RSS
Showing posts with label Campaign. Show all posts
Showing posts with label Campaign. Show all posts

Save Orangutan -available for swap-

The latest population estimate for Bornean orangutans derived at the International Population Habitat Viability Analysis (PHVA) Workshop in 2004, was approximately 55,000 individuals.  At the same time it was noted that populations are decreasing at a rapid rate owing to :
(1) forest conversion, particularly for oil-palm plantations and other forms of agriculture; 
(2) other forms of forest loss, particularly forest fires in drained peatland areas; 
(3) forest degradation by illegal logging and 
(4) hunting of orangutans for food and capture for the pet-trade. 

Approximately one third of orangutans are found in conservation forests and the remainder are under severe threat.  They are classified as Endangered by the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) and protected under Indonesian Law against any kind of persecution of them or their habitat. Nevertheless forest is still being cleared, logged or burnt and this has led to the death of many thousands of orangutans over the past decade and the displacement of many more.  Some of these displaced orangutans have been rescued by Reintroduction Centres that aim to return them back to the wild once safe and secure forests are identified (orangutan.or.id).

So postcrosser, these postcards of Urangutan are available  for swaps. So tell me which one do you want :)




Vizay was a large male urangutan with a cheekpad, who has to be tranquilized twice before rescued to BOS.

One day, Beda -means "different" in Indonesian- was voluntarily handed over to BOS by an informed individual.


Margello loves to climb trees, to test different leaves for food and to enjoy her life by sitting on a big branch, thinking :D

Aldrin loves to be around people and kiss the caretakers whenever he sees them to show his affection :)


Confiscated in East Borneo, Indonesia, from a family, Ciu weighted only 2'5 kilograms when found.


Lykke was brought back from a rescue with a broken arm, together with her mother.


Gita was a part of confiscation, which included 5 orangutans and about 100 other andangered animals, whose trader was later on caught and jailed.

Dewi and her son.


Tara was rescued from the palm oil plantation areas in Central Borneo, Indonesia.


Ollie loves to be hugged and carried around by caretakers all the time :)

Chico was fed only rice and tea for almost two months while kept as a pet and came to BOS in quite bad condition and with very bad mouth infection.

Put in the tiniest wooden box, Carlos was a very skinny little infant when he came to  BOS-Nyaru Menteng Reintroduction Center, Central Borneo, Indonesia

Brought in BOS-Nyaru Menteng Reintroduction Center, Central Borneo, Indonesia in a tiny basket with a rope around her neck and a bad scar on her face, Carmen came as a very frightened baby orangutan.





*BOS: THE BORNEO ORANGUTAN SURVIVAL FOUNDATION



































































Benar vs Salah




                                     sumber gambar: seestern2.multiply.com





Prolog

"Akhir bulan...
waktunya para Polisi itu melakukan "KORUPSI" dengan caranya...
-_-' Ketilang..." (by Fulan)

Prolog di atas ini saya kutip dari status seseorang. Tidak secara khusus bermaksud menyindir orang yang bersangkutan. Hanya saja tidak jarang saya menjumpai komentar seperti itu. Jujur, komentar-komentar itu selalu membuat saya miris.

Beberapa tahun lalu, di english class yang pernah saya ikuti, sang dosen meminta mahasiswa untuk menceritakan pengalaman yang paling berkesan. Salah seorang teman saya menceritakan tentang pengalamannya hampir ditilang polisi, dan bagaimana ia berhasil 'menyuap' polisi tadi hingga tidak jadi ditilang secara resmi. Di akhir narasinya, sang mahasiswa tadi memberikan closing statement 'fu*k in Police'. Sontak sang dosen menegur mahasiswa tersebut di saat itu dan di tempat itu juga. Beliau menegur keras mahasiswa tadi, karena mahasiswa tersebut bukannya mengakui kesalahannya, malah mencari kambing hitam. Pertanyaan pertama, mengapa ia sampai melanggar aturan?? Pertanyaan kedua, mengapa ia mencoba 'menyuap' polisi tersebut? 'this is not about the police man, but about you!!!!'. Dosen tersebut menekankan bahwa tindakan mahasiswa tadi adalah tindakan yang sangat rendah. Wow.. saat itu saya benar-benar terkejut. Karena yang saya ketahui, lifestyle sang ibu dosen tadi tidak bisa dibilang konvensional, dan tidak untuk ditiru. Tapi ternyata ada beberapa prinsip hidup beliau yang sangat kuat, termasuk tentang yang benar dan yang salah.

