RSS

Ini Alat Transportasiku, Apa Alat Transportasimu????


Sepertinya kita sepakat, kalau negara Indonesia  yang kita cintai ini luaaaaassssss banget.  Saya memang belum pernah ngukur secara langsung untuk tau tepatnya seberapa luas. Saya juga sudah lupa, berapa luas Indonesia yang tercantum di buku geografi pas jaman masih dapat pelajaran geografi. Tapi yang jelas saya yakin Indonesia memang luas ^^


Bukan cuma luas, Indonesia juga diberkahi dengan keadaan geografis yang beraneka ragam. Mungkin keragaman ini juga lah yang akhirnya mempengaruhi jenis sarana transportasi di Indonesia, karena kita tau kalau jenis alat ransportasi di seluruh daerah di Indonesia juga beragam.

Berikut ini cerita tentang berbagai alat transportasi yang sudah pernah saya naiki dan yang belum pernah saya naiki (walaupun pengen banget) tapi sudah saya lihat secara langsung.

1. Kereta Apollo
    Hohohohoho.... sepertinya ini kendaraan pertama yang betul-betul saya naiki sendiri pas masih bayi ^_____^





2. Sepeda roda tiga               
Sekitar  mulai umur 2 tahun, sudah diajari naik sepeda dengan roda bantu. Dan karena saya anak bungsu, so pasti sepeda yang saya pakai warisan dari para pendahulu.




3. Sepeda roda dua               
Sekitar umur 3 tahun, sudah diajari naik sepeda roda dua sama bapak. Kalau dipikir-pikir, dulu cara belajar saya agak konyol. Tiap sore latihan naik sepeda, sembari bapak jogging. Awalnya bapak megangi sadel, supaya ga jatuh.. trus hari berganti hari, bapak ga megangi sadel, tapi bagian belakang sepeda diikatkan tali sepat, trus bapak megangi ujungnya. Kalu tali dipegang, saya bisa naik sepeda dengan lancar. Tapi kalau noleh ke belakang trus sadar ternyata tali sudah ga dipegang, saya angsung jatuh. Setelah lebih berumur baru geli sendiri karena sadar. Lah, mana ngaruh ke keseimbangan kalau Cuma diikat pakai tali sepatu. Tapi itulah cara bapak saya, dengan sabar ngajari naik sepeda setahap demi setahap :)




4. Bemo              
  Bemo merupakan salah satu angkutan umum yang pernah jadi andalan di kota Singaraja. Masih segar di ingatan, pengalaman naik bemo sendiri untuk yang pertama kalinya. Pas awal kelas 1 SD, diajak diskusi sama bapak, tentang belajar mandiri. Salah satunya dengan berangkat&pulang sekolah tanpa antar jemput. Ketika saya sudah menyanggupi, keesokan harinya bapak tetap menjemput ke sekolah. Lalu bapak memberi instruksi bagaimana prosedur untuk naik bemo, dan langsung meminta saya memraktikkannya, dengann membekali saya uang 100 rupiah untuk ongkos bemo. Sesuai prosedur yang diajarkan bapak, saya berdiri di pinggir jalan, menunggu bemo warna merah. Ketika dari kejauhan sudah terlihat bemo yang saya tunggu, dengan semangat saya langsung mengayun-ayunkan tangan ke depan. Dan bemo pun berhenti. Saya langsung bilang “pak, ke jalan melur nomer 6 ya”. Bapak sopir mengangguk sambil tersenyum, dan membukakan pintu belakang. Trus saya protes “pak, saya duduknya di depan ya”. Dan akhirnya saya duduk di samping pak sopir, dengan bapak saya yang naik motor mengikuti bemo. Sampainya di rumah, bapak menunggu di halaman, dan ketika saya sudah turun dari bemo, bapak mengucapkan terima kasih ke pak sopir dan memberikan pujian kepada saya karena sudah berani naik bemo sendiri :) Setelah itu, bemo menjadi kendaraan langganan saya, terutama tiap kali pulang sekolah.






5. Becak               
Seingat saya, pertama kali naik becak pas usia pra TK. Waktu itu perjalanan pulang kampung ke kampung halaman ibu. Awalnya naik becak dari pelabuhan Ketapang ke terminal Banyuwangi, trus pas sudah sampai Jogja, naik becak di Malioboro.






6. Dokar               
Dokar ini jadi kendaraan rutin tiap hari minggu :) ketika saya kecil, ibu punya kebiasaan mengajak saya ke pasar tiap hari minggu. Jarak rumah-pasar sekitar 2km. Biasanya kami berangkat jam 6 pagi dengan berjalan kaki. Kami berangkat lumayan pagi, karena biasanya di perjalanan saya suka mapir untuk berhenti menikmati pemandangan bunga yang mekar di kebun orang atau di halaman perkantoran, atau mampir ke bis surat untuk mengirimkan surat  ke para sahabat pena saya di seluruh dunia :) di pasar pun ibu punya kebiasaan selalu membelikan asesoris rambut, dan alhasil koleksi asesoris rambut saya berkardus-kardus! Selesai mondar-mandir belanja, kami pulang naik dokar, karena sinar matahari sudah mulai menyengat dan kaki sudah kelelahan mondar-mandir di pasar. Biasanya dokar yang kami naiki sampai rumah tepat jam 10 pagi, pas ketika di radio memulai sandiwara Nyi Pelet langganan saya :p










7. Kereta              
  Sama dengan pengalaman naik becak, sepertinya pengalaman pertama saya naik kereta pas saya usia pra TK, dalam perjalanan ke Jogja. Setelah itu lama ga pernah naik kereta, dan baru naik kereta lagi ketika saya sudah jadi mahasiswa di Jogja.





