudian saya sadar, mungkin ibu ini butuh tempat untuk sharing. Jadi akhirnya saya dengarkan cerita beliau dengan fokus. Ternyata beliau adalah ibu dari Ani. Beliau menceritakan bagaimana Ani sedari masih kecil. 

Ketika sadar anaknya tidak bisa mendengar, beliau sempat sangat syok. Ada masa-masa dimana beliau 'menyembunyikan' Ani dari masyarakat, karena malu. Namun untungnya beliau tidak mau berlama-lama mengasihani diri sendiri. Beliau ingin Ani bisa tetap mengasah potensi-potensi yang dimilikinya. Itulah kenapa beliau menyekolahkan Ani di sebuah SLB swasta milik yayasan sebuah agama. Sekolah itu memang terkenal dengan kualitas pengajaran dan prestasi murid-muridnya yang patut diajari jempol. Hanya satu hal yang tidak Ani dapatkan di sana, yaitu pelajaran agama Islam.

Suatu hari ketika sedang di rumah, beliau menyuruh Ani untuk sholat. Saat itu Ani menolak, tidak mau sholat. Dan ibunya pun semakin marah dan kemarahannya dilontarkan ke Ani. Dengan nada marah juga Ani menjawab ke ibunya 
'Ibu ga punya hak maksa aku sholat, karena ibu yang nyekolahkan aku di sekolah ******* dan ga pernah ada yang ngajari aku sholat di sana'

Deg! Saat itu si ibu langsung tertegun. Iya, selama ini beliau hanya peduli supaya anaknya bisa berprestasi.... Tapi demi prestasi itu, beliau tidak mempedulikan segi agama. Saat itu beliau terbayang, di akhirat nanti bagaimana beliau harus mempertanggungjawabkan amanah anak ini di hadapan Allah.... Saat itu juga beliau langsung sadar kalau ilmu agama jauh lebih penting dari prestasi apapun. Maka akhirnya Ani dipindahkan ke sekolah umum yang memberikan pelajaran agama Islam di sekolah. Ani jadi mulai sholat dan menutup aurat sejak dipindah ke sekolah berarasrama yang baru. 

Saat itu, sang ibu berpesan kepada Ani 'Kamu kan tau bagaimana sulitnya jadi orang tuna rungu. Bahkan ibu pun ga bisa selalu paham maksud & perasaanmu. Makanya ibu pingin kamu membantu anak-anak tuna rungu lainnya, karena pasti kamu bisa lebih memahami mereka dibandingkan orang-orang yang bukan tuna rungu. Ibu pingin kamu bisa bermanfaat bagi orang lain. Buktikan kalau dengan keterbatasan ini justru membuat kamu istimewa, karena kamu bisa memahami hal yang ga dipahami orang lain, dan bisa membantu orang-orang yang punya permasalahan seperti permasalahanmu dulu'

Dari situlah kemudian Ani menjadi sosok yang luar biasa, yang membuat saya terkesima. Ia menjadi sosok 'kakak' di asrama.  Benar apa yang dikatakan ibunya, bahkan sampai saat ini saya belum benar-benar bisa memahami adik saya. Sering kali saya tidak tau apa yang dimaksud adik saya. Dan Ani justru lebih bisa memahami adik saya dan memberi bantuan konkret. Dia lah yang sangat membantu adik saya ketika masih masa beradaptasi. Dengan telaten dia menghibur ketika adik saya menangis karena rindu keluarga.... Ia juga yang dengan sabar menemani adik saya setiap waktu makan, agar adik saya tidak kesepian. Ia yang membimbing bagaimana supaya bisa hidup mandiri ketika terpisah dengan orang tua. Dan semua itu tidak hanya dilakukan untuk adik saya, namun juga untuk penghuni asrama lainnya, terutama yang memiliki permasalahan adaptasi dan komunikasi. Ani ingin dirinya bisa bermanfaat bagi orang lain, dan bisa menjadi amal jariyah bagi orang tuanya.

Kalau Ani yang berkebutuhan khusus saja bisa dengan konkret menebar manfaat untuk orang lain, lantas bagaimana dengan kita?
Dan satu hal pelajaran yang saya ambil ; di balik sosok Ani yang hebat, ada sosok seorang ibu yang sangat luar biasa dalam mendukung anaknya hingga sang anak bisa mengapakkan sayap dengan lebar.