Kisah kedua, yaitu pengalaman saya sendiri. Ketika masih SMA dulu, saya pernah ditilang di suatu razia, karena tidak membawa STNK. Mungkin karena masih bocah dan labil, setelah itu saya mengadu ke bapak saya. Saat itu saya berpikir, 'bapak saya kan polisi'. Semula saya mengira bapak saya akan menyelesaikan urusan tilang menilang itu. Tapi ternyata apa tanggapan bapak saya?? Dengan tenang beliau menyuruh saya untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan yang sudah saya buat, karena saya memang salah.  Saat itu saya langsung malu karena sempat berpikir untuk melakukan 'jalan pintas'. Akhirnya saya menyelesaikan urusan tilang menilang itu sendiri, dengan penuh kesadaran.

Ibroh yang bisa saya ambil dari dua cerita tadi adalah, sebelum menyalahkan orang lain, evaluasi dulu diri sendiri. Oke, mungkin orang lain memang salah. tapi sebelum menegur orang lain, tegurlah diri kita terlebih dulu.  Ini seperti kasus orang yang menolak ditangkap karena sudah mencuri, dengan alasan ada temannya yang mencuri lebih banyak tapi tidak ditangkap. Masalah 'salah' dan 'benar' itu adalah masalah yang prinsipil yang seharusnya bersifat universal. Apalagi sebagai muslim, katakanlah yanghaq itu haq, dan yang batil itu batil.

Bila kita merasa keadaan Indonesia saat ini masih bobrok, ayo kita perbaiki bersama-sama. Jangan sampai kita menuding-nuding pihak lain bobrok atau korup, tapi ternyata kita juga turut berpartisipasi aktif dalam hal tersebut. Bila kembali ke konteks tilang menilang tadi, prinsipnya adalah:
  1. Jangan melanggar kalau tidak ingin ditilang
  2. Jangan mau ditilang kalau memang tidak melanggar. Karena kita punya hak untuk bicara.
  3. Bila toh akhirnya memang ditilang karena melanggar, jalani sesuai prosedur. Ikuti sidang di pengadilan. Jangan memilih 'jalan tol', karena itu berarti turut berpartisipas dalam membangun kebobrokan.
Epilog
"mang ya lembaga terkorup No.2 (Kepolisian) ada2 aja gaweannya.
seharunya slogan polisi bukan "Melindungi dan melayani" tapi "Menilang dan korupsi
susah pak. polisi mah udah kebal coz udh kebnykan makan uang haram."

Epilog tadi merupakan salah satu komentar yang ada di status tersebut. Ini mengingatkan saya pada perkataan seorang ustadz, tentang bagaimana seharusnya kita mendo'akan kebaikan untuk orang yang kita rasa berada di wilayah rawan, bukan malah makin memperparah dengan ejekan. Oke, mungkin kepolisian memang lembaga terkorup ke 2 di Indonesia. Tapi apa lantas itu bisa menjadi pembenaran bagi kita untuk menggeneralisir sampai ke akar rumput. Banyak lho polisi-polisi di pelosok Indonesia yang benar-benar masih memegang teguh idealismenya... Orang-orang inilah yang seharusnya kita do'akan agar dikuatkan sehingga bisa bertahan dan memperbaiki dari dalam. Saya memang berasal dari keluarga polisi, dan mereka juga menyadari kalau ada banyak yang harus diperbaiki dalam tubuh POLRI. Tapi kalau semua orang 'baik' menghindar jauh-jauh, siapa yang akan memperbaiki??? dan sekali lagi, amar ma'ruf nahi munkar itu harus dimulai dari diri sendiri, dan membentuknya sebagai karakter kita.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk:
  1. Bapak saya, yang menjalani 40  tahun sebagai Polisi dan terus berusaha memperjuangkan idealismenya walau tidak jarang mendapat hambatan yang sangat keras, dan senantiasa menebar syi'ar islam dimanapun beliau berada.
  2. Kakak pertama saya, yang juga berusaha mempertahankan idealismenya sebagai polisi, walaupun itu berakibat teror fisik dan mental, yang sekarang tetap gencat mentarbiyah/membina pemuda-pemuda di kampung saya :)
  3. Kakak kedua saya, yang tetap bertahan sebagai polisi di Sulawesi, dan berusaha memperbaiki sekelilingnya. yang sudah ditawari untuk bisa pindah ke Bali tapi menolaknya karena tidak mau menggunakan koneksi yang bisa dibilang termasuk nepotisme.
  4. Kakak ke 3 saya, yang menjadi polisi sekaligus da'i di NTT, yang tidak ragu menceramahi siapa saja yang bisa diceramahi ;p
  5. Ibu dan semua kakak ipar saya, yang walaupun awalnya akhwat-akhwat sholihah ini pada anti-polisi, tapi akhirnya berlapang dada setelah menjadi istri polisi dan memberikan dukungan penuh. Karena saya percaya bahwa ada perempuan yang luar biasa dibalik laki-laki yang hebat :)
  6. Orang yang menulis status yang saya kutip ini, karena Anda menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini :)
Tetaplah menebarkan syi'ar islam dimanapun kalian berada, dan semoga Allah memberi keistiqomahan... saya yakin, kita bisa memberi perubahan ke arah yang lebih baik, dengan peran kita masing-masing ^^