8. Bus              
  Ketika saya masih kecil dan keluarga kami belum memiliki mobil pribadi, bus menjadi andalan tiap kali ke luar kota. Terutama tiap kali pulang ke kampung halaman bapak di kabupaten Jembrana. Tapi dari dulu saya ga pernah suka bus antar kota yang di Bali >____< Kalau sekarang sih biasanya naik bus antar provinsi, dan lebih lumayan, karena bus eksekutif ;) tapi walaupun eksekutif, bus adalah salah satu kendaraan umum yang paling tidak saya sukai.







9. Kapal Ferry
               Sejak kecil sepertinya saya memang sudah tidak asing dengan kapan ferry. Rute kapal ferry yang pernah saya naiki antara lain Gilimanuk(Bali)-Ketapang(Banyuwangi), Bali-Lombok, dan Lombok Sumbawa. Yang paling horor adalah rute Bali-Lombok @___@, dimana perjalanan memakan waktu 4-5 jam dengan ombak yang horor karena angin kencang.





10. Kapal PELNI Kerinci               
Satu-satunya pengalaman saya naik kapal besar adalah ketika untuk pertama kalinya ke Sulawesi. Kami sekeluarga ke Surabaya dulu dengan mengendarai mobil, lalu naik kapal Kerinci dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Perjalanan dari Tanjung Perak ke Pelabuhan Pantoloan (Palu) memakan waktu sekitar 3 hari 2 malam. Kalau dipikir-pikir dengan membayangkan peta Indonesia, rute kapal ini lumayan aneh. Dari Surabaya kami mapir di Pare-Pare (Sulawesi Selatan), lalu kapal menuju Balikpapan( Kalimanan Timur), lalu ke Sulawesi lagi, tepatnya ke Palu(Sulawesi Tengah). Pengalaman di atas kapal selama 3 hari ini benar-benar luar biasa. Saya jadi bisa mengamati berbagai jenis manusia ^^ selain itu bisa kenal dengan para awak kapal yang ramah-ramah. Badan pun tidak terlalu lelah. Karena bila kami bosan di dalam kamar, kami bisa mondar-mandir entah ke dek kapal, ke mushola, ke restoran, atau sekedar jalan-jalan mengelilingi seantero kapal.







11. Pesawat
Pengalaman pertama saya naik pesawat adalah ketika sudah SMA. Ini masih dalam rangkaian perjalanan setelah naik kapal Kerinci. Setelah bersilaturahim ke keluarg besar yang ada di Sulawesi, kami melanjutkan perjalanan untuk silaturahim ke saudara ibu yang ada di Kalimantan. Dan pesawat yang pertama kali saya naiki adalah Bouraq Airlines jurusan Palu-Balikpapan. Setelah itu, rute-rute penerbangan yang pernah saya ambil adalah Banjarmasin-Surabaya(dan sebaliknya), Denpasar-Palu(dan sebaliknya), Surabaya-Palu(dan sebaliknya), Jogja-Denpasar (dan sebaliknya), Denpasar-Maumere(dan sebaliknya). Di antara semua maskapai yang pernah saya coba, yang paling mantab jelas Garuda Indonesia :)







12. Jukung
               Jukung merupakan perahu nelayan di Bali. Bagi warga pesisir, tentu tidak asing dengan pemandangan jukung. Pengalaman pertama saya naik jukung baru setelah saya lulus SMA :) Kami naik jukung di pantai Lovina pagi-pagi buta, agar bisa melihat pemandangan lumba-lumba liar yang berlompatan di tengah lautan ^___^ subhanallah.... benar-benar pemandangan yang luar biasa! Ketika matahari mulai terang, lumba-lumba pun lenyap dan kami menepi lagi. Sebelum benar-benar sampai pasir lagi, jukung yang kami naiki berhenti dulu di atas kawasan terumbu karang. Dan akhirnya saya pun tidak bisa menahan godaan untuk nyempung ke laut, supaya bisa melihat terumbu karang dan ikan beraneka warna dengan lebih jelas. Dan sekali lagi, betapa indah ciptaan Allah :)






13. Klotok
Klotok merupakan sejenis perahu/kapal mini yang ada di kalimantan. Karena kalimantan memilikin beberapa sungai besar, klotok menjadi salah satu sarana transportasi andalan warga. Pengalaman  pertama saya naik klotok di sungai Barito Banjarmasin adalah ketika kami mengunjungi pasar terapung. Hehehehe.... di pasar ini, semua penjual dan pembeli naik klotok. Kagum deh dengan keseimbangan badan warga lokal yang dengan lincahnya bermanufer di atas klotok. Pernah juga naik klotok di sungai Barito, ketika mengunjungi rumah salah satu kerabat, dan rumah ini memang hanya bisa diakses dengan klotok!! Serupa dengan di Banjarmasin, warga Samarinda juga biasa berklotok ria menyusuri sungai Mahakam. Klotok yang berukuran agak besar, bisa menampung murid-murid dengan sepedanya dan pegawai kantoran yang mengendarai motor. 