Wejangan Kelulusan dari Bapak



Saya yakin ada banyak orang-orang di sekitar saya yang peduli dengan kelulusan saya.

Dari hasil pengamatan saya, orang-orang yang memberikan perhatian pada skripsi saya bisa dikategorikan sebagai berikut: 
  1.  Orang yang menanyakan progress saya sambil lalu...
  2. Mereka yang serius menayakan progress tapi sadar tidak bisa memberi bantuan secara konkret.
  3. Orang yang tidak menanyakan secara detail tapi selalu memberikan semangat positif.
  4. Orang yang menanyakan secara detail dan menawarkan bantuan secara konkret.
  5. Orang yang tidak banyak bertanya tapi selalu konkret dalam membantu.
  6. Orang yang tidak bertanya dan tidak membantu tapi langsung menghakimi.

    Jadi merasa termasuk yang manakah kamu? Hahaha...




Oke, jadi saya memang lumayan lama mengalami stuck di bab empat, bingung apa yang harus dituliskan karena output data saya aneh dan saya jadi semakin bingung dalam membaca data itu.
Sebenarnya bisa saja kalau saya memakai cara praktis dengan menggunakan jasa profesional terkait spss untuk mengulang olah data saya. Tapi yeah, jiwa idealis saya ternyata menolaknya. Dalam hati saya berpikir, apa gunanya saya menghabiskan waktu sangat lama untuk mengerjakan skripsi ini jika pada akhirnya saya tetap tidak paham dengan apa yang saya kerjakan. Sudah nggarapnya lama ya at least paham lah dengan apa yang dikerjakan so I won't be a total looser  ^^' 

Nah, dari situ saya bertanya dan minta bantuan sana-sini. Mulai dari minta bantuan adik binaan (dan beliau sudah lulus :D ), dan ketika si adik binaan ini bingung, beliau minta tolong temannya yang dianggap ahli soal statistik/spss ini untuk membantu saya. Subhanallah, walaupun baru pertama kali kenal dengan kawannya itu, beliau dengan sabar dan baik hati membantu tanpa menanyakan kenapa saya yang kakak tingkatnya ini masih berkutat dengan skripsi. Ga cuma itu, dia juga menawarkan nomer kontaknya pada saya supaya saya bisa menghubungi beliau sewaktu-waktu jika butuh bantuan tanpa perlu perantara adik binaan saya tadi. Selain belajar ke beliau (yang sefakultas dengan saya), saya juga bertekad untuk mempelajari statistik dan spss langsung dari anak statistik. Maka bergurulah saya pada seorang mahasiswi statistik yang sangat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena beliau sendiri masih berkutat dengan skripsinya, tapi selalu mempunyai waktu untuk dengan sabar mengajarkan ilmu-ilmunya pada saya. Dari situ kami mengulang lagi pengolahan data saya dan alhamdulillah kali ini hasilnya tidak ganjil lagi dan saya paham dengan apa makna dibalik angka-angka itu.

Beberapa paragraf di atas tadi adalah prolog dari isi judul saya :D Jadi, malam ini saya kembali berguru ke tempat anak statistik tadi karena ketika seharian nggarap di perpus tadi ada beberapa hal yang membuat saya bingung dan perlu penjelasan. Di tengah sesi pelajaran statistika dan spss ini, tiba-tiba handphone saya berdering, dan yang menelpon adalah bapak saya. Agak kaget, karena selama ini bapak saya jarang menelpon saya. Biasanya ibu yang menelpon dan setelah ngobrol dengan ibu, telpon dioper ke bapak.  

Kurang lebih begini cuplikan pembicaraan kami tadi di telpon :