Sleman, 1 April 2011

Tidak Adakah Tempat untuk Mereka?? -Potret Masyarakat-

sumber gambar: watatita.wordpress.com




Suatu siang, saya pergi ke bandara Adi Sucipto untuk mengantarkan saudara sepupu yang akan mudik ke Palu. Karena barang bawaannya banyak, maka diputuskan untuk naik taxi. Ketika sudah di bandara, dengan cepat saya memikirkan akan pulang naik taxi lagi atau trans Jogja. Beberapa pertimbangan jika naik taxi adalah sebagai berikut:

  1. Ketika itu matahari sangat terik. Akan sangat nyaman kalau bisa ngadem sepanjang perjalanan.
  2. Saya akan bisa sampai tujuan dengan cepat. Kebetulan setelah dari situ saya memang ada agenda yang cukup asasi.
  3. Ongkos taxi pulang sekitar Rp.40.000,-. Rasanya agak mubazir kalau penumpangnya cuma saya.
Sedangkan jika naik trans Jogja, pertimbangannya adalah:
  1. Murah meriah, cukup Rp.3000,-
  2. Dari halte trans Jogja, bisa dilanjutkan dengan naik becak. Dan saya sedang sangat ingin naik becak ^^
  3. Tapi makan waktu cukup lama.. Bisa-bisa saya terlambat menghadiri agenda selanjutnya, dan saya tidak mau terlambat.
Ternyata pesawat yang akan dinaiki sepupu saya berangkatnya dimajukan, lebih awal 1 jam. Maka saya memutuskan untuk naik trans Jogja, karena insya Allah waktunya mencukupi.

Ketika sudah sampai halte bandara, ternyata harus menunggu bus cukup lama, dan halte lumayan penuh dengan calon penumpang.  Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya bus 3A yang saya nanti muncul juga. Penumpang berdesakan untuk masuk. Saya beruntung, karena melihat ada 1 kusi kosong, dan langsung saya duduki. Beberapa detik kemudian ada seorang wanita paruh baya yang masuk ke bus dan berdiri di depan saya. Tentu saja spontan saya bangkit, karena saya yang jauh lebih muda dari ibu itu tentunya jauh lebih kuat untuk berdiri di dalam bus.

Ternyata berdiri di dalam bus tidaklah mudah, kerena busnya agak ugal-ugalan. Ketika tidak harus berkonsentrasi menahan keseimbangan, saya bisa dengan leluasa mengamati para penumpang. Ternyata penumpang yang berdiri lebih banyak mbak-mbak, dan penumpang yang duduk lebih banyak mas-mas. Pemandangan yang ironis itu sudah mulai membuat hati saya sakit, memikirkan ketidakpekaan para mas-mas ini. Helloooooo  mas-mas, badan kalian lebih kuat dan lebih tinggi, jadi lebih memungkinkan untuk berdiri dan bergelaantungan di pegangan yang tinggi itu..... Tapi kalian tetap tidak bergeming.... Bahkan ketika ada seorang ibu yang menggendong bayinya masuk ke dalam bus pun, yang merelakan tempat duduknya adalah mbak-mbak... dan mas-mas tadi tetap duduk manis... Juga ketika ada seorang kakek tua yang masuk ke dalam bus, kalian juga tetap diam... 

Sungguh, saya menahan tangis melihat pemandangan itu.... Dimanakah rasa kemanusiaan kalian?? Dimanakah rasa empati kalian???  Inikah potret masyarakat kita?? Yang cuek ketika melihat orang tuna netra kebingungan di halte bus.... Yang tidak peduli ketika ada ibu-ibu paruh baya, kakek tua, ataupun ibu yang menggendong anak harus berdiri di bus padahal mereka sangat tidak mungkin untuk berpegangan ke atas... Tidak kah hati nurani kalian terusik melihat semua itu?