14. Kano               
Kano merupakan pemandangan yang sering dijumpai di pantai Penimbangan di dekat rumah saya. Terakhir kali saya naik kano dulu pas masih SMA. Kalau ga salah dulu tarifnya Rp.3000,-/jam. Awalnya saya mikir, kok bentar banget, cuma 1 jam. Tapi ternyata..... mendayung kano di lautan selama 1 jam itu benar-benar menguras tenaga!!!! Jangankan sampai 1 jam, baru setengah jam saja sudah nyerah. Kano yang ada di pantai ini adalah kano yang hanya bisa dinaiki 1 orang. Dayung kano akan terikat dengan tali ke badan kano, supaya tidak hanyut terpisah ketika kano terbalik. Dan kano memang mudah terbalik, terutama bila ombak agak keras.







14. Sepeda Motor               
Sepeda motor merupakan sarana transportasi saya yang utama dari dulu sampai sekarang :) dan sejak kelas 1 SMA hingga sekarang saya masih setia dengan si karisma DK saya :)








15. Mobil
Sepertinya tidak perlu dibahas panjang lebar tentang mobil, karena saya yakin semua pembaca tau mobil. Yang jelas ketika sudah berusia 17 tahun(usia minimum untuk sim A), saya langsung dipaksa belajar nyetir sama bapak @_____@

16. Truk
Hehehehe... dulu paling sering naik truk pas jaman masih aktif di Pramuka. Khususnya truk polisi ^______^








Itu tadi cerita tentang kendaraan yang saya ingat pernah saya naiki. Karena keterbasan ingatan, bisa jadi ada kendaraan yang belum tersebutkan. dan berikut ini kendaraan yang pengeeeeeeennnnnn banget saya naiki, tapi belum kesampaian sampai sekarang.

1. Cidomo
kalau ga salah ingat, cidomo itu akronim dari cikar dokar bemo. Asumsi saya sih nama itu muncul karena cidomo ditarik oleh kuda seperti dokar, dengan badan seperti cikar, dan roda mobil seperti bemo. Ini adalah kendaraan tradisional di pulau Lombok. Sayangnya saya belum berkesempatan untuk mencoba, karena biasanya ke Lombok cuma numpang lewat ;( 









2. Angkot truk ala Flores
Pertama kali saya melihat kendaraan ini adalah ketika perjalanan dari danau Kelimutu ke kota Ende. Truk yang diisi bangku ini merupakan sarana transportasi umum antar kabupaten di pulau Flores. Semoga lain kali saya berkesempatan mencobanya :)












3. Kuda
Ketika berkendara menyusuri pulau Sumbawa(NTB), salah satu pemandangan yang tidak asing adalah kuda! Entah itu kuda yang lepas liar di hutan, atau kuda yang menjadi sarana transportasi. Bukan pemandangan aneh jika melihat kuda besar yang dinaiki anak-anak usia SD. Sayangnya saya belum bisa berkuda :( 









Nah, itu tadi cerita saya tentang alat transportasi. Monggo kalau ada teman-teman yang ingin berbagi tentang sarana transportasi yang diketahui, untuk menambah pengetahuan kita tentang keanekaragaman transportasi  :)

Kisahku dan Mas Maling




1 Agustus 2012 sepertinya merupakan hari yang lumayan membuat perasaan saya jungkir balik.  Diawali dengan saya  yang tidak tidur sama sekali di malam sebelumnya, dan sudah mulai aktivitas di luar mulai dari jam 5.30 pagi.  Alhasil ketika tiba di kos pukul 14.00, saya benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa kantuk dan akhirnya  tertidur.
Di tengah-tengah tidur, tiba-tiba saya terbangun. Proses bangun ini pun agak beda dengan kebiasaan saya. Biasanya ketika bangun saya mengerjap-ngerjapkan mata dulu dan melakukan reorientasi setelah mengalami disorientasi karena tidur. Setelah otak fokus, barulah saya bangkit. Nah, siang itu ketika terbangun entah kenapa saya langsung bangkit ke posisi dudukk, dan refleks menoleh. Dan TADAAAAAAAA......... sekitar satu meter dari tempat tidur saya berdiri seorang laki-laki yang sedang memegang laptop saya di tangan kanannya.






ini laptop yang udah dipegang sama mas maling






Ada orang tak dikenal di kamar dan memegang laptop saya -laki-laki pula-, tidak butuh otak jenius untuk langsung menebak bahwa itu maling yang sedang beroperasi. Melihat itu, tentu saja saya kaget dan langsung refleks berdiri dengan memegang ponsel yang berada di sebelah bantal.  Nah, lucunya(saya baru menganggapnya lucu pasca kejadian) si mas maling kelihatannya juga tidak kalah kagetnya ketika melihat saya yang bangun dengan tiba-tiba. Dia berusaha menjelaskan sesuatu ‘Mbak, tadi.. bla.. bla.... bla...’ Tentu saja tidak saya hiraukan. Saya todongkan ponsel jadul yang ukurannya lumayan besar itu ke arah si mas maling sambil saya pelototi, dan saya bilang ‘turunin laptop saya dan segera keluar dari sini. Kalau gak saya bakal teriak’.  Bukannya langsung ngacir kabur, si mas maling malah tetap berdiri di sana sambil terlihat memikirkan sesuatu. Sempat terbersit di pikiran saya untuk benar-benar berteriak. Dalam sekian detik yang menegangkan itu otak saya berpikir dengan cepat, menimbang-nimbang apa yang harus saya lakukan. Beberapa fakta yang jadi pertimbangan saya adalah:

