RSS

Ini Alat Transportasiku, Apa Alat Transportasimu????


Sepertinya kita sepakat, kalau negara Indonesia  yang kita cintai ini luaaaaassssss banget.  Saya memang belum pernah ngukur secara langsung untuk tau tepatnya seberapa luas. Saya juga sudah lupa, berapa luas Indonesia yang tercantum di buku geografi pas jaman masih dapat pelajaran geografi. Tapi yang jelas saya yakin Indonesia memang luas ^^


Bukan cuma luas, Indonesia juga diberkahi dengan keadaan geografis yang beraneka ragam. Mungkin keragaman ini juga lah yang akhirnya mempengaruhi jenis sarana transportasi di Indonesia, karena kita tau kalau jenis alat ransportasi di seluruh daerah di Indonesia juga beragam.

Berikut ini cerita tentang berbagai alat transportasi yang sudah pernah saya naiki dan yang belum pernah saya naiki (walaupun pengen banget) tapi sudah saya lihat secara langsung.

1. Kereta Apollo
    Hohohohoho.... sepertinya ini kendaraan pertama yang betul-betul saya naiki sendiri pas masih bayi ^_____^





2. Sepeda roda tiga               
Sekitar  mulai umur 2 tahun, sudah diajari naik sepeda dengan roda bantu. Dan karena saya anak bungsu, so pasti sepeda yang saya pakai warisan dari para pendahulu.




3. Sepeda roda dua               
Sekitar umur 3 tahun, sudah diajari naik sepeda roda dua sama bapak. Kalau dipikir-pikir, dulu cara belajar saya agak konyol. Tiap sore latihan naik sepeda, sembari bapak jogging. Awalnya bapak megangi sadel, supaya ga jatuh.. trus hari berganti hari, bapak ga megangi sadel, tapi bagian belakang sepeda diikatkan tali sepat, trus bapak megangi ujungnya. Kalu tali dipegang, saya bisa naik sepeda dengan lancar. Tapi kalau noleh ke belakang trus sadar ternyata tali sudah ga dipegang, saya angsung jatuh. Setelah lebih berumur baru geli sendiri karena sadar. Lah, mana ngaruh ke keseimbangan kalau Cuma diikat pakai tali sepatu. Tapi itulah cara bapak saya, dengan sabar ngajari naik sepeda setahap demi setahap :)




4. Bemo              
  Bemo merupakan salah satu angkutan umum yang pernah jadi andalan di kota Singaraja. Masih segar di ingatan, pengalaman naik bemo sendiri untuk yang pertama kalinya. Pas awal kelas 1 SD, diajak diskusi sama bapak, tentang belajar mandiri. Salah satunya dengan berangkat&pulang sekolah tanpa antar jemput. Ketika saya sudah menyanggupi, keesokan harinya bapak tetap menjemput ke sekolah. Lalu bapak memberi instruksi bagaimana prosedur untuk naik bemo, dan langsung meminta saya memraktikkannya, dengann membekali saya uang 100 rupiah untuk ongkos bemo. Sesuai prosedur yang diajarkan bapak, saya berdiri di pinggir jalan, menunggu bemo warna merah. Ketika dari kejauhan sudah terlihat bemo yang saya tunggu, dengan semangat saya langsung mengayun-ayunkan tangan ke depan. Dan bemo pun berhenti. Saya langsung bilang “pak, ke jalan melur nomer 6 ya”. Bapak sopir mengangguk sambil tersenyum, dan membukakan pintu belakang. Trus saya protes “pak, saya duduknya di depan ya”. Dan akhirnya saya duduk di samping pak sopir, dengan bapak saya yang naik motor mengikuti bemo. Sampainya di rumah, bapak menunggu di halaman, dan ketika saya sudah turun dari bemo, bapak mengucapkan terima kasih ke pak sopir dan memberikan pujian kepada saya karena sudah berani naik bemo sendiri :) Setelah itu, bemo menjadi kendaraan langganan saya, terutama tiap kali pulang sekolah.






5. Becak               
Seingat saya, pertama kali naik becak pas usia pra TK. Waktu itu perjalanan pulang kampung ke kampung halaman ibu. Awalnya naik becak dari pelabuhan Ketapang ke terminal Banyuwangi, trus pas sudah sampai Jogja, naik becak di Malioboro.