Say NO to MAHO

(sumber gambar: google)

MAHO. Saya rasa sekarang kata itu sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Maho adalah akronim dari Manusia Homo alias penyuka sesama jenis. Sepertinya istilah maho ini pertama kali muncul di kaskus, namun saya sendiri pertama kali mengenal kata ini dari kakak(bukan kandung) saya. Saya ingat betul.. Kakak saya yang satu ini adalah bola mania, dan pendukung fanatik Inggris. dan saking sewotnya dengan pemain dari salah satu negara, dia menyebut pemain-pemain negara itu maho. Just intermezo ^^


Kembali ke bahasan tentang maho, istilah ini biasanya ditujukan untuk laki-laki. Tapi untuk konteks tulisan saya ini, istilah maho saya gunakan baik untuk laki-laki maupun perempuan yang menyukai sesama jenis. Banyak orang yang merasa tabu untuk membahas tentang maho. tapi saya rasa itu malah seperti menutup mata pada realita yang ada di sektar kita. Karena kita harus mengakui bahwa perkembangan maho sangatlah pesat. Bila kita terus menutup mata dan berpura-pura semua baik-baik saya, jangan-jangan nanti kita baru sadar ketika di negara kita mulai muncul RUU tentang pernikahan sesama jenis. naudzubillah...

Saya akan memulai dengan menceritakan perjalanan saya sejak pertema kali mengenal maho. Itu terjadi ketika saya kelas 1 SMP. Karena kami tinggal di kota kecil, isu-isu akan berkembang dengat sangat cepat. Saat itu saya tau kalau di kota saya ada laki-laki jadian yang lumayan tenar. Dia dipanggil Adam. Aslinya perempuan, tapi dia berpenampilan seperti laki-laki, dan berpacaran dengan perempuan. Penampilanya bahkan lebih ganteng daripada sebagian besar teman laki-laki saya saat itu. Mendengar isu dan berinteraksi secara langsung sepertinya benar-benar dua hal yang berbeda. Suatu hari, saya pulang sekolah dengan menaiki angkot. Saat itu saya menjadi satu-satunya penumpang. Lalu saya melihat motor yang stabil berada di belakang angkot yang saya naiki, dan akhirnya saya baru sadar kalau itu Adam. Dia tersenyum, dan mengedipkan sebelah mata.. Oh my..... tidak heran kalau banyak perempuan yang meleleh dengan pesonanya.. Untungnya saat itu saya sudah  tau kalau dia adalah perempuan, jadi sudah punya benteng sejak awal...

Itu kisah pertama saya dengan seorang maho. Setelah itu, sepertinya di sekitar saya selalu ada cerita tentang maho. Mulai dari kakak kelas saya yang tomboy ditaksir oleh adik kelas perempuan, sampai cerita ketika saya sedang makan di sebuah kafetaria dan di meja depan saya duduk 2 orang laki-laki, yang satu bule dan satunya lagi pribumi. mereka duduk berhadapan dengan mesra dan minum dari gelas yang sama menggunakan 2 sedotan. Ouuuucccchhhhh..... thats very disgusting @_@

Itu kisah ketika saya SMP. Setelah beranjak ke bangku SMA, cerita tentang maho di sektar saya makin parah. Saat itu saya mendapat kabar kalau salah satu adik kelas(perempuan) yang saat itu masih kelas 3 SMP berpacaran dengan guru PPL yang mengajarnya (perempuan juga). dan itu diketahui seantero sekolah. Betapa sudah kacaunya dunia pendidikan... =.= 

Cerita terasa makin parah ketika teman saya sendiri(laki-laki). Catat, TEMAN SAYA, menaruh hati pada KAKAK KANDUNG SAYA(laki-laki)! Dia bahkan pernah bercerita pada saya "Rul,  kemarin pas aku lagi nunggu bemo(angkot), kakakmu lewat, trus aku di anter pulang. Duh, grogi n deg-degan banget rasanya... tapi aku seneng.. kakakmu manis n cool banget...". Aaaaarrrrrrrgggggggggggggggg saat itu saya langsung bilang ke dia "oh no, aku ga mau punya kakak ipar kamu!!!!!". Saat itu saya ingin memberi tahu kakak tentang teman yang menaruh hati padanya tadi, tapi saya tidak tega, karena kakak saya berteman dengan kakak dari teman saya yang maho tadi (menghela nafas).