  1. Saat itu di kos hanya ada saya seorang..
  2.  Pada jam-jam seperti itu (antara dzuhur dan ashar) lingkungan di sekitar kos memang sepi, karena orang-orang beraktivitas di luar atau sedang istirahat siang di rumah. Dan saya juga memang tidak mendengar suara apa-apa dari luar.
  3.   Mempertimbangkan 2 fakta di atas, sepertinya berteriak bukan menjadi pilihan yang pas, karena peluang untuk terdengar sangatlah kecil(terlepas dari pendapat saya pribadi bahwa berteriak ‘maliiiinnngggg’ itu benar-benar tidak elegan).
  4.  Saya juga berpikir, bila saya berteriak bisa-bisa nanti si mas maling jadi panik lalu kalap. Kalau sudah kalap, reaksinya bisa lari dengan membawa laptop saya, atau melempar laptop saya lalu lari. Yang manapun pilihannya, laptop saya terancam dalam bahaya.
  5.  Kemungkinan yang paling buruk adalah kalau si mas maling kalap bukannya ngacir tapi bisa-bisa malah balik nyerang saya karena merasa terdesak. Gawat kalau itu terjadi. Soalnya dengan postur mas maling yang tinggi, peluang saya untuk menang sepertinya sangat kecil(selain itu rambut si mas maling juga cepak, jadi tidak memungkinkan bagi saya untuk adu jambak-jambakan dengannya... #ehhh)


Balik ke situasi genting tadi, dengan pertimbangan-pertimbangan yang muncul di kepala saya itu, akhirnya saya ulangi lagi ancaman saya,  memelototkan mata dengan lebih meyakinkan, dan makin maju mendekat si mas maling dengan tetap menodongkan ponsel saya. Perlu tiga kali ancaman ke masnya baru masnya bersedia mengangkat tangan kiri sambil meletakkan kembali laptop saya yang ada di tangan kanannya dan berjalan mundur keluar dari kamar saya, lalu keluar lewat pintu depan (ini sekaligus menjawab pertanyaan beberapa orang yang penasaran si mas maling keluar lewat mana).








Ini hp yang saya pakai untuk nodong mas maling =.='




Pas si mas maling keluar dari rumah, dalam sekian detik itu otak saya berputar dengan cepat lagi, mempertimbangkan akan langsung saya kejar sambil berteriak atau saya biarkan saja. Karena saya tidak memakai jilbab, maka saya putuskan untuk tidak langsung mengejarnya(masak keluar rumah ga pakai jilbab) dan langsung menyambar atasan mukena yang tergantung di kamar. Ketika aurat sudah tertutup, eh terdengar suara deru motor tanda si mas maling sudah ngacir.

Dari posisi berdiri itu saya langsung ndeprok. Badan saya terasa benar-benar lemas. Sepertinya saat itu saya diliputi rasa shock, karena tanpa sadar air mata saya mengalir terus. Lalu terdengar lantunan adzan ashar. Namun saya tetap tidak bisa bangkit dan beranjak mengambil air wudhu, karena masih shock dan agak trauma jadi ragu untuk keluar kamar. Kemudian sambil berurai air mata(maaf kalau bahasa saya agak lebay) saya mengirim sms ke beberapa orang, menceritakan kejadian yang baru saya alami. Dalam sekejap mata(ini juga lebay) 2 sahabat saya sudah muncul di samping saya. Saat itu barulah saya mulai tenang dan langsung berwudhu untuk kemudian sholat ashar.

Pasca kejadian, saya baru sadar kalau pengalaman yang saya alami itu benar-benar aneh bin oneng bin lucu. Keonengan kisah ini tidak berhenti sampai di situ. Malam harinya, setalah saya dan teman kos curcol ke ibu kos, bapak kos langsung datang. Dan taukah kalian apa fakta yang saya dapat dari bapak kos???? Ternyata sebelum ashar bapak kos sudah berangkat ke masjid, dan pas lewat kos kami, bapak melihat ada mas-mas yang baru keluar dari kos kami. Karena lumayan agak curiga, bapak kos menegur si mas ini 
‘dari mana mas?’ 
dan si mas maling menjawab ‘biasa’ sambil ngedumel dan ekspresi wajah marah. 
Laaaahhh...... bukannya makin curiga, melihat ekspresi mas itu bapak kos malah ngira si mas yang baru keluar tadi marah gara-gara habis berantem sama saya(bapak kos tau kalau saya yang ada di kos soalnya motor saya diparkir di luar). Pas  menjelaskan pertemuan dengan si mas tadi, dengan polosnya bapak kos bilang ke saya ‘habisnya masnya tinggi tur ganteng, jadi saya kira pacarnya mba Nurul’
Doeeeeeenngggggg........dubraaakkkk!!!!! Saya dan adik kos kompak menjawab ‘bapaaaaakkkkk...... di kos ini ga ada yang punya pacar..... kalaupun ada temen putra yang dateng, biasanya mereka cuma di depan rumah, ga sampai masuk ruang tamu’.
Dan bapak kos kembali menjawab ‘lah, trus berarti kalau  ada cowok nyelonong masuk sinii berarti langsung dicurigai aja?’
Lagi-lagi  kami kompak menjawab ‘Iya pak, kalau lihat ada cowok yang nyelonong masuk atau keluar dari sini, ditangkep aja dulu, baru ditanyai’.

