RSS

Wasiatku



Bismillah...

Nama saya Nurul Hidayati. Ketika wasiat ini dibuat status saya adalah belum pernah menikah, belum memiliki keturunan langsung, dengan anggota keluarga inti yang masih hidup adalah bapak ibu serta tiga orang kakak laki-laki, dan memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah meninggal, serta belum menunaikan ibadah Haji. Saat ini saya sedang merantau di Yogyakarta, dan orang tua(wali) saya tinggal di Bali.

Wasiat ini saya buat dan saya publish di sini adalah agar nanti ketika saya meninggal tidak terjadi banyak perdebatan di antara orang-orang yang ada di sekitar saya, dan hal-hal yang saya harapkan untuk terpenuhi setelah saya meninggal bisa segera ditunaikan.

Bila di kemudian hari ada perubahan kondisi, insya Allah perubahannya akan saya sampaikan.

Berikut wasiat yang saya harap bisa ditunaikan ketika saya meninggal:

  1. Segera mandikan dan jaga aurat jenazah saya.
  2. Bila lokasi saya meninggal terbilang jauh dari tempat tinggal keluarga saya, segera hubungi keluarga saya. Kontak mereka ada di ponsel saya. Berikut keluarga yang saya cantumkan di ponsel saya. Bapak: Abah Papi. Ibu: Mami. Kakak 1: Yudha. Kakak 2: Wahyu. Kakak 3: Heru.
  3. Aturlah proses pemakaman agar semudah dan sesegera mungkin. Saya tidak memiliki pesan spesifik terkait lokasi pemakaman. Bila memungkinkan, makamkanlah saya di daerah tempat saya menghembuskan nafas terakhir agar prosesnya tidak memakan waktu yang lama. Tidak perlu juga menanti agar anggota keluarga sudah hadir dengan lengkap(alhamdulillah ini sudah menjadi kesepakatan di keluarga kami).
  4. Jangan berlebihan dalam meratapi kematian saya.
  5. Tidak usah memasang batu nisan atau segala bentuk bangunan lainnya di atas makam saya.
  6. Terkait harta yang ditinggalkan, gunakan itu untuk segera melunasi segala bentuk utang yang saya miliki jika memang saya memiliki utang, lalu tunaikan zakat dari segala bentuk harta yang saya miliki jika memang sudah mencapai nishob. Kemudian sisihkan juga sebagian untuk melunasi kekurangan biaya ibadah haji. Setelah hal-hal yang saya sebutkan tadi tertunaikan, bagikanlah harta saya sebagaimana hukum waris dalam Islam.
  7. Gantikan saya dalam menunaikan ibadah haji (insya Allah jadwal berangkat adalah tahun 1443 H). Terkait siapa yang akan mewakilkan, silahkan nanti disyurokan di antara keluarga saya.
  8. Sebisa mungkin tolong ditutupi aib-aib yang saya miliki, jika memang ada yang mengetahui aib-aib saya.
  9. Do'akan saya tanpa harus mengadakan acara khusus untuk mendo'akan.
  10. Segala hal yang belum saya sebutkan di sini bila memungkinkan silahkan disyurokan dengan melibatkan wali saya.

Sleman, 16 April 2013/1434H 

Sungguh, Kematian itu Sangatlah Dekat


Pernah kah kau merasa bahwa kematian itu sangatlah dekat?
Sejak dulu aku sering merasakannya...
'Reminder' itu biasanya beupa kematian orang-orang yang ada di dekatku... Terutama ketika orang yang meninggal itu masih terlihat sehat wal'afiat....

Lalu belakangan ini aku cukup sering mendapatkan 'Reminder' yang lebih terasa.

Itu ketika beberapa bulan lalu bus yang kunaiki mengalam kecelakaan dan berhantaman dengan truk.. Sepersekian detik antara bunyi rem berdecit hingga suara keras benturan betul-betul muncul sekelebat bayangan kematian di benakku.. Bila saat itu nyawaku diambil, aku ingin lafadz Allah lah yang terakhir kuucapkan... Tapi ternyata Allah masih memberikan kesempatan padaku untuk hidup di dunia ini...