Masa SMA semakin parah, ketika ada salah satu siswi di sekolah saya yang dilaporkan ke polisi karena dituduh membawa lari anak orang(perempuan juga). #_#


Itu cerita ketika SMA. Ketika di bangku kuliah, saya harus menelan satu fakta yang pahit --> di duia psikologi menyukai sesama jenis sudah tidak dianggap sebagai abnormalitas, dan hanya dianggap sebagai pilihan hidup. Oh NO!!!!!!!!Maksud dari cerita ngalor ngidul saya di atas adalah, perkembangan maho saat ini sangatlah pesat. Mereka sudah berhasil melakukan penetrasi pemikiran melalui berbagai media. Jadi jangan heran kalau sudah banyak orang yang menganggap homoseksual bukanlah sesuatu yang aneh. Itu karena kita sudah menjadi terbiasa dengan mereka. Coba saja kita perhatikan, toko buku sudah dengan sangat berani memajang buku-buku yang berkisah tentang maho. Belum lagi penetrasi pemikiran melalui film(terutama film holiwud). dan akhirnya nanti kita diarahkan untuk memiliki pemikiran 'ya sudah, biarkan saja, hargai pilihan mereka'

Bahkan fakultas saya pernah mengundang seseorang yang menamakan dirinya ustdaz, yang konsern mengadakan pengajian untuk para waria. 'Ustadz' ini sangat mendukung pernikahan waria, karena beliau berpendapat lebih baik waria menikah dengan laki-laki daripada mereka hidup berzina. naudzubillah.... dua-duanya sama sekali bukan pilihan!!!!

So, bagaimana seharusnya kita menyikapi maho? Don't judge them, but help them!  Kita bukan hakim yang berhak menghakimi mereka. Yang sudah terjadi, biarlah itu menjadi urusan antara mereka dengan Allah, dan tugas kita adalah membantu mereka supaya meninggalkan kehidupan maho tadi. Jangan salah, sebenarnya ada banyak maho yang sangat ingin berubah, tapi sayangnya tidak ada orang yang bersedia mengulurkan tangan pada mereka, dan akhirnya mereka menjadi semakin terpuruk. Mereka butuh orang-orang yang mereka percayai dan sekaligus percaya bahwa mereka bisa berubah. Karena selagi nyawa belum tercabut dari raga, peluang untuk berubah akan selalu ada dan pintu tobat selalu terbuka.

So guys, ayo buka mata kita, dan perhatikan sekeliling.. Lalu ulurkanlah tangan kita, untuk membantu orang-orang yang ada di sekeliling kita.... tapi tetap... Say NO to Maho

Forbidden for Akhwat

repost dari tulisan lama saya:



Entah kenapa saya menuliskan ini, karena saya tau kalau akan ada beberapa orang yang sangat tidak setuju dengan tulisan saya nanti. Tapi saya hanya ingin menyampaikan fenomena yang saya tangkap, dan mencoba melihatnya dengan perspektif yang lain.
Bila dilihat dari judul di atas sudah jelas apa topik bahasan kita. Yuppp…. Tentang makhluk yang luar biasa dan istimewa, yaitu akhwat ^^. Sebenarnya saya tidak bermaksud mengkotak-kotakkan sebutan untuk perempuan. Tapi untuk kali ini saya memang ingin membahas tentang akhwat. “Akhwat” biasanya diidentikkan dengan muslimah yang berjilbab tidak terlalu mungil, menggunakan rok/gamis, dan berkaos kaki. Itu tadi gambaran umum secara fisik. Tambahan dari itu, biasanya ‘akhwat’ ini aktif di kegiatan/organisasi, sehingga juga mendapat sebutan ‘aktivis’.
Inti dari paragraph di atas adalah banyak sekali stereotip yang beredar tentang seorang akhwat. Selain stereotip tadi, tidak jarang pula muncul komentar-komentar miring jika akhwat melakukan beberapa ha, sehingga sudah seperti menjadi sesuatu yang tabu bagi seorang akhwat. Berikut ini akan saya sampaikan beberapa hal yang paling sering disinggung. Sebenarnya bukan pengalaman pribadi, karena belum ada (atau saya lupa^^) yang mengkritik life style saya secara tersurat (mungkin pernah secara tersirat, tapi saya ga paham). Ini berdasarkan curcol beberapa akhwat yang kebetulan mendapat teguran/sindiran baik secara tersurat ataupun tersirat. Apa saja itu?? Let’s check it out:

1.Akhwat ga boleh ke mall
Kalau mendengarkan komentar beberapa orang yang menceritakan bahwa ada akhwat yang ‘tertangkap  basah’ sedang di mall, seolah-olah ke mall bagi akhwat merupakan perbuatan dosa. Alasannya apa? Entahlah. Kalau berdasarkan tebakan saya sih mungkin karena ke mall itu identik dengan gaya hidup hedon, atau karena resiko ikhtilat. Agak berkebalikan dengan ini, kebanyakan orang menanggapi dengan positif bila seorang akhwat pergi ke pasar tradisional. Saya beberapa kali ke mall, tapi lebih sering lagi ke pasar(terutama Bringharjo^^). Terkadang ada orang yang geleng-geleng kepala dan berdecak ketika tau saya habis pergi ke mall. Namun ketika mereka tau saya baru habis ke Bringharjo, mereka langsung memberikan apresiasi positif, apalagi kalau saya berhasil menawar dengan harga yang sangat murah, waaah… saya akan dipuji habis-habisan.
Mall vs pasar tradisional. Dugaan saya, orang-orang menanggapi dengan positif akhwat yang pergi ke pasar, karena itu berarti sang akhwat bisa berhemat dan sederhana. Amat berlawanan dengan akhwat yang ke mall. Padahal…… coba kita lihat…. Di pasar itu peluang ikhtilatnya saaaaaaangaaaat besar. Silahkan datang ke Bringharjo. Luar biasa kalau Anda bisa berhasil berbelanja di situ tanpa bersentuhan dengan seorang pun. Bandingkan dengan jika Anda berbelanja di mall. Tempatnya lapang (mungkin kecuali weekend) dan Anda sangat berpeluang berhasil berbelaja tanpa bersentuhan dengan siapapun. Selain itu di mall biasanya juga mengatur tata letak barang sesuai dengan gender. Sehingga blok belanjaan laki-laki dan perempuan terpisah. Tidak seperti di pasar, yang semuanya bercampur baur. Jadi salahkah bila ada akhwat yang ingin lebih menjaga dirinya? Bila bisa mendapatkan kondisi yang lebih ideal, mengapa harus memilih yang kurang ideal??

2. Akhwat ga boleh ke bioskop
Hmmmm… untuk topik yang satu ini saya rasa memang sangat kontroversial. Saya rasa memang lebih banyak orang yang tidak setuju bila akhwat pergi ke bioskop, walaupun mungkin alasan ketidaksetujuan ini hampir sama dengan topik tentang mall tadi. Sayabukan cinemaholic. Tapi saya memang beberapa kali ke bioskop, ketika ada film yang benar-benar bagus. Di luar itu, saya jauuuuuuuhhhh lebih sering menonton film dari rental dan saya agak meragukan keoriginalannya, atau menonton film yang saya copy dari laptop teman.
Bioskop vs nonton bajakan. Mungkin jika kita ke bioskop, akan ada resiko-resiko seperti yang saya sebutkan tadi. Tapi coba bandingkan dengan menonton film non-ori. Jelas-jelas di cover kaset/cd/dvd ada tulisan “mengcopy tanpa izin dari pemilik hak cipta merupakan pelanggaran hukum blablabla..”jadi gamblangnya kita ikut serta dalam pelanggaran hukum walaupun tidak secara langsung. Okelah, memang ada sebagian orang yang mampu dan mau membeli film yang original. Tapi ayolah kawan kita jujur, lebih banyak mana : yang menonton bajakan atau original?? Sering kali jelas-jelas filmnya masih ditayangkan di bioskop, tapi sudah ada yang menonton dvdnya. Tentang resiko ikhtilat ketika di bioskop tadi saya rasa bisa disiasati. Misal dengan mengajak keluarga, atau menyesuaikan timingmasuk-keluar bioskop serta memilih posisi duduk yang kondusif. Jadi mana yang lebih banyak mudharatnya??