Saya : assalamu'alaykum bapak..
Bapak : wa'alaykumsalam... Alhamdulillah bisa denger suara nduk'e, ditelpon sering susah (karena saya seringnya berada di area susah sinyal).
Saya  : hehehehehe (ketawa sambil ngerasa bersalah karena kayaknya kok durhaka banget jadi anak sampai orang tuanya kesulitan menghubungi)
Bapak : Lagi dimana? Di kos? Atau lagi ngisi liqo? Atau dimana?
Saya : lagi belajar di kos temen pak..
Bapak : belajar apa?
Saya : belajar statistik
Bapak : lho, kok belajar statistik?
Saya : iya, kan skripsi Nunung pakai satatistik..
Bapak : Oalah.... Soal skripsi, kemarin memperpanjangnya 1 semester bukan?
Saya : iya..
Bapak : deadline 1 semesternya itu kapan?
Saya : 31 Januari
Bapak : kira-kira bisa ga selesai sesuai deadline itu?
Saya : insyaa Allaah..... bantu do'a ya pak...
Bapak : Bapak insyaa Allaah mendo'akan terus tanpa perlu diminta...   Selama ini kan Nunung udah dapet banyak banget nikmat dari Allah, yang ga terhitung jumlahnya... Bisa jadi lulus agak lebih lama dari yang lain ini bentuk ujian Allah untuk Nunung..... Jadi yang sabar ya nduk, jangan lupa sama nikmat Allah yang banyak itu. Tiap orang punya ujiannya masing-masing.
Saya : *mata berkaca-kaca*
Bapak : Lagian Nunung di situ kan ga cuma untuk belajar psikologi..... Tapi juga belajar ilmu kehidupan.... Dan yang paling utama ya belajar agama... Ilmu agama itu yang paling penting dan harus diutamakan... Insyaa Allah banyak yang bisa Nunung pelajari selain ilmu di perkuliahan..
Saya : *mulai mbrebes*
Bapak : jadi jalani aja semuanya dengan sabar & tawakal... Bapak bantu dengan do'a... 
Saya ; insyaa Allaah pak..
Bapak : udah dulu ya, Nunung lanjutkan aja belajarnya.....Assalamu'alaykum..
Saya : wa'alaykumsalam...

Masya Allah.... Setelah mendengar wejangan bapak tadi, rasanya bener-bener adeeeeemmmm banget.  Saya yakin banyak orang yang juga perhatian pada saya... Tapi sangat sedikit yang asertif dalam menunjukkan perhatiannya... Bapak sudah mengenal saya sejak dilahirkan, jadi memang tidak heran kalau bapak tau bagaimana cara memotivasi saya tanpa menghakimi.. 

Sejak awal kuliah, berkali-kali orang tua  saya menegaskan kalau mereka menyekolahkan saya supaya saya memperoleh ilmu, bukan supaya saya bisa mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi. Karena kewajiban orang tua adalah memberi bekal ilmu pada anak-anaknya supaya kelak bisa memberi manfaat pada banyak orang. Insyaa Allaah orang tua saya tidak pernah silau dengan gelar ataupun jabatan, karena semua itu hanya bersifat fana. 
Maka mari luruskan niat, karena apa kamu menyelesaikan kuliahmu?

Bener kata bapak, selama ini sungguh banyak nikmat yang sudah saya dapatkan. Dan bagi saya, salah satu nikmat terbesar saya adalah memiliki orang tua yang luar biasa. Dengan orang tua yang sangat luar biasa seperti ini, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Semoga Allah senantiasa memberi nikmat sehat, iman, dan taqwa untuk bapak ibu..


Tulisan ini saya persembahkan untuk orang-orang luar biasa di sekeliling saya, yang selalu menjadi supporter saya entah bagaimana pun bentuk supportnya... Semoga Allah membalas kebaikan kalian :) dan untuk kawan-kawan yang juga sedang berjuang :)


Sleman, 8 Desember 2014






a Great Woman -my Grandma-

-salah satu tulisan lama saya-

Siang tadi, aku mebaca sms dari seorang sahabat. Ternyata sms itu sudah dikirim sejak pagi.. Aku benar-benar menyesal karena tidak langsung membacanya. Isi sms itu adalah:

.. dan ternyata ku tak ditakdirkan melihat Oma pergi malam ini..
Dan bahkan ku tak sempat ngajiin Oma… seayat pun…
Dan biar air mata ini kutahan dulu…
Smoga taman-taman surga bagi Omaku tersayang…


Begitulah isi smsnya. Deg… aku tertegun ketika menyadari is isms itu. Seorang sahabatku telah kehilangan sosok yang berarti baginya. Ini mengingatkanku pada perasaan kuat yang terjadi belum lama ini, tepatnya pekan lalu ketika aku bertemu nenekku….