'Reminder' keras lainnya terjadi setelah kecelakaan bus yang kualami. Saat itu aku sedang mengendarai motor di kota lain untuk menghadiri pernikahan salah seorang sahabat. Di jalan, aku berpapasan dengan sepeda motor yang melaju sangat kencang dari arah berlawanan. Sedetik setelah berpapasan denganku, terdengar dua kali benturan keras. Dan ketika aku melihat melalui spion, pengendara motor yang berpapasan denganku tadi sudah tergeletak tak bergerak di bawah  sebuah mobil. Suara benturan pertama sepertinya adalah bunyi benturan ketika motor tadi menabrak mobil, dan bunyi benturan kedua adalah ketika motor dan pengendara tadi terlindas mobil. Astahgfirullah..... sedetik sebelumnya orang tadi masih hidup sehat wal'afiat tapi sedetik kemudian ia sudah tergeletak tak bergerak.....

'Reminder'ku yang terbaru adalah ketika aku mengalami kecelakaan belum lama ini. Saat itu aku sedang dibonceng oleh salah satu sahabatku. Sesaat menjelang kecelakaan, aku sudah pasrah karena tidak bisa terhindarkan lagi kami akan menabrak mobil di depan kami dengan posisi motor yang kami naiki sedang melaju kencang dan di sebelah kami dihimpit sebuah bus besar. Ya Allah.... sepersekian detik sebelum benturan yang tak terelakkan, aku juga sudah pasrah jika Allah berkehendak mengambil nyawaku saat itu. Namun ternyata Allah berkehendak lain.

Sebetulnya masih ada banyak lagi 'reminder' yang kudapati. Bisa jadi seseorang mendapatkan 'reminder' tapi ia tidak menyadari bahwa itu adalah peringatan tentang dekatnya kematian kita..

Apakah kita siap bila saat ini nyawa kita diambil Allah? Sungguh, aku belum merasa siap. Masih banyak dosa-dosa yang aku belum bertobat dan masih sangat sedikit amalan-amalanku... Tapi apakah Allah akan menunggu sampai kita siap? Tentu saja tidak! Sehebat apapun kita, kita tidak akan pernah bisa menghindari jemputan ajal. Jadi, sebelum nyawa ini meninggalkan raga, mari kita mempersiapkan diri agar siap jika sewaktu-waktu Allah mengambil nyawa kita. Lupakan jargon yang menyesatkan 'Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk syurga'. Apakah kita yakin kalau kita akan sempat mengalami masa tua sebelum kematian datang??

Sepandai-pandai Tupai Melompat Pasti Pernah Jatuh Juga, Begitu Juga Dengan Pengendara Motor


Kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti pernah jatuh juga. Saya belum pernah melihat tupai melompat di alam liar, cuma pernah melihat tupai di dalam kandang dan tupai di film kartun (itu loohhh... film Chipmunks *ga penting). Intinya adalah, karena saya belum bisa membuktikan kalau pepatah itu salah maka untuk saat ini saya anggap itu benar.

Nah, saya rasa pepatah tentang tupai tadi cocok diterapkan ke pengendara sepeda motor. ‘Sepandai-pandai orang mengendarai motor, pasti pernah jatuh juga’. Kenapa saya menerapkannya hanya ke pengendara motor? Karena keyword-nya adalah ‘jatuh’ :D Kalau kendaraan darat yang rodanya lebih dua judulnya kan bukan jatuh, tapi tabrakan (kecuali kalau jatuh ke jurang ikut dihitung). Selain itu saya cukup sering menemui pengendara mobil yang sama sekali belum pernah tabrakan (alhamdulillah saya juga ga pernah ^^). Trus kalau kendaraan untuk perairan, judulnya juga bukan jatuh, tapi kelelep atau tenggelam. Sedangkan kendaraan udara, judulnya memang ‘jatuh’. Tapi sepertinya ‘supir’ kendaraan udara yang pernah menjatuhkan kendaraan dari udara persentasenya sangat kecil. Ya horor juga kalau misal semua pilot pasti pernah menjatuhkan pesawat @_@.

Haiissshhh..... panjang bener sih prolognya(self talk). Jadi intinya itulah kenapa saya menganalogikan pengendara motor sebagaimana tupai versi pepatah.