Itulah kisah tentang saya dan si mas maling yang lumayan aneh bin ajaib =___=’
Buat para pembaca.... WASPADALAH... WASPADALAH....

Aku Tahu Ini Cinta



Aku tahu ini cinta. Mungkin bukan cinta yang pertama, karena aku pun tak yakin kapan pertama kali  aku menyadari rasa cinta kepada orang lain. Mungkin juga ini bukan cinta satu-satunya, karena dalam satu waktu aku tidak hanya mencintai satu orang. Dan sangat mungkin ini bukan cinta pada pandangan pertama, karena entah kapan dimulainya, semakin hari perasaan ini semakin kuat.


Siapakah orang yang kucintai ini? Yang kucintai adalah kuncup-kuncup bunga, yang semakin hari kelopaknya mekar semakin lebar dan indah. Dan siapakah yang kumaksud dengan kuncup-kuncup bunga? Sebagian orang mungkin menyebutnya dengan mentee, atau binaan, atau mutarobbi, atau sebutan lainnya lagi. Tapi bagiku adik-adik ini adalah kuncup bunga. Istilah kuncup bunga mungkin tidak benar-benar asli ideku. Aku menirunya dari murobbiyahku yang pertama di kampus ini. Ketika beliau pergi ke luar kota untuk melanjutkan ke fase kehidupan yang berikutnya, beliau mengirimi masing-masing dari kami surat cinta. Dalam surat cinta itu beliau menyebut kami sebagai kuncup-kuncup bunga yang kini telah mekar, dan memiliki panggilan istimewa untuk masing-masing dari kami. Untukku, aku mendapatkan sebutkan ‘cheerful girl’.  Sungguh surat cinta itu sangat berkesan bagiku.

Dan sekarang sepertinya aku mulai paham bagaimana perasaan beliau saat itu. Bagiku mereka adalah kuncup-kuncup bunga yang menanti waktu yang sempurna untuk mekar, dan aku mencintai mereka semua. Bagaimana aku tahu bahwa ini cinta? Ya, aku yakin ini cinta. Karena setiap kali mengingat mereka, hatiku akan bergetar dan aku akan tersenyum. Bahkan sekarang, ketika aku menuliskan ini, aku tersenyum mengingat mereka satu per satu.

Pernah dulu aku mengirim sms untuk adik-adikku yang kuakhiri dengan kalimat ana uhibbuki fillah. Sebagian besar dari mereka menjawab ana uhibbuki fillah atau luv u too ‘coz Allah. Namun ada satu orang yang jawabannya sangat berbeda. Dia membalas “memang atas dasar apa mba bilang cinta? Maaf, sekarang sangat banyak orang-orang yang mengumbar kata cinta tapi hanya di mulut”. Deg... Untuk sepersekian detik aku lumayan kaget dengan pertanyaan sekaligus pernyataan itu.. dan kemudian aku berpikir, apa bukti bahwa aku mencintai mereka? Akhirnya aku menemukan jawabannya, yaitu tiap kali aku mengingat mereka, hatiku akan bergetar dan secara otomatis aku akan tersenyum. Tidak jarang aku senyum-senyum sendiri ketika membaca sms, dan biasanya orang yang sedang ada di dekatku akan bertanya “hayooo.... baca sms dari siapa??”. Mungkin (cuma mungkin lho..).  mereka berpikir itu sms dari lawan jenis. Tapi bukan, sms yang sering membuatku senyum-senyum sendiri ketika membacanya adalah sms yang dikirimkan oleh adik-adikku. Tanda-tanda lain bahwa rasa ini memang cinta adalah aku akan sangat merindukan mereka ketika lama tak bersua. Rasanya ingin segera bertemu mereka. Entah itu bertemu ketika pertemuan resmi (baca: halaqoh) ataupun ketika bertemu secara kultural. Hatiku juga akan berbunga-bunga ketika menerima hadiah-hadiah dari mereka, karena itu tanda kasih mereka. Dan yang paling membuatku yakin bahwa aku mencintai mereka adalah aku merasa sangat sangat berat ketika tiba waktunya untuk berpisah dengan mereka. Kalau bisa memilih, aku akan memilih untuk terus membersamai mereka, karena hati ini terasa sakit ketika memikirkan akan berpisah dengan mereka. Tapi tentu saja apa yang kuinginkan belum tentu menjadi yang terbaik untuk mereka, dan aku harus berlapang dada untuk berpisah dengan mereka. Itu tadi beberapa tanda yang menurutku merupakan tanda-tanda cinta, sehingga aku yakin bahwa yang kurasakan adalah benar-benar cinta, bukan sekedar ucapan di lisan. Tentu saja ada tanda-tanda lainnya, tapi sepertinya tidak perlu kuceritakan di sini.