Kilas balik….. sejak kecil aku tidak terlalu mengenal sosok kakek-nenekku. kakek nenek dari ibu sudah meninggal ketika aku masik di bangku sekolah dasar. Semasa mereka masih hidup pun aku cuma beberapa kali bertemu dengan mereka.. sepertinya bisa dihitung dengan 1 tangan… karena itulah ingatanku tentang mereka sangat samar. Aku sama sekali tidak pernah bertemu kakek dari pihak bapak, karena sudah meninggal jauh sebelum aku lahir. Sedangkan nenek dari pihak Bapak, tinggal nun jauh di Poso sehingga aku sangat jarang bertemu beliau. Dulu, jarak Bali-poso rasanya jauuuuuuuuuhhhhhh sekali. Karena masalah jadwal libur dan kendala biaya, kami sekeluarga baru bisa silaturahim ke Poso ketika aku sudah duduk di bangku SMA. Jadi pengalamanku sebagai cucu sangatlah minim. Karena itulah aku tidakterlalu memiliki ikatan batin dengan kakek nenek. Apalagi karena sejak kecil bapak diangkat anak oleh nenek yang sekarang ada di Bali… 

Terkadang aku merasa iri bila ada teman yang bisa bermanja-manja pada kakek neneknya. Aku sangat ingin memiliki pengalaman dimanjakan sebagai seorang cucu.. tapi saat itu aku langsung sadar bahwa keadaanku tidak memungkinkan untuk semua itu…

Perasaan itu berubah pekan lalu, Ketika untuk ke empat kalinya aku berkesempatan untuk mengunjungi nenek di Poso… Nenek sudah sangat tua… beliau lebih sering duduk atau berbaring karena kelelahan. Pekan lalu, entah kenapa untuk pertama kalinya aku tergerak untuk memijit beliau. Tangan dan kaki beliau sudah mati rasa karena kedinginan. Karena itulah aku memijit beliau dengan minyak atsiri pemberian seorang sahabat, agar tangan dan kaki nenek bisa hangat. Pada saat itulah aku tertegun… aku baru benar-benar sadar kalau nenek sudah sangat renta.. badan beliau sudah sangat kurus… rambut beliau sudah dipenuhi uban.. dan gurat2 keriput beliau semakin banyak. Saat itu aku baru menyadari sosok wanita kuat di balik tubuh yang terlihat rapuh itu. Inilah wanita yang telah melahirkan bapak. Inilah wanita yang sudah tegar dalam menghadapi ujian hidup. Satu persatu memoriku terkumpul.. memori yang selama ini tidak pernah kupedulikan.. Wanita inilah yang telah melahirkan 13 putra putri… wanita inilah yang dengan tegar bertahan menghidupi putra-putrinya ketika ayah dari anak-anaknya meninggal ketika putri yang terakhir belum lama lahir. Wanita inilah yang sudah bekerja sangat keras untuk membesarkan anak-anaknya…

Ketika kerusuhan Poso tahun 2000 kemarin, entah sudah berapa banyak kepedihan dan kematian yang dilihat oleh nenek… Ketika satu persatu orang yang dekat dengan beliau tewas terbunuh… Ketika harus menyelinap di hutan sekian lama agar bisa menghindar dari pengejar….

Astaghfirullah… bagaimana bisa selama ini aku beranggapan bahwa nenekku adalah orang yang biasa-biasa saja, yang kebetulan menjadi nenekku… Nenekku adalah sosok yang sangat luar biasa!!!!! Beliau benar2 sudah mengalami kehidupan yang berputar seperti roda…. Pada detik aku menyadari semua itulah, aku tidak sanggup membendung air mata ini.. ya Allah… Kenapa aku baru menyadarinya… Sudah terlalu banyak waktu yang kulewati dengan perasaan yang biasa-biasa saja… Padahal setiap detik sangatlah berharga…

Hingga hari ketika aku harus pergi, aku berpamitan pada nenek. Saat itu beliau berbaring karena tidak sanggup bangkit. Ketika aku pamit pergi, nenek menangis karena tidak bisa meberiku bekal apa-apa selain do’a… kata-kata yang beliau ucapkan seolah-olah merupakan pertemuan terakhir kami…. Ya Allah…. Berikanlah aku kesempatan lagi agar bisa bertemu beliau lagi lain waktu…

This note special dedicated for my sister yang semalam Omanya dipanggil ke sisi Allah… moga beliau membawa 3 hal yang bisa menjadi bekal di akhirat. Luv u coz Allah, my sista… moga kita bisa menjadi anak2 sholihah yang menjadi bekal orang tua kita di akhirat kelak, dan bisa menjadi penyambung silaturahim dari orang tua kita.. ^________________^ tetep semangat!!!!!