Dan daripada saya nggosipin orang lain, seperti biasa tulisan saya ini akan based on my true story ^^

Pertama kali saya belajar mengendarai motor adalah ketika kelas 1 SMP. Waktu itu saya belajar bukan dengan sukarela tapi DIPAKSA oleh bapak saya. Alasan bapak saya memaksa adalah supaya saya tidak terus-terusan manja minta diantar kesana kemari. Maka jadilah saya mengawali pelajaran mengendarai motor dengan mengendarai si Vega yang merupakan motor ibu saya saat itu. Dan ayo tebak dimana saya belajar mengendarai motor? ;)

Jalan depan rumah? Bukan!
Lapangan kampung? Bukan!
Jalan raya? Bukan!

Dan jawabannya adalah...... Tadaaaaaaa....... di lapangan tembak Sekolah Kepolisian Negara ^_____^

Hehehehehe.. Setelah beberapa sesi pelajaran mengendarai motor dari sang tutor (bapak saya), akhirnya saya kembali mengalami paksaan. Kali ini adalah paksaan untuk pergi dengan mengendarai motor sendiri tanpa didampingi siapapun. Awalnya saya menolak, tapi paksaan tadi betul-betul tidak bisa ditawar dan saya pun berpikir pasti akan ada hikmah dari semua paksaan itu (fyi, pas masih kecil saya ga doyan sayur trus dipaksa makan sayur sama bapak saya dan akhirnya sampai sekarang suka sayur). Akhirnya saya bersedia sesekali pergi les dengan mengendarai motor sendiri ;)

Oke... sekarang kita mulai masuk ke bahasan yang agak nyambung dengan judul, yaitu sepandai-pandai orang mengendarai motor pasti pernah jatuh juga. Berikut ini adalah pengalaman kecelakaan motor saya yang berhasil saya ingat. Maksud kecelakaan motor di sini adalah ketika motor mengalami kecelakaan dan saya terlibat di dalamnya entah sebagai pengendara ataupun penumpang.