6. Dokar               
Dokar ini jadi kendaraan rutin tiap hari minggu :) ketika saya kecil, ibu punya kebiasaan mengajak saya ke pasar tiap hari minggu. Jarak rumah-pasar sekitar 2km. Biasanya kami berangkat jam 6 pagi dengan berjalan kaki. Kami berangkat lumayan pagi, karena biasanya di perjalanan saya suka mapir untuk berhenti menikmati pemandangan bunga yang mekar di kebun orang atau di halaman perkantoran, atau mampir ke bis surat untuk mengirimkan surat  ke para sahabat pena saya di seluruh dunia :) di pasar pun ibu punya kebiasaan selalu membelikan asesoris rambut, dan alhasil koleksi asesoris rambut saya berkardus-kardus! Selesai mondar-mandir belanja, kami pulang naik dokar, karena sinar matahari sudah mulai menyengat dan kaki sudah kelelahan mondar-mandir di pasar. Biasanya dokar yang kami naiki sampai rumah tepat jam 10 pagi, pas ketika di radio memulai sandiwara Nyi Pelet langganan saya :p










7. Kereta              
  Sama dengan pengalaman naik becak, sepertinya pengalaman pertama saya naik kereta pas saya usia pra TK, dalam perjalanan ke Jogja. Setelah itu lama ga pernah naik kereta, dan baru naik kereta lagi ketika saya sudah jadi mahasiswa di Jogja.





8. Bus              
  Ketika saya masih kecil dan keluarga kami belum memiliki mobil pribadi, bus menjadi andalan tiap kali ke luar kota. Terutama tiap kali pulang ke kampung halaman bapak di kabupaten Jembrana. Tapi dari dulu saya ga pernah suka bus antar kota yang di Bali >____< Kalau sekarang sih biasanya naik bus antar provinsi, dan lebih lumayan, karena bus eksekutif ;) tapi walaupun eksekutif, bus adalah salah satu kendaraan umum yang paling tidak saya sukai.







9. Kapal Ferry
               Sejak kecil sepertinya saya memang sudah tidak asing dengan kapan ferry. Rute kapal ferry yang pernah saya naiki antara lain Gilimanuk(Bali)-Ketapang(Banyuwangi), Bali-Lombok, dan Lombok Sumbawa. Yang paling horor adalah rute Bali-Lombok @___@, dimana perjalanan memakan waktu 4-5 jam dengan ombak yang horor karena angin kencang.





10. Kapal PELNI Kerinci               
Satu-satunya pengalaman saya naik kapal besar adalah ketika untuk pertama kalinya ke Sulawesi. Kami sekeluarga ke Surabaya dulu dengan mengendarai mobil, lalu naik kapal Kerinci dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Perjalanan dari Tanjung Perak ke Pelabuhan Pantoloan (Palu) memakan waktu sekitar 3 hari 2 malam. Kalau dipikir-pikir dengan membayangkan peta Indonesia, rute kapal ini lumayan aneh. Dari Surabaya kami mapir di Pare-Pare (Sulawesi Selatan), lalu kapal menuju Balikpapan( Kalimanan Timur), lalu ke Sulawesi lagi, tepatnya ke Palu(Sulawesi Tengah). Pengalaman di atas kapal selama 3 hari ini benar-benar luar biasa. Saya jadi bisa mengamati berbagai jenis manusia ^^ selain itu bisa kenal dengan para awak kapal yang ramah-ramah. Badan pun tidak terlalu lelah. Karena bila kami bosan di dalam kamar, kami bisa mondar-mandir entah ke dek kapal, ke mushola, ke restoran, atau sekedar jalan-jalan mengelilingi seantero kapal.







11. Pesawat
Pengalaman pertama saya naik pesawat adalah ketika sudah SMA. Ini masih dalam rangkaian perjalanan setelah naik kapal Kerinci. Setelah bersilaturahim ke keluarg besar yang ada di Sulawesi, kami melanjutkan perjalanan untuk silaturahim ke saudara ibu yang ada di Kalimantan. Dan pesawat yang pertama kali saya naiki adalah Bouraq Airlines jurusan Palu-Balikpapan. Setelah itu, rute-rute penerbangan yang pernah saya ambil adalah Banjarmasin-Surabaya(dan sebaliknya), Denpasar-Palu(dan sebaliknya), Surabaya-Palu(dan sebaliknya), Jogja-Denpasar (dan sebaliknya), Denpasar-Maumere(dan sebaliknya). Di antara semua maskapai yang pernah saya coba, yang paling mantab jelas Garuda Indonesia :)







12. Jukung
               Jukung merupakan perahu nelayan di Bali. Bagi warga pesisir, tentu tidak asing dengan pemandangan jukung. Pengalaman pertama saya naik jukung baru setelah saya lulus SMA :) Kami naik jukung di pantai Lovina pagi-pagi buta, agar bisa melihat pemandangan lumba-lumba liar yang berlompatan di tengah lautan ^___^ subhanallah.... benar-benar pemandangan yang luar biasa! Ketika matahari mulai terang, lumba-lumba pun lenyap dan kami menepi lagi. Sebelum benar-benar sampai pasir lagi, jukung yang kami naiki berhenti dulu di atas kawasan terumbu karang. Dan akhirnya saya pun tidak bisa menahan godaan untuk nyempung ke laut, supaya bisa melihat terumbu karang dan ikan beraneka warna dengan lebih jelas. Dan sekali lagi, betapa indah ciptaan Allah :)