Kartini(versi)ku





Ketika mendengar nama Kartini, yang langsung terbayang di kepalaku adalah sosok wanita yang sangat tegar. Menurutku, apa yang dilakukan Kartini bukan masalah kesetaraan gender atau bahkan persamaan gender.. yang dilakukan beliau adalah perjuangan.. Memperjuangkan dengan tegar hal yang dianggapnya benar, dan tidak gentar walaupun dianggap aneh oleh orang di sekitarnya. Itulah yang saya maknai dari sosok Kartini.

Jadi, pada saat ini, siapakah orang yang pantas dianggap memiliki jiwa seperti Kartini? Tentu saja banyak… di luar sana ada banyak sosok-sosok Kartini masa kini. 

Ada satu orang yang saya kenal dengan sangat baik, yang menurut saya pantas disebut Kartini masa kini. Ia bukanlah tokoh yang terkenal. Tapi perjuangan yang dilakukan benar-benar luar biasa.

Siapakah dia? Tidak terlalu penting mengetahui siapa dia. Yang lebih penting adalah mengetahuai apa yang sudah dilakukannya.


Sebut saja ia dengan Fulana. Terlahir di sebuah daerah di wilayah Indonesia bagian tengah, dari keluarga yang biasa-biasa saja. Ketika sudah lulus bangku SMA, ia melanjutkan studi ke sebuah PTS Islam di pulau Jawa. Ia menjadi mahasiswi yang aktif di organisasi kampus.

Hingga suatu hari, terjadi musibah yang merubah hidupnya secara drastis. Ia dan enam orang temannya menjadi korban perkosaan masal. Modusnya adalah dengan mencampuri minuman mereka dengan obat bius dan ketika tersadar mereka sudah diperkosa dan tidak mengetahui siapa pelakunya. Saat itu kejadian ini benar-benar membuat gempar. Dan dari keenam korban perkosaan tadi, Fulana lah  satu-satunya korban yang kemudian hamil. 

Dengan kasus yang sangat santer itu, ditambah lagi dengan keadaannya yang sedang hamil, akhirnya Fulana memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di rumah, mengetahui Fulana hamil di luar nikah, keluarganya langsung mengusirnya tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun. Akhirnya Fulana pergi ke tempat lain dan menjalani berbagai pekerjaan demi sesuap nasi. Bahkan pekerjaan di kebun sawit pun dijalaninya.

dan akhirnya bayi yang dikandungnya lahir. Seorang bayi perempuan yang cantik, yang murni tanpa dosa. Sekitar seminggu setelah melahirkan, Fulana membawa bayinya ke pulau Jawa dengan menaiki kapal. Waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan sekitar 3 hari. Bayangkan, di tempat lain, orang yang baru seminggu melahirkan kebanyakan masih istirahat memulihkan diri di rumah sakit, atau di rumah dan dirawat oleh orang tua atau mertua atau suami. Tapi di sinilah Fulana. Di atas kapal dengan membawa bayi yang masih merah, tanpa suami dan tidak mengetahui siapa ayah anaknya, dan tanpa orang tua karena sudah tidak diakui anak oleh mereka. 

Setibanya di Jawa, Fulana langsung menemui dosen yang dulu membantunya pasca kasus perkosaan. Fulana meminta bukti-bukti forensik dan surat keterangan kepolisian yang disimpan oleh dosen tadi, untuk kemudian dikirimkan ke keluarga Fulana.  Setelah itu, ibu Fulana menyusul Fulana ke Jawa dengan bercucuran air mata dan meminta maaf sebesar-besarnya karena selama ini sudah tidak mempercayai putrinya sendiri. Akhirnya bersama-sama mereka kembali ke tanah kelahiran yang menjadi rumah Fulana.

Beberapa tahun kemudian, beberapa kali Fulana menerima pinangan, dan ditolaknya. Alasan penolakannya sederhana: ia tidak akan menikah dengan orang yang tidak bisa menerima putrinya. Hingga akhirnya ada seorang ikhwan yang meminangnya. Ikhwan tidak mundur ketika Fulana menceritakan masa lalunya. Bahkan ketika Fulana menawarkan untuk memperlihatkan keterangan forensic dari kepolisian, ikhwan ini menolak karena ia percaya sepenuhnya dengan perkataan Fulana dan meminta Fulana untuk membakar semua keterangan forensic tadi, karena itu adalah masa lalu dan yang akan mereka jalani adalah masa depan.