  1. Kecelakaan motor yang pertama saya alami terjadi sebelum saya masuk TK. Saat itu saya dan kakak saya sedang dibonceng bapak dengan mengendarai motor Honda GL. Saya duduk di depan(di tangki) dan kakak saya duduk di belakang. Entah bagaimana detail kejadiannya, tiba-tiba kami bertabrakan dengan pengendara motor lain.Jalan penuh ceceran darah dan anak yang dibonceng si pengendara lain itu harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya kritis. Lalu bagaimana kabar bapak, saya, dan kakak? Bapak saya langsung ikut mengantar ke rumah sakit sedangkan saya dan kakak dititipkan ke pemilik toko yang berada di pinggir lokasi kejadian (pemilik toko ini adalah kenalan bapak saya). Kakak saya hanya mengalami beberapa luka gores dan alhamdulillah saya tidak terluka.
  2. Kali ke dua saya mengalami kecelakaan adalah ketika saya kelas 3 SMP. Cerita tentang kejadian ini diawali dengan saya yang pergi les biologi dengan mengenakan kaos kelas saya yang masih gress dan kinclong. Ketika les, teman-teman saya pada mengagumi kaos saya yang masih kinclong, karena kebanyakan kaos kelas mereka sudah bulukan. Dan waktu itu saya jadi besar kepala cuma gara-gara punya kaos kelas yang masih terlihat brandnew dan paling kinclong dibandingkan dengan milik yang lain. Dan apa yang terjadi? Sepulang les, saya yang belum terlalu mahir mengendarai motor itu tiba-tiba diserempet pengendara motor lain yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya jatuh terseret di jalanan aspal rusak yang becek karena baru tersiram hujan. Bagaimana kondisi saya? Kaos kelas saya rusak karena terkena noda lumpur yang walaupun dicuci berkali-kali tetap tidak bisa kembali seperti sedia kala dan menjadi kaos kelas yang terlihat paling usang dibandingkan dengan milik yang lain. Selain itu saya banyak mendapatkan lecet, wajah penuh lebam dan darah karena ada kulit yang sedikit robek. Itu kasus tabrak lari, dan akhirnya ada seorang bapak yang menawarkan mengantar saya pulang.
  3. Kecelakaan ke tiga saya terjadi ketika saya kelas 1 SMA. Waktu itu teman sekolah sekaligus teman les matematika saya yang bernama Tari baru saja dibelikan motor. Supra X yang sangat cling. Maka jadilah kami berdua mencoba jalan-jalan dengan mengendarai motor ini. Kami berboncengan dengan saya yang menjadi pengendara. Di suatu tikungan, saya ingin menyalip bemo(angkot) dari kiri dan akhirnya terserempet badan bemo dan kami jatuh ke trotoar. Itu kali pertama motor itu memperoleh goresan dan pelakunya adalah saya. 
  4.  Pengalaman ke empat terjadi ketika kelas 2 SMA. Kali ini cerita ‘jatuh’nya agak berbeda dari kisah-kisah sebelumnya. Karena yang jatuh di sini hanya motor saya dan saya tidak ikut jatuh. Lho, kok bisa???? Hehehehe.... begini ceritanya... Alkisah ketika itu saya baru saja dibelikan motor. Sebenarnya saya minta dibelikan Jupiter Z. Tapi ketika pulang sekolah tiba-tiba di garasi rumah sudah ada motor baru, namun bukan Jupiter Z melainkan Karisma berwarna silver. Waktu itu saya kecewa dan menyampaikan ketidaksukaan saya. Macam-macam lah alasannya.. mulai dari bodynya yang tinggi, berat, susah dikendalikan, bla bla bla.... pokoknya waktu itu saya benar-benar tidak bersyukur. Untung orang tua saya penyabar, jadi tidak keluar kata-kata seperti “dasar anak ga tau diuntung!!” ^^’ Saya manyun selama berhari-hari hingga pada suatu hari saya mendatangi sekolah tempat ibu mengajar(SLB B Singaraja) dan memarkir si Karisma di pinggir selokan/got deppan sekolah. Turun dari motor baru saya menyadari kalau struktur tanah tempat saya memarkirkan motor itu miring dan membuat motor menjadi tidak seimbang. Saya refleks menangkap motor saya yang hampir jatuh dan saya pegang di bagian sisi stang. Namun apa mau dikata, posisi saya dan motor saat itu benar-benar tidak mendukung. Kalau saya ngotot terus memegang motor saya, bisa-bisa saya ikut jatuh ke selokan. Akhirnya dengan sedih saya lepaskan pegangan saya ke stang si Karisma dan akhirnya si Karisma nyemplung ke selokan (_ _’)
  5. Sejak kasus motor saya nyemplung selokan itu, saya jadi lebih bersyukur dan berhenti manyun dan berhenti membenci si motor. Untuk memperkuat rasa cinta saya ke si Karisma, saya mengajukan proposal penggantian velg menjadi velg racing ke bapak saya dan alhamdulillah di-acc. Jadilah si Karisma DK 2288 VP(sekarang jadi DK 2202 UL) makin cantik dengan velg racing barunya yang berwarna putih. Beberapa hari setelah berganti racing saya mengendarai si Karisma ke acara pengajian PII. Teman-teman pengajian langsung pada mengomentari dan memuji velg baru saya dan saya pun jadi bangga dan makin memamerkannya. Dan sepertinya lagi-lagi Allah menegur saya secara langsung. Sepulang dari pengajian itu saya mengalami kecelakaan. Saat itu saya tidak mengenakan helm. Karena pergi pengajian, maka saya mengenakan jilbab, dan karena mengenakan jilbab, maka saya tidak memakai helm karena di daerah saya orang yang mengenakan jilbab tidak dikenai kewajiban mengenakan helm(sampai sekarang pun akan sangat jarang dijumpai muslimah berjilbab yang memakai helm ketika mengendarai motor). Dengan kondisi tidak berhelm itu saya mengendarai motor dengan kecepatan agak tinggi (sekitar 70km/jam) dan tiba-tiba di depan saya ada motor yang dengan mendadak belok tanpa menyalakan lampu reting(kalaupun menyalakan, baru dinyalakan bersamaan ketika belok). Tak terhindarkan lagi, walaupun sudah berusaha mengerem saya tetap menabrak motor itu. Sepertinya saya mengalami benturan keras di kepala terbukti dengan saya yang sempat tidak sadarkan diri. Selain tida sadarkan diri dan luka di sekujur badan, ayo tebak apa lagi yang terjadi? Sepertinya pembaca sudah bisa menebak ;) Yap, velg racing yang masih baru dan saya banggakan dan saya pamerkan kemana-mana itu patah. Padahal usianya belum genap seminggu (T________T). Betul-betul teguran dari Allah. Saat itu saya sempat trauma dan tidak mau mengendarai motor selama berminggu-minggu.
  6. Kecelakaan saya yang ke enam dan semoga saja juga yang terakhir baru saya alami belum lama ini. Tepatnya tanggal 7 Maret 2013. Kali ini saya dibonceng oleh sahabat saya. Terjadi ketika kami pulang dari suatu acara. Sesaat sebelum kejadian, kawan saya ini minta tolong saya untuk mengsms seseorang. Maka saya melepas sarung tangan dan mengambil ponsel. Ketika saya mengangkat kepala lagi untuk mengatakan sesuatu, pemandangan yang saya lihat saat itu motor yang kami naiki terhimpit bis di sebelah kanan dan di depan ada mobil yang sepersekian detik lagi akan kami tabrak kecuali kalau tiba-tiba motor yang kami naiki bisa mengeluarkan sayap. Ternyata motor itu memang tidak memiliki sayap, karena kami tetap menabrak mobil tadi dan tiba-tiba saya dalam posisi tereletak di aspal. Tidak lama kemudian kami diangkut ke UGD terdekat. Oh, kenapa saya menggunakan diksi ‘diangkut’, bukan ‘dibawa’??? Karena kami betul-betul ‘diangkut’ dengan mobil pick-up polisi yang sirinenya berbunyi dengan lantang. Kalau misal kami diangkut dengan ambulans, saya tidak akan memakai diksi ‘diangkut’, tapi ‘dibawa’. Setalah selesai mendapatkan pertolongan pertama di UGD barulah saya mendapat cerita lengkap kronologis kejadian kecelakaan kami dari saksi mata yang mengendarai motor di belakang kami dan tidak lain dan tidak bukan memang teman kami sendiri. Berdasarkan cerita yang saya dapatkan, setelah berhenti di lampu merah, motor kami berusaha menyalip sebuah bus(sebut saja SDR) dan kami menyalip dari kiri. Namanya juga mau nyalip, tentu saja motor tancap gas. Belum  selesai menyalip, tiba-tiba si bis kekiri dan alhasil menyenggol kami. Dan di depan kami ada mobil yang di parkir agak di badan jalan dan tidak jauh dari traffict light. Yah, sudah tidak terhindarkan lagi. Setelah tersenggol bis, kami menabrak sisi kanan mobil dan lalu terpental lagi ke badan bis. Fyi, motor yang kami naiki terlindas bis lho... O.o