13. Klotok
Klotok merupakan sejenis perahu/kapal mini yang ada di kalimantan. Karena kalimantan memilikin beberapa sungai besar, klotok menjadi salah satu sarana transportasi andalan warga. Pengalaman  pertama saya naik klotok di sungai Barito Banjarmasin adalah ketika kami mengunjungi pasar terapung. Hehehehe.... di pasar ini, semua penjual dan pembeli naik klotok. Kagum deh dengan keseimbangan badan warga lokal yang dengan lincahnya bermanufer di atas klotok. Pernah juga naik klotok di sungai Barito, ketika mengunjungi rumah salah satu kerabat, dan rumah ini memang hanya bisa diakses dengan klotok!! Serupa dengan di Banjarmasin, warga Samarinda juga biasa berklotok ria menyusuri sungai Mahakam. Klotok yang berukuran agak besar, bisa menampung murid-murid dengan sepedanya dan pegawai kantoran yang mengendarai motor. 






14. Kano               
Kano merupakan pemandangan yang sering dijumpai di pantai Penimbangan di dekat rumah saya. Terakhir kali saya naik kano dulu pas masih SMA. Kalau ga salah dulu tarifnya Rp.3000,-/jam. Awalnya saya mikir, kok bentar banget, cuma 1 jam. Tapi ternyata..... mendayung kano di lautan selama 1 jam itu benar-benar menguras tenaga!!!! Jangankan sampai 1 jam, baru setengah jam saja sudah nyerah. Kano yang ada di pantai ini adalah kano yang hanya bisa dinaiki 1 orang. Dayung kano akan terikat dengan tali ke badan kano, supaya tidak hanyut terpisah ketika kano terbalik. Dan kano memang mudah terbalik, terutama bila ombak agak keras.







14. Sepeda Motor               
Sepeda motor merupakan sarana transportasi saya yang utama dari dulu sampai sekarang :) dan sejak kelas 1 SMA hingga sekarang saya masih setia dengan si karisma DK saya :)








15. Mobil
Sepertinya tidak perlu dibahas panjang lebar tentang mobil, karena saya yakin semua pembaca tau mobil. Yang jelas ketika sudah berusia 17 tahun(usia minimum untuk sim A), saya langsung dipaksa belajar nyetir sama bapak @_____@

16. Truk
Hehehehe... dulu paling sering naik truk pas jaman masih aktif di Pramuka. Khususnya truk polisi ^______^








Itu tadi cerita tentang kendaraan yang saya ingat pernah saya naiki. Karena keterbasan ingatan, bisa jadi ada kendaraan yang belum tersebutkan. dan berikut ini kendaraan yang pengeeeeeeennnnnn banget saya naiki, tapi belum kesampaian sampai sekarang.

1. Cidomo
kalau ga salah ingat, cidomo itu akronim dari cikar dokar bemo. Asumsi saya sih nama itu muncul karena cidomo ditarik oleh kuda seperti dokar, dengan badan seperti cikar, dan roda mobil seperti bemo. Ini adalah kendaraan tradisional di pulau Lombok. Sayangnya saya belum berkesempatan untuk mencoba, karena biasanya ke Lombok cuma numpang lewat ;( 









2. Angkot truk ala Flores
Pertama kali saya melihat kendaraan ini adalah ketika perjalanan dari danau Kelimutu ke kota Ende. Truk yang diisi bangku ini merupakan sarana transportasi umum antar kabupaten di pulau Flores. Semoga lain kali saya berkesempatan mencobanya :)












3. Kuda
Ketika berkendara menyusuri pulau Sumbawa(NTB), salah satu pemandangan yang tidak asing adalah kuda! Entah itu kuda yang lepas liar di hutan, atau kuda yang menjadi sarana transportasi. Bukan pemandangan aneh jika melihat kuda besar yang dinaiki anak-anak usia SD. Sayangnya saya belum bisa berkuda :( 









Nah, itu tadi cerita saya tentang alat transportasi. Monggo kalau ada teman-teman yang ingin berbagi tentang sarana transportasi yang diketahui, untuk menambah pengetahuan kita tentang keanekaragaman transportasi  :)

3 comments:

ieboy said...

dari semua alat transportasi yang aku tau, Pesawat itu yang menurutku paling fantastis!! segaris dengan tantangan dari Allah ta'ala untuk menjelajah angkasa
*sayangnya di tulisan ini gak dibahas :)

nurul said...

iya, tulisan ini bahasannya memang luas tp ga mendalam. Mungkin lain kali bisa dibahas dgn lbh dalam kl pas membahas khusus pesawat :)

Trio Adhitya said...

terima kasih ats infonya.

visit my link to st3telkom

Post a Comment