Sedikit cerita tentang ikhwan ini, ia adalah putra dari keluarga baik-baik. Pembawaannya bijaksana, dan sangat selektif dalam hal apapun. Beberapa kali ia ditawari untuk dijodohkan dengan akhwat yang terkesan sempurna (sudah ngaji, cantik, dari keluarga baik-baik dan mampu secara finansial, sarjana), tapi ternyata ada saja hal yang dirasa mengganjal oleh ikhwan tadi sehingga ia menolak mereka. Dan ketika berita tentang ia yang meminang Fulana tersebar luar, terpaan mulai bermunculan. Salah satunya adalah sms-sms terror dari akhwat yang dijodohkan dengannya tadi. Ia tidak terima kenapa si ikhwan lebih memilih perempuan yang sangat jauh dari sempurna (drop out dari kuliah , keluarganya yang tergolong tidak mampu, dan memiliki anak di luar nikah). Muncul sudah sifat asli dari akhwat tadi. Kembali ke kisah Fulana, ia mensyaratkan kepada si Ikhwan untuk meminta restu dari orang tua dan menceritakan situasi Fulana dengan segamblang-gamblangnya. Fulana mengatakan pada ikhwan tadi bahwa dia tidak akan bersedia menerima pinangan jika tidak disertai dengan restu dari orang tua si Ikhwan. Akhirnya ikhwan tadi menceritakan dan meminta restu pada orang tuanya. Mereka merestui dan mendukung pilihan si ikhwan, bila memang sudah mantap dan dirasa membawa pada kebaikan. Akhirnya Fulana menikah dengan ikhwan tadi. Pasca pernikahan pun terpaan yang dialami Fulana masih sangat kuat, terutama dari segala berita miring yang menyertai Fulan&putrinya. Meskipun begitu, Fulan tetap tidak mengeluh atau mengadu. Ia menjalani semua itu dengan tegar. Setelah menikah, Fulana mulai mengikuti halaqoh dan Alhamdulillah bisa istiqomah. Ia juga menolak untuk bekerja di luar, dan memilih untuk berwiraswasta di rumah, walaupun di luar sana banyak tawaran dengan penghasilan menggoda. Ketika kutanya kenapa ia memilih untuk berwiraswasta di rumah, Fulana menjawab karena ia ingin menjadi ummi yang baik bagi anak-anaknya. Ia ingin mengasuh anak-anak dengan tangannya sendiri, dan sangat anti menyerahkan pengasuhan anak pada pembantu. Dan sekarang putri pertama Fulana sudah berusia 7 tahun, dan disekolahkan di salah 1 SD Islam berkualitas dan terkemuka di kota itu. dan Fulana juga sudah memiliki putrid berusia 3 tahun dari hasil pernikahannya. Subhanallah… beliau benar-benar membuatku malu. Aku mencoba membayangkan bila aku berada di posisinya. Nauudzubillah, tentu saja aku tidak mau mengalami apa yang ia alami; diperkosa, hamil, tidak diakui oleh orang tuanya, harus mencari nafkah untuk sesuap nasi dalam keadaan mengandung di tengah hutan sawit, membawa bayi berusia 1 minggu menempuh perjalanan jauh, dan cercaan yang tak kunjung reda yang disebabkan oleh hal yang luar kuasa dan kemauannya. Tapi bila aku berada di posisinya, entah apa aku masih bisa setegar dan sekuat itu.. dan aku juga sangat sangat salut dengan ikhwan yang menjadi suami Fulana.

Sosok Fulana ini l ah yang saya angp sangat pantas disebut sebagai Kartini masa kini. Bentuk perjuangannya memang sangat berbeda dengan yang dilakukan Kartini. Tapi ada satu persamaan kuat di antara mereka; mereka sama-sama muslimah, dan sangat tegar dalam menghadapi segala terpaan. Apapun terpaan dan komentar miring yang diterima, itu tidak menyurutkan perjuangan mereka karena meka yakin yang dilakukannya adalah sesuatu yang benar.


Bila kita peka, di sekitar kita akan kita temukan banyak Kartini-Kartini yang luar biasa dengan caranya masing-masing. I’m proud to be muslimah.