    Itu tadi kisah-kisah saya seputar kecelakaan motor. Sebetulnya masih ada beberapa pengalaman ‘jatuh’ lain tapi tidak saya tuliskan karena kisahnya tidak terlalu signifikan/berkesan.
    Betul kan, sepandai-pandai orang mengendarai motor pasti pernah jatuh juga. Jadi jangan pernah takut jatuh, karena setelah terjatuh kita bisa lbangkit kembali ^^ Ngomong-ngomong soal bangkit, dari pertama kali saya jatuh, keluarga saya tidak mengizinkan saya untuk berlama-lama trauma mengendarai motor. Jadi setelah luka-luka saya sembuh biasanya saya langsung dipaksa untuk berani mengendarai motor lagi. Itu yang membuat saya salut dengan mereka, terutama kedua orang tua saya. Walaupun mereka menangis dan khawatir tiap kali melihat saya yang babak belur karena kecelakaan, mereka bukan melarang saya mengendarai motor, tapi justru ‘memaksa’ saya untuk segera bangkit lagi, tentu saja dengan wanti-wanti agar lebih berhati-hati.



Selayaknya kisah yang baik, seharusnya bisa diambil hikmah atau ibroh dari kisah itu. Mungkin sebagian pembaca sudah bisa menemukannya sendiri, tapi tidak ada salahnya juga saya sampaikan beberapa ibroh yang bisa saya dapat.