3.Akhwat ga boleh nge-laundry
Topik ini sering kali saya dengar. Bila ada akhwat yang ketahuan nge-londri biasanya diceramahin “nyuci itu termasuk skill ibu rumah tangga blablabla….”, “masih akhwat aja udah kayak gini apalagi kalau sudah ummahat blablabla” dan masih banyak komentar lainnya. Saya memang buka ahlullondri. Tiap hari saya nyuci lho.. Tapi buka berarti seumur hidup saya ga pernah ke laundry. Ayo coba kita pikirkan alasan positif mengapa akhwat nge-londri. Bagi yang hanya melakukannya sekali-sekali mungkin memang karena urgent. Berbeda dengan akhwat yang melakukannya secara terus menerus. Ayo coba kita pikirkan alasan positif mengapa akhwat nge-londri.
Bisa jadi sang akhwat memiliki amanah segunung, yang sebagian besar berpengaruh pada banyak orang. Mungkin waktu yang dihabiskan untuk mencuci baju bisa jauh lebih bermanfaat bila digunakan untuk hal lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak tadi. Misal ada syuro yang sangat penting, dan si akhwat ini tidak bisa hadir dengan alasan ini jadwalnya mencuci baju. Agak kurang bisa diterima bukan??
Terkait dengan bagaimana bila sudah menjadi ummahat, saya rasa kewajiban utama dari ummahat adalah taat pada suami dan mendidik serta membesarkan anak. Jadi mencuci pakaian dengan tangan merupakan hal yang sifatnya cabang dan bukan prioritas. Selain itu, toh juga ada makhluk yang bernama mesin cuci. Bila bisa dibuat praktis, kenapa harus dibuat susah?? Okeoke… skill kerumahtanggaan memang penting. Tapi pekerjaan rumah tangga itu bila dilakukan tidak akan pernah ada habisnya. Nyapu lantai, ngepel, masak untuk sarapan, pergi ke pasar, nyapu&nyiram halaman, masak untuk makan siang, beres-beres rumah yang sudah berantakan lagi, masak untuk makan malam, beres-beres.. saya pernah mencoba melakukan semua itu. Bahkan waktu seharian pun tidak cukup untuk melakukan itu semua. Padahal kan hidup kita tidak hanya tentang itu. harus ada alokasi waktu untuk amal-amal yaumi, silaturahim, bercengkrama sengan keluarga, bermasyarakat, bekerja, de el el. Bisa kita lihat mana-mana pekerjaan yang bisa digantikan dan mana yang harus kita lakukan sendiri, mana yang harus dilakukan dan mana yang bisa diabaikan ^^v. jangan memaksakan diri untuk jadi superwoman, karena nanti malah stress sendiri ;)

4.Akhwat ga boleh ngebut
Hehehehe…… karena akhwat memang sering menjadi raja jalanan (mengutip isi komik booklet pmb). Saya paham mengapa banyak yang sebel kalau melihat akhwat ngebut. Berikut ini beberapa hal yang bisa dijadikan alasan berdasarkan hasil observasi di sekitar saya:
a.
Kebanyakan akhwat harus berjinjit ketika mengendarai motor ^^v. ini sangat berpengaruh pada keselamatan, karena ketika harus nge-rem mendadak biasanya jadi jatuh soalnya sulit untuk menjaga keseimbangan karena motor yang dinaiki ketinggian. Makanya sering kali kita mendengar akhwat mendapat kecelakaan.
b.
Kebanyakan akhwat yang ada di kampus (kampus saya) baru bisa mengendarai motor ketika sudah di kampus, sehingga tidak memiliki sim. Bagi yang memiliki sim pun banyak yang mendapatkannya dengan jalur ‘ekspress’ alias ga pakai tes. Trus apa hubungannya??? Ngaruh lho… orang-orang yang ga punya SIM atau yang memperoleh SIM tanpa tes ini biasanya kurang paham tentang aturan dan adab-adab lalu lintas, sehingga kalau ngebut sering ngawur. Mendadak motong jalan lah… belok ga nge-reting lah… ga liat-liat spion lah.. pokoknya hal-hal yang bisa mendzolimi pengguna jalan yang lain. Bahkan seorang temen cowok saya di kampus pernah bilang ke saya “ngeri kalau lihat akhwat-akhwat naik motor, suka ngawur”


Tapi buka berarti ngebut ga ada gunanya lho… saya pikir ada kondisi-kondisi yang memang sebaiknya akhwat itu ngebut. Misal ketika berkendara sendiri di jalan yang sepia tau ketika terpaksa harus keluar malam hari. Untuk kasus ini lebih baik ngebut.. soalnya bisa mencegah gangguan orang-orang yang berniat buruk. Ketika ngebut kita bisa memperhatikan bila ternyata ada orang yang dari tadi membuntuti. Selain itu dengan ngebut juga kita bisa segera sampai di tempat tujuan yang lebih aman

tapi ingat lho, ngebutmya dengan memperhatikan aturan dan adab-adab lalu lintas, bukan ngebut yang ngawur.