Lalu, bagaimana cara aku memperlakukan kuncup-kuncup bunga yang sangat kucintai ini? Pertama kali aku merasakan pengalaman membina adalah hampir empat tahun yang lalu. Ketika itu aku diamanahi untuk menjadi pemandu kelompok mentoring fakultas, yang pesertanya adalah adik-adik yang angkatannya satu tingkat di bawahku. Kombinasi kelompok ini sangat unik. Ada beberapa anak yang sudah memakai jilbab, walaupun masih minimalis. Ada pula yang memakai cadar(walaupun ketika di kampus cadarnya dilepas), dan ada beberapa yang belum berjilbab. Pada awalnya aku sempat bingung bagaimana harus memperlakukan mereka. Untungnya saat itu diadakan training untuk para pemandu. Ada satu analogi menarik yang disampaikan oleh sang trainer, yang masih sangat kuingat sampai sekarang, yaitu seperti ini: 
“Bayangkan di sini ada teko, air, gelas, sendok, teh, gula. Kira-kira sebagai pemandu kalian memposisikan diri sebagai apa?” 
Jawaban yang muncul sangat beragam. Kemudian sang trainer memberi penjelasan. Ketika kita menempatkan diri sebagai teko, lama kelamaan teko ini akan kosong karena isinya terus menerus dituang ke gelas. Ketika menjadi air, seolah-olah kita menganggap binaan kita sebagai gelas yang benar-benar kosong, dan itu tidak mungkin. Bila kita menempatkan diri sebagai gelas, lama-lama gelas ini akan luber bila terlalu banyak isinya. Paling tepat adalah ketika kita menempatkan diri sebagai sendok. Anggaplah teko, gelas, air, gula, dan teh itu adalah potensi yang sudah ada dalam diri adik-adik kita, dan di sinilah peran kita sebagai sendok, yaitu untuk meracik segala potensi tadi menjadi kombinasi yang luar biasa.

Analogi itulah yang hingga kini kutanamkan secara kuat dalam benakku. Aku ibarat sendok. Jadi bagaimanapun potensi yang dimiliki adikku, aku tidak boleh merasa rendah diri. Bukan berarti dengan begitu aku tidak perlu menambah kafaahku. Aku harus terus menerus menambah kafaahku, namun aku tidak akan membiarkan kelemahan-kelemahan yang kumiliki membuatku menjadi minder dan tidak layak untuk memandu adik-adikku. Hingga saat ini, kuncup-kuncup yang kucintai sangatlah beragam dan semua memiliki potensi yang luar biasa. Beberapa dari mereka ada yang sudah bertahun-tahun mondok sebelum kuliah. Sebagian besar dari mereka saat ini menjadi santri di beberapa pondok muslimah. Tidak sedikit dari adik-adikku yang memiliki hafalan al qur’an jauh lebih banyak daripada aku. Tidak sedikit pula dari mereka yang memiliki IPK cumlaude dengan segudang prestasi akademik. Dan banyak dari mereka yang memegang posisi penting di organisasi kemahasiswaan, serta masih banyak lagi kelebihan-kelebihan mereka.  Itu membuatku makin sadar kalau aku jauh dari sempurna. Tapi adik-adikku pun bukan orang yang sempurna. Aku tidak perlu menampakkan diri sebagai sosok yang sempurna. Ketika adik-adikku menanyakan tentang suatu hal dan aku tidak mengetahui jawabannya, aku akan dengan jujur mengatakan bahwa aku belum mengetahui jawabannya, dan akan segera mencari tahu. Ketika aku dimintai tolong untuk melakukan sesuatu yang aku tidak bisa, aku akan menjawab jujur bahwa aku tidak memiliki skill itu. Justru dengan ketidaksempurnaan inilah kami sama-sama berproses untuk selalu memperbaiki diri. Karena ketidaksempurnaan ini juga kami butuh untuk saling melengkapi, hingga bisa menjadi kaleidoskop warna yang indah.

Hal ini membuatku mengingat sosok ibuku. Setiap kali kami bercakap-cakap, sering kali di akhir pembicaraan ibuku menutupnya dengan meminta maaf bila mungkin ada salah.. Meminta maaf karena belum bisa memenuhi kebutuhanku... Meminta maaf karena tidak bisa menjadi ibu yang sempurna.. dan permintaan maaf ibuku selalu membuatku meneteskan air mata. Justru permintaan maaf atas segala kekurangan itulah yang membuat beliau menjadi sosok yang sempurna di mataku. Dan begitu pula aku memperlakukan adik-adikku. Aku memang bukan sosok yang sempurna dan memiliki banyak keterbatasan, tapi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kuncup-kuncup yang sangat kucintai ini. Bukan berarti aku ingin dipandang sempurna seperti aku memandang ibuku. Bukan itu... Satu hal yang sangat kutekankan dan aku berusaha agar mereka tidak pernah meragukannya, yaitu bahwa aku mencintai mereka karena Allah. Dengan rasa cinta inilah aku berusaha untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Sebagaimana aku yang tidak pernah meragukan rasa cinta orang tuaku kepadaku, dan dengan pengetahuan itulah aku yakin bahwa mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. 




Sleman, 31 Juli 2012, 21.50 WIB.
Untuk kuncup-kuncup bungaku, aku yakin pada waktunya kalian akan mekar dengan indah dan menebarkan keharuman ke sekeliling kalian. I’ll wait and see.  Ana uhibbukum fillah...