  1. Jangan terlalu bangga akan sesuatu, karena semuanya adalah milik Allah dan Allah bisa mengambilnya kapanpun entah dengan cara yang halus atau cara yang keras.
  2. Tidak boleh terlalu membenci seuatu, karena bisa jadi kau menyesal ketika terjadi apa-apa pada sesuatu yang kita benci tadi.
  3. Utamakan menyalip dari kanan, karena menyalip dari kiri sangatlah tidak direkomendasikan.
  4. Selalu gunakan helm yang berkualitas dan kencangkan gesper pada tali hingga berbunyi ‘klik’. Ingat, helm dipakai bukan sebagai hiasan atau ‘tameng’ jika ada polisi, tapi dipakai untuk melindungi diri kita sendiri. Tangan atau kaki putus bisa disambung kaki atau  tangan buatan. Tapi kalau kepala putus tidak bisa diganti dengan kepala buatan.
  5. Gunakan pakaian yang tertutup lengkap(sepatu, sarung tangan, masker, dll), terutama jika berkendara jarak jauh. Bila (na’udzubillah) Anda jatuh, benda-benda tadi bisa membantu melindungi Anda.
  6. Jangan suka belok mendadak dan ngereting mendadak kalau tidak ingin ditabrak kendaraan yang ngebut dari belakang.
  7. Jangan memarkir mobil di badan jalan, apalagi di dekat area traffic light, jika Anda tidak ingin mobil Anda tiba-tiba disruduk.
  8. Jangan lupa untuk selalu berdo’a sebelum memulai perjalanan, karena apapun bisa terjadi dan kita harus bertawakal pada Allah.
  9. dan lain lain (monggo dipikir sendiri)



Benar vs Salah




                                     sumber gambar: seestern2.multiply.com





Prolog

"Akhir bulan...
waktunya para Polisi itu melakukan "KORUPSI" dengan caranya...
-_-' Ketilang..." (by Fulan)

Prolog di atas ini saya kutip dari status seseorang. Tidak secara khusus bermaksud menyindir orang yang bersangkutan. Hanya saja tidak jarang saya menjumpai komentar seperti itu. Jujur, komentar-komentar itu selalu membuat saya miris.

Beberapa tahun lalu, di english class yang pernah saya ikuti, sang dosen meminta mahasiswa untuk menceritakan pengalaman yang paling berkesan. Salah seorang teman saya menceritakan tentang pengalamannya hampir ditilang polisi, dan bagaimana ia berhasil 'menyuap' polisi tadi hingga tidak jadi ditilang secara resmi. Di akhir narasinya, sang mahasiswa tadi memberikan closing statement 'fu*k in Police'. Sontak sang dosen menegur mahasiswa tersebut di saat itu dan di tempat itu juga. Beliau menegur keras mahasiswa tadi, karena mahasiswa tersebut bukannya mengakui kesalahannya, malah mencari kambing hitam. Pertanyaan pertama, mengapa ia sampai melanggar aturan?? Pertanyaan kedua, mengapa ia mencoba 'menyuap' polisi tersebut? 'this is not about the police man, but about you!!!!'. Dosen tersebut menekankan bahwa tindakan mahasiswa tadi adalah tindakan yang sangat rendah. Wow.. saat itu saya benar-benar terkejut. Karena yang saya ketahui, lifestyle sang ibu dosen tadi tidak bisa dibilang konvensional, dan tidak untuk ditiru. Tapi ternyata ada beberapa prinsip hidup beliau yang sangat kuat, termasuk tentang yang benar dan yang salah.

Kisah kedua, yaitu pengalaman saya sendiri. Ketika masih SMA dulu, saya pernah ditilang di suatu razia, karena tidak membawa STNK. Mungkin karena masih bocah dan labil, setelah itu saya mengadu ke bapak saya. Saat itu saya berpikir, 'bapak saya kan polisi'. Semula saya mengira bapak saya akan menyelesaikan urusan tilang menilang itu. Tapi ternyata apa tanggapan bapak saya?? Dengan tenang beliau menyuruh saya untuk bertanggung jawab terhadap kesalahan yang sudah saya buat, karena saya memang salah.  Saat itu saya langsung malu karena sempat berpikir untuk melakukan 'jalan pintas'. Akhirnya saya menyelesaikan urusan tilang menilang itu sendiri, dengan penuh kesadaran.