5.Akhwat kok nyalon

Memang jarang sekali akhwat pergi ke salon. Sehingga bila ada akhwat yang ketahuan ‘nyalon’ kesannya gimana gitu.. padahal kan ke salon bukan untuk dandan menor.. biasanya akhwat pergi ke salon untuk potong rambut atau creambath. Apa yang aneh denga itu?? kan ga semua orang bisa motong rambut sendiri dengan benar.. selain itu dengan sering ditutup jilbab kulit kepala bisa dan rambut bisa bermasalah, terutama untuk kepala-kepala yang sensitif. Nah, itulah gunanya creambath. Begitu juga dengan perawatan-perawatan lain.. Jadi nyalon juga salah satu usaha untuk menjaga keberishan dan kesehatan. Toh juga sekarang sudah mulai bermunculan salon-salon khusus muslimah. Walaupun mungkin sedikit lebih mahal daripada salon biasa, tapi jelas bisa lebih terjaga masalah kehalalan produk dan hijabnya. Mungkin sebagian orang berpikir bahwa nyalon itu mubazir, ga mencerminkan hidup yang zuhud, blablabla…. Walaupun saya buka ahlussalon, menurut saya itu bukan masalah selagi orang tersebut bisa mengalokasikan uangnya dengan tepat sehingga bisa tetap bersedekah. Contohnya(ini cuma rekaan saya), bila ada seorang akhwat berpenghasilan 5 juta per bulan. Setelah menunaikan zakat profesinya, ia menggunakan uangnya untuk hal-hal lain termasuk 100 ribu untuk nyalon dan 500 ribu untuk sedekah. See??  Masih jauh lebih banyak uang yang digunakan untuk sedekah. Bandingkan dengan orang yang tidak menggunakan uangnya untuk ke salon, tapi juga tidak bersedekah. Jadi salah kah bila akhwat pergi ke salon??

6.Akhwat bermobil
Di sekitar saya memang jarang ada akhwat bermobil. Tapi tetap saja banyak yang merasa kesannya gimana…. gitu.opini terbanyak sih menganggap itu bukan perilaku zuhud.Zuhud itu relatif lho… Orang yang sebenarnya mampu mengendarai mercy dengan sopir pribadi, tapi ia lebih memilih untuk mengendarai mobil yang jauh lebih sederhana dan menyetir sendiri, menurut saya itu merupakan perilaku yang sangat low profile… berbeda dengan orang yang sebenarnya secara kemampuan (maaf) hanya mampu membeli sepeda, tapi memaksa orang tuanya untuk membelikan motor yang di luar kemampuan mereka. Memang bila dilihat, orang yang bermotor ini lebih sederhana daripada yang bermobil tadi. tapi mana yang sebenarnya lebih low profile atau zuhud?
Selain itu, mengendarai mobil jauh lebih aman daripada mengendarai motor. Bila terserempet, yang luka adalah badan mobil, bukan badan pengendara. Kecuali bila kecelakaannya parah. Selain itu bisa meminimalisir ikhtilat dengan pengendara lain di jalan atau di traffic light.
Jadi berdosakah bila seorang akhwat bermobil??

7.Tabu bagi akhwat untuk makan di tempat yang lumayan mahal
C’mon guys, kita lihat dulu tempat yang dipilih. Apakah itu produk boikot?? Apakah itu bersertifikat halal MUI?? Apakah higienis?? Kalau tempat makan yang dipilih memang halal (terutama halal MUI), bukan produk boikot, dan memang menyehatkan dan higienis, ya sudah.. Apa yang salah dengan semua itu?? karena mahal? Mahal itu relatif…bandingkan dengan makanan yang walaupun murah tapi tidak terjamin kehalalannya, kurang sehat, dan kurang higienis. Kalau dia memang mampu untuk mendapatkan yang lebih baik, ya Alhamdulillah, dan semoga setiap orang bisa mendapatkan yang baik pula.

Bisa jadi masih banyak lagi hal-hal yang dianggap “forbidden” bagi akhwat. Tapi yang melintas di kepala saya saat ini cuma itu. Selain itu,mungkin contoh-contoh yang saya sebutkan tidak bisa digeneralisir. Tapi maksud saya adalah bagaimana agar kita tidak melihat suatu hal hanya dari sati persepktif. Bagaimanapun cara hidup yang diambil seseorang, cobalah berhusnudzon bahwa Insya Allah ada hujjah yang tepat atas pilihan yang diambil, sesuai dengan kondisi masing-masing orang.
Akhwat memang makhluk yang sangat berharga dan harus dilindungi. Namun tidak semua akhwat bisa merasakan keadaan yang ideal seperti tinggal bersama keluarga sehingga kemana-mana bisa didampingi mahrom, sudah ada yang mencukupi kebutuhannya sehingga tidak perlu keluar lagi untuk berikhtilat, sudah tercukupi secara finansial sehingga tidak perlu mencari nafkah.. sayanganya lebih banyak orang yang harus berkompromi dengan keadaan yang kurang ideal. Di antara yang kurang ideal itu lah kita harus memilih yang mudharatnya paling sedikit.
Semoga tulisan ini juga bukan merupakan pembenaran atas sesuatu yang memang salah, karena ada banyak orang yang melakukan hal-hal di atas dengan alasan yang di luar alasan yang saya sebutkan di atas. Wallahu’alam bi showab.. keep husnudzon guys ^.^