Tentang Dia




Hari ini ku sekilas melihat kalender di wallpaper hapeku. Tanggal 18. Aku merasa ada sesuatu yang familiar dengan tanggal itu. Beberapa detik kemudian aku sadar apa yang membuat tanggal ini familiar. 18 April merupakan tanggal lahir dari seorang kawan lama. Sebut saja Dia. Memoriku langsung mundur ke awal perkenalan kami.


Perkenalan kami dimulai 13 tahun yang lalu. Saat itu kami masih SD dan sama-sama mengikuti lomba siswa teladan tingkat kabupaten. Dalam perlombaan itu, selain tes kemampuan akademis, ada juga tes kemampuan seni. Saat itu aku memilih kerajinan tangan. Bukan karena aku sangat berbakat di bidang itu… Tapi sepertinya lebih karena mentorku sudah putus asa untuk mengajarkan musik padaku. Seruling, angklung, ataupun piano, sudah coba kulatih. Tapi karena memang tidak ada potensi musik, jadi hasilnya tidak pernah memuaskan. Kembali tentang lomba tadi, Dia benar-benar menarik perhatianku sejak awal. Well, pertama, Dia memang terlihat lumayan mencolok, karena DIa satu-satunya peserta yang Chinese. (Ini secara fisik lebih mencolok daripada fakta bahwa aku satu-satunya peseta yang beragama Islam). Kedua, aku terpesona dengan permainan pianonya.. Walaupun terpesona, aku juga merasakan aura keangkuhannya. Dia terkesan high level, alias tak tersentuh.  Entah bagaimana ceritanya, akhirnya aku bisa berkenalan dengannya . di hari terakhir perlombaan pun kami juga bertukar alamat agar bisa saling berkorespondensi.



Sejak saat itu, kami selalu berkirim surat. Frekuensi surat kami benar-benar sangat sering. Misal Dia mengirim surat hari Senin, dan surat itu kuterima hari Selasa, aku akan langsung membalas surat itu dan mengirimkannya via pos di hari Rabu, dan Dia akan langsung membalasnya. Kami juga bertukar benda-benda kecil, misal koleksi prangko, gantungan kunci, dan lain-lain. Aku selalu tidak sabar untuk mendengar cerita-cerita Dia tentang keluarga ataupun sekolah, juga kisah cinta monyetnya. Sesekali kami juga saling berbicara via telepon. Tapi itu agak jarang, karena sekalinya kami  mengobrol, bisa sampai 1 jam dan karena line telpon rumah Dia sama dengan line telpon tokonya, jadi jarang ada kesempatan untuk berlama-lama. Jadi tidak heran kalau isi surat kami bisa berlembar-lembar..


Hubungan  kami terus berlanjut hingga kami lulus lanjut ke bangku SMP. Dia sudah menjadi sahabat penaku yang paling setia. Walaupun hanya melalui surat dan telpon, aku tetap merasa benar-benar mengenalnya dan mengetahui  apa-apa saja yang Dia alami setiap hari. Dan hubungan sahabat pena kami berakhir ketika kami sudah beranjak ke SMA. Bukan karena kami sudah bosan, tapi karena iIa memutuskan untuk bersekolah di tempat yang sama denganku dan Dia pindah ke kotaku. Saat itu aku benar-benar girang, karena bisa sering bersama..


Ajaibnya lagi, ketika awal masuk kami langsung sekelas!! Teman-teman Dia ketika SMP juga ada beberapa yang bersekolah di SMA ini. Walaupun aku baru pertama kali bertemu mereka, aku merasa sudah lama mengenal mereka karena nama mereka ada di dalam surat-surat yang dikirimkan Dia.

Bila dilihat dari luar, mungkin aku dan Dia sangatlah kontras. Secara penampilan, aku Indonesia tulen dengan kulit coklat, sedangkan Dia jelas terlihat Chinese dan berkulit terang. Secara agama, kami juga berbeda; aku Islam, Dia Budha. Dari segi latar belakang keluarga juga berbeda; orang tuaku pegawai negeri dengan tingkat ekonomi yang biasa-biasa saja, sedangkan orang tua Dia adalah pengusaha dan tergolong sangat mampu.  Tapi saat itu aku berpikir, apalah arti perbedaan, ketika kami memiliki banyak kesamaan. Justru perbedaan tadi menambah keunikan kami. Itulah indahnya perbedaan. Kami bisa saling belajar memahami. Dia belajar memahami kultur, budaya, dan situasi keluargaku, dan aku belajar memahami kultur&budaya Chinese dan memahami keadaan keluarga Dia. Dari situ kami menghormati perbedaan masing-masing, dan tidak juga Dia memaksa aku untuk mengikuti kultur Dia atau sebaliknya.