Ibroh yang bisa saya ambil dari dua cerita tadi adalah, sebelum menyalahkan orang lain, evaluasi dulu diri sendiri. Oke, mungkin orang lain memang salah. tapi sebelum menegur orang lain, tegurlah diri kita terlebih dulu.  Ini seperti kasus orang yang menolak ditangkap karena sudah mencuri, dengan alasan ada temannya yang mencuri lebih banyak tapi tidak ditangkap. Masalah 'salah' dan 'benar' itu adalah masalah yang prinsipil yang seharusnya bersifat universal. Apalagi sebagai muslim, katakanlah yanghaq itu haq, dan yang batil itu batil.

Bila kita merasa keadaan Indonesia saat ini masih bobrok, ayo kita perbaiki bersama-sama. Jangan sampai kita menuding-nuding pihak lain bobrok atau korup, tapi ternyata kita juga turut berpartisipasi aktif dalam hal tersebut. Bila kembali ke konteks tilang menilang tadi, prinsipnya adalah:
  1. Jangan melanggar kalau tidak ingin ditilang
  2. Jangan mau ditilang kalau memang tidak melanggar. Karena kita punya hak untuk bicara.
  3. Bila toh akhirnya memang ditilang karena melanggar, jalani sesuai prosedur. Ikuti sidang di pengadilan. Jangan memilih 'jalan tol', karena itu berarti turut berpartisipas dalam membangun kebobrokan.
Epilog
"mang ya lembaga terkorup No.2 (Kepolisian) ada2 aja gaweannya.
seharunya slogan polisi bukan "Melindungi dan melayani" tapi "Menilang dan korupsi
susah pak. polisi mah udah kebal coz udh kebnykan makan uang haram."

Epilog tadi merupakan salah satu komentar yang ada di status tersebut. Ini mengingatkan saya pada perkataan seorang ustadz, tentang bagaimana seharusnya kita mendo'akan kebaikan untuk orang yang kita rasa berada di wilayah rawan, bukan malah makin memperparah dengan ejekan. Oke, mungkin kepolisian memang lembaga terkorup ke 2 di Indonesia. Tapi apa lantas itu bisa menjadi pembenaran bagi kita untuk menggeneralisir sampai ke akar rumput. Banyak lho polisi-polisi di pelosok Indonesia yang benar-benar masih memegang teguh idealismenya... Orang-orang inilah yang seharusnya kita do'akan agar dikuatkan sehingga bisa bertahan dan memperbaiki dari dalam. Saya memang berasal dari keluarga polisi, dan mereka juga menyadari kalau ada banyak yang harus diperbaiki dalam tubuh POLRI. Tapi kalau semua orang 'baik' menghindar jauh-jauh, siapa yang akan memperbaiki??? dan sekali lagi, amar ma'ruf nahi munkar itu harus dimulai dari diri sendiri, dan membentuknya sebagai karakter kita.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk:
  1. Bapak saya, yang menjalani 40  tahun sebagai Polisi dan terus berusaha memperjuangkan idealismenya walau tidak jarang mendapat hambatan yang sangat keras, dan senantiasa menebar syi'ar islam dimanapun beliau berada.
  2. Kakak pertama saya, yang juga berusaha mempertahankan idealismenya sebagai polisi, walaupun itu berakibat teror fisik dan mental, yang sekarang tetap gencat mentarbiyah/membina pemuda-pemuda di kampung saya :)
  3. Kakak kedua saya, yang tetap bertahan sebagai polisi di Sulawesi, dan berusaha memperbaiki sekelilingnya. yang sudah ditawari untuk bisa pindah ke Bali tapi menolaknya karena tidak mau menggunakan koneksi yang bisa dibilang termasuk nepotisme.
  4. Kakak ke 3 saya, yang menjadi polisi sekaligus da'i di NTT, yang tidak ragu menceramahi siapa saja yang bisa diceramahi ;p
  5. Ibu dan semua kakak ipar saya, yang walaupun awalnya akhwat-akhwat sholihah ini pada anti-polisi, tapi akhirnya berlapang dada setelah menjadi istri polisi dan memberikan dukungan penuh. Karena saya percaya bahwa ada perempuan yang luar biasa dibalik laki-laki yang hebat :)
  6. Orang yang menulis status yang saya kutip ini, karena Anda menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini :)
Tetaplah menebarkan syi'ar islam dimanapun kalian berada, dan semoga Allah memberi keistiqomahan... saya yakin, kita bisa memberi perubahan ke arah yang lebih baik, dengan peran kita masing-masing ^^