Menggunakan Analogi Membungkus Kado dalam Menghadapi Manusia

Belakangan ini saya memiliki satu hobi baru, yaitu wrapping atau membungkus kado ^,^ Mungkin bagi sebagian orang membungkus kado terkesan sebagai sesuatu yang remeh. Namun bagi saya hobi baru saya ini merupakan sesuatu yang penting. Ada dua alasan utama kenapa saya menganggap ini adalah hal yang luar biasa.

  1. Sampai beberapa bulan yang lalu saya paling anti dengan yang namanya wrapping, karena hasil wrapping saya sampai saat itu biasanya benar-benar parah.
  2. Saya menganggap unsur kemasan hadiah itu sangat penting, karena menunjukkan kesungguhan si pemberi hadiah.
Beberapa bulan yang lalu seorang kawan saya, sebut saja Jabal, mengenalkan saya pada jasa wrapper profesional. Saya sangat suka mengamati mbak-mbak yang profesional ini dalam membungkus kado, karena barang yang awalnya biasa-biasa aja dengan bentuk yang tidak jelas, setelah dibungkus bisa menjadi sangat cantik. dan tentu saja 'kecantikan' ini berbanding lurus dengan harga. Untuk membungkus sebuah kado, minimal menghabiskan di Rp.12.000,- Seringnya saya harus membayar Rp.20.000,- bahkan lebih, tergantung habisnya bahan yang digunakan.


Lama kelamaan, saya berpikir 'daripada uang saya habis untuk bayar jasa bungkus kado, mending saya belajar bungkus sendiri. Toh kayaknya ga susah-susah amat, asal punya peralatan yang pas'. Dari situlah tiba-tiba saya berminat untuk belajar wrapping. Akhirnya saya membeli segala perlengkapan yang dibutuhkan, seperti lem tembak, berbagai jenis kertas kado, plastik kado, kain khusus pembungkus kado, berbagai jenis pita, dan gunting dengan berbagai pola guntingan. Ternyata skill saya dalam membungkus kado bisa mengalami kemajuan, tidak separah beberapa bulan yang lalu.







Tiba-tiba tadi saya mencoba memikirkan, mengapa hasil wrapping saya yang sekarang sangat jauh lebih lumayan dari yang dulu-dulu. Barulah saya sadar kalau sekarang saya belajar menyesuaikan bahan pembungkus dengan kertas yang dibungkus. Kalau dulu sih, barang yang bentuknya kubus atau balok biasanya langsung saya bungkus. Paling pusing kalau barang yang mau dibungkus bentuknya bukan kubus atau balok, karena susah rapi kalau dibungkus. Paling-paling solusi yang waktu itu saya ambil adalah mencari kardus/kotak yang muat untuk barang tadi, baru barang itu saya bungkus. Jadilah kado saya hampir selalu berbentuk kubus atau balok =.='

Dan sekarang saya mulai mencari kombinasi pembungkus yang pas. . Misal untuk kado yang bentuknya memang sudah kubus atau balok, bisa langsung dibungkus dengan kertas kado tipis yang cantik.. Tapi jangan coba-coba menggunakan kertas kado tipis pada barang yang tidak keras, misal kain. Karena kertas kado akan gampang lecek dan sobek. Untuk kado yang jenis itu, lebih baik bila menggunakan pembungkus yang bebahan kain, jadi bentuknya bisa menyesuaikan. begitu juga dengan barang-barang lain dengan bentuk yang aneh, misal lampu teplok, lebih pas jika dibungkus dengan kain. Gambar kado berwarna biru yang paling atas itu merupakan contoh kado yang dibungkus dengan bahan kain. Sedangkan yang di bawahnya(ungu) menggunakan kertas kado yang sangat tipis. kado yang paling bawah ini menggunakan kertas kado dengan ketebalan yang sedang-sedang saja.

Balik ke judul tulisan ini, trus apa hubungan antara wrapping dengan memperlakukan manusia?? Hubungannya kuat banget lho!!! hehehehehe  Kita analogikan manusia sebagai kado yang belum dibungkus.. Potensi dan karakter manusia kan bermacam-macam dan tidak ada yang sama persis. maka dari itu kita juga tidak bisa memperlakukan semua orang dengan sama rata. Misal kita menggunakan konteks Pengembangan Sumber Daya  Manusia di suatu lembaga. Tiap orang yang ada di lembaga itu memiliki keunikannya masing-masing, tinggal bagaimana orang yang ada di PSDM mengasah semua potensi tadi dengan tepat. Tidak jarang kita mendengar ada kader yang mengeluh karena ditempatkan di posisi yang tidak menjadi minat atau keahliannya. Itu ibarat kita  membungkus lampu teplok dengan memasukkan ke kardus berbentuk kubus dan kemudian membungkusnya dengan kertas kado. Lampu teplok tadi tetap bisa diakui sebagai kado, namun 'penampilannya' tidak optimal karena daya tarik aslinya tertutupi karena dipaksa untuk berbentuk kubus. Begitu juga dengan kader yang merasa 'salah tempat' tadi. Mungkin dia tetap akan bisa menjalankan jobdes walaupun tidak memiki minat dan bakat di sana. Tapi biasanya outputnya akan kurang optimal, atau bahkan minimalis, karena potensi kader tersebut ada di tempat lain.