Tapi seiring berjalannya waktu, hubungan kami mulai merenggang. Bukan karena ada konflik atau apa, tapi lebih pada kami menemukan orang lain yang memiliki lebih banyak kecocokan. Kurasa memang seperti itu lah kehidupan. Orang-orang yang ada di dekat kita akan silih berganti. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk membuat semuanya tetap sama, karena perubahan itulah inti dari kehidupan. Walaupun terkadang itu seperti roda yang berputar dan kita dipertemukan lagi dengan orang-orang lama. Selama masa SMA itu, ada 3 orang yang pernah sangat dekat denganku. Setelah Dia, ada teman sebangkuku selama 1,5 tahun yang juga Chinese. Kalau Dia beragama Budha, partnerku yang kedua ini beragama Katolik. Lalu tahun terakhirku di SMA partnerku adalah seorang Bali tulen beragama Hindu dan vegetarian. 
di akhir masa SMAku, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah sms. Sms ini berasal dari Dia, dan memintaku untuk datang ke kosnya. Jelas aku kaget, karena kami sudah lama tidak berkomunikasi yang lebih dari basa-basi. Dan ternyata saat itu memang momen yang membuat Dia sangat terpuruk. Dia terlibat dalam sebuah skandal yang sangat serius, terancam dikeluarkan dari sekolah, dan membuat orang tua Dia sangat marah. Orang Tua Dia memukuli&menggunting rambutnya untuk meluapkan kemarahan mereka. Seisi sekolah juga menjauhi Dia karena skandal tadi. dan saat itu aku berpikir ‘aku bukan hakim yang berhak menghakimi Dia’. Jadi aku berusaha untuk selalu menyediakan bahu ketika Dia membutuhkan. Seburuk apapun skandal itu, Dia tetap temanku. Dia sudah sangat terpuruk dan menaggung hukuman sosial yang sangat kejam, tanpa aku harus menambahkan luka dengan memalingkan wajah darinya. So, here I am..

Akhirnya waktu lah yang meredakan semuanya. Dia tidak jadi dikeluarkan dari sekolah. Dia juga berusaha menegakkan kepala dan mengabaikan komentar-komentar miring tiap kali Dia melewati gerombolan murid. Dia juga sudah berusaha berdamai dengan orang tuanya.

Itulah Dia yang kukenal. Orang yang sangat tegar. Apapun yang sudah dia perbuat, itu urusan Dia dengan Tuhan. Aku tetaplah temannya, bukan hakim. Lulus dari SMA, kami meneruskan jalan hidup masing-masing dengan sekali-sekali masih keep in touch.

Dan bila saat ini kami disandingkan, akan terlihat jauh lebih kontras daripada kami ketika SMA dulu. Sekarang aku sudah berjilbab, masih dengan penampilan yang biasa-biasa saja, setia dengan sepeda motorku dari awal SMA yang kunamai si DK dan masih berkutat dengan kesibukan mahasiswa S1 tingkat (sangat) akhir. Sedangkan Dia, penampilannya sangat stylish, dengan mobil keluaran terbaru, dan sudah menjadi mahasiswa S2 di MM Universitas Indonesia. And, so what?? Perbedaan fisik tadi bukan apa-apa ketika kami memiliki banyak kesamaan.

Walaupun aku sudah tidak dekat lagi dengan Dia, tapi aku berterima kasih karena berkesampatan untuk mengenal seorang Dia. Banyak pelajaran yang bisa kuambil dari Dia, yang bisa menguatkanku dalam menjalani jalan yang kupilih saat ini.. Dulu kami bersepakat akan tetap keep in touch bahkan sampai kami tua renta dan memiliki cucu, dan kami akan menceritakan kisah kami pada cucu kami dan memperlihatkan surat-surat kami yang sampai saat ini masih kami simpan.

Sleman, 18 April 2012
-13 tahun mengenal Dia-