Sleman, 1 April 2011

Tidak Adakah Tempat untuk Mereka?? -Potret Masyarakat-

sumber gambar: watatita.wordpress.com




Suatu siang, saya pergi ke bandara Adi Sucipto untuk mengantarkan saudara sepupu yang akan mudik ke Palu. Karena barang bawaannya banyak, maka diputuskan untuk naik taxi. Ketika sudah di bandara, dengan cepat saya memikirkan akan pulang naik taxi lagi atau trans Jogja. Beberapa pertimbangan jika naik taxi adalah sebagai berikut:

  1. Ketika itu matahari sangat terik. Akan sangat nyaman kalau bisa ngadem sepanjang perjalanan.
  2. Saya akan bisa sampai tujuan dengan cepat. Kebetulan setelah dari situ saya memang ada agenda yang cukup asasi.
  3. Ongkos taxi pulang sekitar Rp.40.000,-. Rasanya agak mubazir kalau penumpangnya cuma saya.
Sedangkan jika naik trans Jogja, pertimbangannya adalah:
  1. Murah meriah, cukup Rp.3000,-
  2. Dari halte trans Jogja, bisa dilanjutkan dengan naik becak. Dan saya sedang sangat ingin naik becak ^^
  3. Tapi makan waktu cukup lama.. Bisa-bisa saya terlambat menghadiri agenda selanjutnya, dan saya tidak mau terlambat.
Ternyata pesawat yang akan dinaiki sepupu saya berangkatnya dimajukan, lebih awal 1 jam. Maka saya memutuskan untuk naik trans Jogja, karena insya Allah waktunya mencukupi.

Ketika sudah sampai halte bandara, ternyata harus menunggu bus cukup lama, dan halte lumayan penuh dengan calon penumpang.  Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya bus 3A yang saya nanti muncul juga. Penumpang berdesakan untuk masuk. Saya beruntung, karena melihat ada 1 kusi kosong, dan langsung saya duduki. Beberapa detik kemudian ada seorang wanita paruh baya yang masuk ke bus dan berdiri di depan saya. Tentu saja spontan saya bangkit, karena saya yang jauh lebih muda dari ibu itu tentunya jauh lebih kuat untuk berdiri di dalam bus.

Ternyata berdiri di dalam bus tidaklah mudah, kerena busnya agak ugal-ugalan. Ketika tidak harus berkonsentrasi menahan keseimbangan, saya bisa dengan leluasa mengamati para penumpang. Ternyata penumpang yang berdiri lebih banyak mbak-mbak, dan penumpang yang duduk lebih banyak mas-mas. Pemandangan yang ironis itu sudah mulai membuat hati saya sakit, memikirkan ketidakpekaan para mas-mas ini. Helloooooo  mas-mas, badan kalian lebih kuat dan lebih tinggi, jadi lebih memungkinkan untuk berdiri dan bergelaantungan di pegangan yang tinggi itu..... Tapi kalian tetap tidak bergeming.... Bahkan ketika ada seorang ibu yang menggendong bayinya masuk ke dalam bus pun, yang merelakan tempat duduknya adalah mbak-mbak... dan mas-mas tadi tetap duduk manis... Juga ketika ada seorang kakek tua yang masuk ke dalam bus, kalian juga tetap diam... 

Sungguh, saya menahan tangis melihat pemandangan itu.... Dimanakah rasa kemanusiaan kalian?? Dimanakah rasa empati kalian???  Inikah potret masyarakat kita?? Yang cuek ketika melihat orang tuna netra kebingungan di halte bus.... Yang tidak peduli ketika ada ibu-ibu paruh baya, kakek tua, ataupun ibu yang menggendong anak harus berdiri di bus padahal mereka sangat tidak mungkin untuk berpegangan ke atas... Tidak kah hati nurani kalian terusik melihat semua itu?