Analogi wrapping ini tidak hanya bisa digunakan dalam konteks PSDM lembaga. Ini bisa diterapkan dalam hal pergaulan, juga dalam hal mendidik dan memperlakukan anak. Jadi, pilihlah pembungkus yang paling tepat untuk masing-masing barang, agar menjadi kado yang unik :)

"Abi, poligamilah!" Kapling hati ; Kalau Bisa Mensejahterakan Banyak orang, Mengapa Hanya Memilih Satu? :)


sumber gambar: google


"Kalau Bisa Mensejahterakan Banyak orang, Mengapa Hanya Memilih Satu?" 



 Statement lugas itu sontak membuat kami terdiam dan berpikir. Memikirkan apa? Poligami tentu saja, karena konteks statement di atas adalah tentang poligami. Bagi pembaca yang merasa bingung, monggo dibaca dulu Ketika Poligami Dipertentangkan atau Jemputlah Tulang Rusukmu yang Lain.

Biasanya saya mendengar statement yang serupa dengan judul di atas itu dari pihak laki-laki yang sedang berargumen tentang pro poligami, sedangkan para perempuan yang saya kenal kebanyakan berkisar antara sangat kontra (ekstremnya, bilang "kalau laki-laki boleh poligami berarti perempuan juga boleh poliandri") atau yang netral (misal dengan mengatakan "Saya tidak menentang konsep poligami, tapi saya pribadi menolak untuk dipoligami"). Nah, ajaibnya, statement "Kalau Bisa Mensejahterakan Banyak orang, Mengapa Hanya Memilih Satu?" yang saya dengar ini keluar dari mulut seorang perempuan yang sekaligus sudah menjadi istri.

Setelah kami berhasil melewati fase 'tersontak' tadi, otomatis kami langsung bertanya "Maksudnya gimana?". Perempuan tadi, mari kita sebut saja 'Ummi' bukannya memberikan penjelasan lengkap, tapi malah mengeluarkan statement lain yang berhasil membuat kami melongo, yaitu :

"Ternyata hati bisa dikapling" O_o

Oke, kami jadi terdiam lagi karena berusaha memahami statement tersebut. Tapi ternyata kapasitas nalar kami sangat terbatas, hingga akhirnya kami pun menyerah dan meminta penjelasan.

Ummi tadi menjelaskan, maksud dari 'kapling hati' ini baru benar-benar bisa dipahami seseorang yang telah memiliki anak. Jadi, menurut beliau, orang yang memiliki anak lebih dari satu akan otomatis 'mengapling' hatinya. How come?? Misal nih, seseorang memiliki 4 orang anak. Perasaan sang orang tua terhadap keempat anak tadi tidak akan pernah bisa sama persis. Begitu pula dengan perlakuan yang diberikan. Tapi apa itu berarti sang orang tua tidak adil terhadap keempat anaknya? Tidak juga kan.. Adil bukan berarti sama persis. Tiap anak memiliki keunikan dan kebutuhannya masing-masing, sehingga orang tua pun menyesuaikan dengan itu.


Sang Ummi tadi menganalogikan suami yang berpoligami seperti orang tua yang memiliki anak lebih dari satu. Ini juga salah satu argumen yang digunakan sang Ummi untuk 'memaksa' suaminya untuk menikah lagi. Jadi jangan takut nantinya tidak bisa adil, dan bila bisa mensejahterakan banyak orang, tentu pahala yang didapat bisa lebih banyak.

Bukannya gayung bersambut, suami dari Ummi tadi (kita sebut saja Abi) malah (lagi-lagi) menolak dengan menggunakan hujjah QS An Nisa ayat 3
 ”…Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat 
berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja…” 


Abi membalas argumen 'kapling hati' tadi dengan analogi 'mesin'. Apa pula itu? O_o

Jadi begini, ibarat kendaraan bermotor, tentu menggunakan mesin atau suku cadang lainnya. Kendaraan tadi akan sangat terbiasa dengan mesin  atau suku cadang yang sudah jadi bawaannya itu. Namun ketika ada mesin atau suku cadang baru, otomatis yang lama akan ditinggalkan (Semacam 'turun mesin' gitu kali ya.. -.-a). dan proses 'meninggalkan yang lama' ini walaupun berusaha dihindari akan tetap menjadi keniscayaan.. Karena si Abi tadi merasa tidak akan sanggup untuk adil, maka beliau memilih untuk menikahi satu saja.

Oh iya, ketika mendengar analogi tentang mesin tadi salah satu pendengar ada yang nyeletuk "Kata bapak saya, mesin yang paling pertama itu emang 
yang paling bagus" #eaaaaa 

Selain beberapa statement yang membuat kami melongo tadi, si Ummi juga memberikan statement lain, yang kali ini benar-benar so sweet ^____^  Jadi tuh, si Ummi pernah nanya ke si Abi

"di luar sana kan ada banyak akhwat yang cantik, tapi kenapa hanya memilih aku??"

dan si Abi pun menjawab

 "di atas langit ada langit"

Maksudnya adalah, tentu saja di luar sana ada banyak yang lebih baik dari yang kita miliki. Justru karena itulah kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki (senyum).